alexametrics

Pembelajaran Menyenangkan dengan Story Telling

Oleh : Ismaryanti

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BELAJAR Bahasa Indonesia di kelas III SDN 01 Wiroditan melalui membaca, menulis, dan mendengarkan, kadang membosankan tanpa metode dan proses pembelajaran kreatif. Khususnya untuk mencapai tujuan pembelajaran pada kompetensi dasar menguraikan pesan dalam dongeng yang disajikan secara lisan, tulis, dan visual, diperlukan metode dan proses pembelajaran kreatif. Pada pembelajaran materi itu, siswa masih pasif, kurang bersemangat dan kurang kreatif, siswa belum maksimal menerima materi dari guru, siswa belum mempunyai kemampuan menyapaikan pesan secara lisan, tulis, dan visual.

Karena itu diperlukannya proses pembelajaran yang kreatif yang mengacu pada tujuan dan karakteristik kurikulum 2013. Maka guru menggunakan metode story telling untuk mencapai kompetensi pembelajaran. Penggunaan metode story telling diharapkan dapat dijadikan proses halus untuk menangkap sebuah isi pesan/nasehat tanpa merasa dinasehati.

Collin (Isbell dkk, 2004) menegaskan story telling mempunyai banyak kegunaan dalam pendidikan utama siswa. Dia menyatakakan story dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk berpikir. Joseph Campell, seorang akademisi yang meneliti tentang story telling dari seluruh dunia, menyampaikan bahwa story telling menjadi sangat kaya dan sarat pesan serta pelajaran hidup yang dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan hidup.

Baca juga:  Mempermudah Pembelajaran Matematika melalui Media Puzzle Angka

Story telling merupakan suatu proses kreatif yang mempunyai kemampuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang benar untuk siswa. Menurut Geiser (1997) menyebutkan ada tiga tahapan dalam story telling, untuk mengetahui lebih jelas berikut ini langkah-langkah story teller, 1) kegiatan pembuka, storyteller/guru akan menarik fokus siswa dengan sebuah permainan konsentrasi, sehingga tercipta sebuah kontak dua arah antara guru dan siswa. 2) Kegiatan inti, yaitu kegiatan bercerita.

Guru membawakan cerita dengan memperhatikan kata-kata, gestur tubuh, dan permainan suara sehingga menampilkan gambaran visual dalam pikiran siswa sebagai audience. Cerita yang akan diberikan satu judul dongeng yang mengandung pesan dikaitkan dengan materi dan pengalaman siswa. 3) Kegiatan penutup, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya, mengungkapkan pesan secara lisan mengenai cerita yang telah didengarkan. Kemudian memberikan kesempatan pada siswa untuk menguraikan isi cerita secara visual berupa gambar.

Baca juga:  Permainan Lompat Tali dapat Meningkatkan Hasil Belajar dalam Lompat Jauh

Siswa juga diberi kesempatan untuk menguraikara pesan dalam cerita secara tertulis di bawah gambar. Kegiatan ini sebagai bentuk operasional dalam memberikan pengalaman yang bermakna setelah mendengarkan cerita. Kegiatan guru berikutnya adalah memberi umpan balik dan penguatan dari hasil tugas lisan, visual, maupun tulis dari siswa.

Pada saat story telling ada beberapa faktor yang menunjang berlangsungnya proses story telling agar menjadi menarik untuk disimak siswa, antara lain, 1) kontak mata, guru memandang siswa. Siswa akan merasa diperhatikan dan diajak berinteraksi. Siswa tertarik dan menyimak cerita. 2) Mimik wajah, dapat menunjang hidup atau tidaknya cerita. 3) Gerak tubuh, dapat mendukung menggambarkan cerita lebih menarik. 4) Suara, bisa menirukan suara dari tokoh, memperagakan suara suatu peristiwa. 5) Kecepatan berbicara, supaya tempo sama dan ajeg. 6) Alat peraga, agar lebih menarik dan siswa dapat langsung melihat bentuk visual dari cerita yang disampaikan.

Baca juga:  Membuat Pembelajaran Menyenangkan dengan Pembelajaran Deferensiasi

Pelaksanakan pembelajaran mupel bahasa Indonesia pada KD menguraikan pesan dalam dongeng yang disajikan secara lisan, tulis, dan visual, menggunakan metode story telling dapat mencapai tujuan pembelajaran, selaras dengan tujuan dan karakteristik kurikulum 2013. Metode story telling mempunyai kelabihan, 1) berlangsung kreatif dan tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan. 2) Pembelajaran lebih mengaktifkan siswa, menumbuhkan keberanian siswa, membangkitkan semangat siswa, menumbuhkembangkan kemampuan pengetahuan, dan keterampilan siswa. 3) Mudah diterimanya unsur-unsur pesan dari masyarakat melalui pengalaman belajar terencana dimana peserta didik dapat menerapkan pesan dalam cerita dalam kehidupan sehari-hari. (ra2/ida)

Guru SDN 01 Wiroditan, Kecamatan Bojong, Kabupatean Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya