alexametrics

Pembelajaran Karakter Musik Tuntamu

Oleh: Giyatno, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Artikel ini sebenarnya lanjutan dari model pembelajaran antem (antar teman) yang pernah terbit sebelumnya, namun kami akan memberikan gambaran bahwa masa pandemic memberikan dampak yang besar terhadap proses pembelajaran.

Pandemi juga memaksa kebijakan untuk memberikan batasan-batasan sosial termasuk dalam proses belajar mengajar. Khusus pada bidang praktik musik untuk memahami situasi proses praktik pada masa pandemic dibutuhkan sebuah evaluasi yang komprehensif.

Melalui evaluasi proses belajar mengajar praktik musik yang dilakukan memiliki tujuan untuk mengetahui respons siswa terhadap praktik musik secara daring.

Selain penting untuk membentuk bagaimana model proses pembelajaran praktik musik pada masa pandemi atau kondisi yang memiliki keterbatasan model belajar mengajar tatap muka (luring).

Pertama yang harus dilakukan adalah benar-benar memanfaatkan waktu untuk menyimak dan membaca cara belajar bermain musik, yang akan kami ulaskan berikut ini.

Pastikan dalam mempelajari cara belajar bermain musik kolaborasi yang benar, dan sempatkan waktu untuk pelajari keterampilan dasar dalam bermain berbagai macam alat music. Lakukanlah hal tersebut dengan mendapatkan pengetahuan dari antar teman dan kita mendampingi tentunya.

Penulis menerapkan pembelajaran karakter tuntamu pada SMP N13 Semarang mata pelajaran seni budaya, mencoba beberapa kali antara daring dan luring.

Dalam proses perjalanan waktu dari apa yang saya lakukan ternyata pembelajaran luring lebih berhasil dalam praktik bermain musik dan tidak hanya praktik musiknya saja tetapi ada yang lebih menarik yaitu menciptakan bibit baru pemusik yang berkarakter yang saya beri dengan istilah tuntamu (tuntas tatap muka).

Musik memiliki kekuatan untuk meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik diterapkan menjadi sebuah terapi, musik dapat meningkatkan, memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual artinya musik juga bisa mengubah seseorang di dalam berkarakter.

Bagi penyelenggara pendidikan yang sudah memahami ataupun mengerti akan pentingnya teknologi informasi tidak begitu menjadi masalah. Akan tetapi peyelenggara pendidikan yang memiliki keterbatasan dalam infrastruktur maupun tenaga pendidik yang lemah, maka akan menjadi permasalahan yang sangat besar dalam kegiatan penyelenggaraan pendidikan secara daring.

Pembagian kuota data meruapakan salah satu cara yang sering diberikan kepada pendidik maupun peserta didik tetapi bila dilihat dari sisi pendidik atau pengajar, pembagian kuota data tidak banyak membantu walaupun menjadi salah satu faktor yang membantu dalam kegiatan belajar mengajar secara daring.

Menumbuhkan apresiasi siswa terhadap pembelajaran musik sangat diperlukan upaya dari guru musik itu sendiri. Ruang lingkup isi pembelajaran seni musik mencangkup apresiasi.

Karya seni musik dan mengekspresikan diri melalui karya seni musik. Oleh karena itu wawasan umum yang luas tentang musik dan bagaimana mengembangkan materi ajar musik, akan membantu guru dalam melaksanakan pencapaian kompetensi dasar seni saja tetapi bisa menumuhkan siswa yang berkarakter, dan ternyata siswa tidak hanya memiliki bakat saja tetapi siswa memiliki rasa yang ada dalam musik itu sendiri, Untuk apresiasi guru perlu memahami bagaimana mengembangkan kegiatan apresiasisiswa, antara lain membahas musik, jenisnya, serta hal-hal yang menyangkut analisa keindahan dan keunikan musik. Apresiasi siswa terhadap mata pelajaran seni musik dapat ditumbuh kembangkan dengan strategi guru yang tepat.

Pada akhirnya penulis mengajak, dalam proses pembelajaran menggunakan media dan model pembelajaran yang menarik dan lebih bervariasi dan tentunya tuntas juga dalam berkarakter. (fkp1/ton)

Guru SMP N 13 Semarang

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya