alexametrics

Make a Match Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Oleh: Hartatik, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Hakikat Kurikulum 2013 adalah penyempurnaan dari kurikulum berbasis kompetensi yang menyempurnakan standar kompetensi lulusan dengan dikembangkan sesuai tuntutan kekinian Indonesia dan masa depan sesuai kebutuhan.

Tujuan Kurikulum 2013 adalah mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hiduup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, barbangsa dan bernegara.

Pembelajaran di kelas 1 SD Negeri Satriyan 01, Kecamatan Tersono pada kompetensi dasar mengenal simbol-simbol Pancasila dalam lambang negara Garuda Pancasila, tema kegiatanku subtema kegiatan pagi hari hasil belajar siswa rendah.

Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh minat belajar siswa rendah, media pembelajaran yang digunakan kurang memadai dan model pembelajaran yang digunakan kurang tepat.

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar tersebut penulis mencoba menerapkan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar.

Model pembelajaran yang disajikan hendaknya benar-benar mengaktifkan siswa dan mendorong untuk berpikir kritis dan menyelesaikan masalah.

Di dalam model pembelajaran juga dimasukkan berbagai metode yang digunakan dalam proses pembelajaran. Bahkan secara lebih detail banyak yang mencantumkan media-media yang digunakan dalam proses pembelajaran tersebut. Penulis mencoba menggunakan model pembelajaran Make a Match.

Model pembelajaran Make a Match adalah sistem pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sosial terutama kemampuan bekerja sama, kemampuan berinteraksi di samping kemampuan berpikir cepat melalui permainan mencari pasangan dengan dibantu kartu (Wahab, 2007:59).

Make a Match merupakan salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif. Suprijono (2011:54) mengatakan, “Pembelajaran kooperatif adalah bentuk pembelajaran yang lebih dipimpin atau diarahkan oleh guru dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan serta menyediakan informasi yang dirancang untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dimaksud.”

Hal-hal yang perlu disiapkan dalam pembelajaran Make a Match adalah kartu-kartu. Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu pertanyaan dan kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaan tersebut (Suprijono, 2011:94).

Langkah-langkah model pembelajaran Make a Match adalah sebagai berikut: pertama, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Kedua, kelompok pertama merupakan kelompok pembawa kartu berisi pertanyaan, kelompok kedua merupakan kelompok pembawa kartu berisi jawaban, dan kelompok ketiga merupakan kelompok penilai.

Ketiga mengatur posisi kelompok, upayakan kelompok pertama dan kedua saling berhadapan. Jika masing-masing kelompok sudah berada di posisi yang telah ditentukan, maka guru membunyikan peluit sebagai tanda agar kelompok pertama maupun kelompok kedua saling bergerak bertemu, mencari pasangan pertanyaan jawaban yang cocok.

Berikan kesempatan mereka untuk berdiskusi. Keempat, hasil diskusi ditandai oleh pasangan-pasangan antara anggota kelompok pembawa kartu pertanyaan dan anggota kelompok pembawa kartu jawaban. Kelima, pasangan-pasangan yang sudah terbentuk wajib menunjukkan pertanyaan jawaban kepada kelompok penilai. Kelompok ini kemudian membacakan di depan kelas apakah pasangan pertanyaan-jawaban itu cocok (Suprijono, 2011:58).

Penggunaan model pembelajaran Make a Match pada kompetensi dasar mengenal simbol-simbol Pancasila dalam lambang negara Garuda Pancasila di kelas 1 SD Negeri Satriyan 01 Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang terbukti dapat menciptakan suasana aktif dan menyenangkan.

Materi yang disampaikan menjadi lebih menarik perhatian siswa. Suasana pembelajaran akan tumbuh, kerja sama antarsiswa terwujud dinamis. Memunculkan dinamika gotong-royang sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. (ms1/lis)

Guru SDN Satriyan 01, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Menikmati Kedamaian Bukit Cinta Rawa Pening

Kera Liar Satroni Rumah Warga

Bupati Dico: Kader Ansor Potensi Jadi Pemimpin

Pohon Tumbang Timpa Pengendara Motor di Batang

Populer

Artikel Menarik Lainnya