alexametrics

Belajar Asyik Struktur Jaringan Tumbuhan dengan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi

Oleh : Eny Lestari, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Guru sebagai ujung tombak pendidikan harus selalu meningkatkan kompetensi diri. Selalu bisa berpikir kreatif dan inovatif dalam menjawab permasalahan yang berkembang.

Teknologi semakin canggih. Guru dituntut dapat mengintegrasikan kompetensi dasar pelajaran dengan teknologi. Namun tetap mengedepankan pembentukan dan penguatan karakter peserta didik.

Pandemi Covid-19 berada di tahun kedua, dengan kondisi daya serap pembelajaran yang belum sesuai harapan. Peran teknologi pembelajaran dengan berbasis IT sangat dibutuhkan. Bahkan menjadi satu-satunya media yang dapat menjaga berlangsungnya pembelajaran.

IPA merupakan mata pelajaran yang tidak bisa terlepas dengan kegiatan-kegiatan observasi, eksplorasi dan kegiatan lainnya dalam proses pembelajarannya. Pembelajaran jarak jauh yang dilakukan saat ini harus memuat pula peningkatan kompetensi peserta didik, baik kemampuan kognitif maupun afektif.

Untuk mempersiapkan peserta didik di abad 21 harus juga terus ditingkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Berpikir tingkat tinggi menurut Resnick (1987) adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar.

Baca juga:  Memahami Sistem Peredaran Darah Manusia melalui Metode NHT

Keterampilan ini juga digunakan untuk menggarisbawahi berbagai proses tingkat tinggi menurut jenjang taksonomi Bloom. Menurut Bloom, keterampilan dibagi menjadi dua bagian. Pertama keterampilan tingkat rendah yang penting dalam proses pembelajaran. Yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), dan menerapkan (applying). Kedua, diklasifikasikan ke dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi berupa keterampilan menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating).

Pada semester gasal kelas VIII terdapat Kompetensi Dasar Menganalisis keterkaitan struktur jaringan tumbuhan dan fungsinya. Serta teknologi yang terinspirasi oleh struktur tumbuhan. Agar dapat mencapai indikator inti dari KD tersebut dituntut bentuk pembelajaran yang menerapkan ranah kognitif C4. Yaitu memecah materi ke dalam bagian-bagiannya dan menentukan bagaimana bagian-bagian itu terhubungkan antarbagian dan ke struktur atau tujuan keseluruhan.

Baca juga:  Membuat Poster 3M Mudahkan Siswa Pahami Pencegahan Covid-19

Mencapai indikator tersebut menerapkan keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai problem solving. Keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai problem solving diperlukan dalam proses pembelajaran baik secara daring maupun secara luring. Karena pembelajaran yang dirancang dengan pendekatan pembelajaran berorientasi pada keterampilan tingkat tinggi tidak dapat dipisahkan dari kombinasi keterampilan berpikir dan keterampilan kreativitas pemecahan masalah.

Keterampilan pemecahan masalah memiliki keinginan kuat untuk memecahkan masalah yang muncul pada kehidupan sehari-hari. Peserta didik secara individu akan memiliki keterampilan pemecahan masalah yang berbeda dan dipengaruhi beberapa faktor.

Menurut Mourtos, Okamoto, dan Rhee (16), ada enam aspek yang dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana keterampilan pemecahan masalah peserta didik, yaitu pertama menentukan masalah.

Misalnya peserta didik digiring untuk memperhatikan struktur tubuh tumbuhan yang mirip dengan suatu alat atau teknologi yang digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Mengambil contoh paling sederhana adalah permukaan daun yang mengkilap.

Baca juga:  Layanan Bimbingan Konseling Berbasis Microsoft Teams 365

Kedua, mengeksplorasi masalah. Pada tahap ini siswa diminta mencari teknologi yang mirip dengan daun yang mengkilap. Contohnya sepeda motor yang dilapisi wax.

Ketiga merencanakan solusi. Tahap ini peserta didik dibimbing untuk mengembangkan rencana memecahkan masalah, dengan mencari informasi fungsi dan kegunaan wax dan mencari informasi tentang fungsi dari lapisan kutikula atau lapisan lilin pada daun.

Keempat melaksanakan rencana. Peserta didik menerapkan rencana yang telah ditetapkan yaitu dengan melapisi atau mencobakan wax pada suatu objek.

Kelima memeriksa solusi. Siswa menganalisis apa fungsi dari wax yang dioleskan pada objek tersebut. Keenam mengevaluasi. Pada langkah ini, peserta didik menganalisis kegunaan wax yang dianalogikan pada permukaan daun. Dan dapat mengomunikasikan hasil solusi tersebut. (ms1/lis)

Guru SMP Negeri 1 Srumbung, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya