alexametrics

Peran Orang Tua dalam Pelaksanaan Pembelajaran Daring

Oleh : Sri Suryani, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Membaca mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan membaca merupakan bekal dan kunci utama keberhasilan anak didik dalam menjalani kegiatan pendidikan dan kehidupan selanjutnya di masyarakat.

Karena kegiatan membaca merupakan salah satu proses tranformasi ilmu melalui cara melihat dan memahami isi yang tertulis di dalam buku pengetahuan maupun pelajaran. Hal tersebut disebabkan berbagai faktor, baik pribadi maupun secara umum.

Secara pribadi, biasanya, berkaitan dengan kurangnya motivasi dalam diri siswa untuk menanamkan bahwa membaca itu suatu kegiatan yang perlu dan bermanfaat. Secara umum, faktor yang sangat berpengaruh besar adalah lingkungan sekitar siswa yang jauh dari kebiasaan atau budaya membaca.

Menurut Rachmananta (2001:1) kondisi minat baca siswa yang masih rendah ini disebabkan beberapa faktor. Yaitu faktor budaya, lingkungan, situasi pendidikan di kelas, kesenangan berkumpul, menariknya media elektronik, dan kurangnya bahan bacaan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan siswa.

Baca juga:  Kaya Perbendaharaan Kata dengan Cerpen Anak

Hal yang perlu diperhatikan oleh guru. Di antaranya harus dapat memilih dan menggunakan sumber belajar dengan sebaik-baiknya.

Sumber belajar yang dipilih oleh guru dalam pembelajaran adalah buku bacaan yang berisi gambar-gambar menarik. Seperti dikatakan oleh Soejanto Sandjaja (1998:2) anak usia 5 sampai 6 tahun senang mendengarkan cerita. Usia 8 sampai 9 tahun menyukai buku bacaan dengan komposisi gambar dan tulisan yang seimbang.

Penggunaan alat peraga bergambar merupakan salah satu faktor yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan minat baca dan intensitas dalam pelajaran belajar bahasa Indonesia. Minat dapat dibangkitkan dan dipelihara oleh guru.

Orang tua terutama guru kelas Sekolah Dasar mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam usaha mengembangkan minat kebiasaan membaca. Menumbuhkan minat baca pada siswa berguna untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku dan ilmu. Anak yang cinta buku, cinta ilmu, diharapkan akan memiliki pengetahuan dan wawasan luas untuk menghadapi tantangan hidupnya di dunia yang semakin keras.

Baca juga:  Meningkatkan Hasil Belajar Fiqih dengan Metode Action Learning

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau “pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997).

Alat peraga bergambar merupakan alat bantu guru pada saat mengajar. Keberadaan media dalam pengajaran teramat penting sehingga menjadi komponen pengajaran. Alat peraga bergambar guru akan menjadi terampil dan cerdas dalam menyampaikan materi ajar untuk mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan.

Anna Yulia (2005) mengatakan buku dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitas. Buku komik dan cerita bergambar sangat mempengaruhi imajinasi dan kreativitas anak- anak yang sering membacanya. Pada masa ini anak bersikap egosentrik sehingga mereka menyukai isi cerita yang berpusat pada kehidupan di seputar dirinya.

Pada usia 8 – 12 tahun anak menyukai isi cerita yang lebih realistis. Menurut Thoifuri (2008:172) media pembelajaran adalah salah satu dari media yang 24 dapat membantu anak- anak dalam belajar.

Baca juga:  Rutinitas Supervisi dapat Meningkatkan Kinerja Guru

Alat peraga merupakan media pengajaran yang mengandung atau membawakan konsep-konsep yang dipelajari Media pengajaran diera sekarang. Hadirnya media pembelajaran merupakan jembatan agar konsep yang abstrak bisa menjadi konkret.

Erni Setyawati (2007:5) mengatakan media digunakan untuk membawa pesan dengan suatu tujuan. Media pengajaran memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif.

Penggunaan alat peraga gambar dalam pembelajaran siswa dapat belajar lebih banyak,belajar lebih lama. Melengkapi rangsangan yang efektif untuk belajar, menjadikan belajar lebih konkret (nyata), membawa dunia ke dalam kelas, dan memberikan pendekatan-pendekatan bayangan yang bermacam-macam dari satu subjek yang sama (Suyatinah dkk, 2003). (pm1/lis)

Guru SDN Bojong 1, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya