alexametrics

Sinema Terapy untuk Tingkatkan Etika Bermedia Sosial

Oleh : Marfungatun, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Media sosial saat ini tumbuh pesat berdampak positif dan negatif dalam kehidupan sosial. Namun, sayangnya dalam bermedia sosial sebagian besar masyarakat masih kurang dalam menggunakan etika.

Saat berkomunikasi banyak yang melupakan etika. Hal ini dibuktikan dengan adanya kata-kata kasar yang muncul pada saat melakukan percakapan melalui jejaring sosial. Penyalahgunaan media sosial dalam menyebarkan informasi juga berdampak pada banyaknya para siswa yang melanggar etika. Kebanyakan perilaku tidak bermoral dan beretika ini didominasi kalangan remaja (Fahrimal 2018).

Etika merupakan aturan yang membantu manusia untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Maka, setiap individu harus mempunyai “kesadaran” dalam bermedia sosial dan mampu membedakan dengan realitas sosial. Setiap individu harus bisa mengontrol aktivitasnya di media sosial (Rianto 2019).

Usaha untuk meningkatkan etika bermedia sosial dilakukan dengan teknik cinema terapy. Dengan cinema therapy diharapkan bisa memberikan solusi bagi guru pembimbimg untuk meningkatkan etika dalam bermedia sosial.

Menurut Suarez (dalam Powel 2006:1) terapi film atau cinema therapy adalah proses menggunakan film dalam terapi sebagai metafora untuk meningkatkan pertumbuhan dan wawasan klien. Cinema therapy sebagai teknik terapeutik yang melibatkan pemilihan film, klien untuk menonton secara individual atau dalam kelompok yang bertujuan untuk mencapai tujuan terapeutik tertentu.

Melalui refleksi cerita dan karakter yang terdapat dalam film siswa dapat menemukan kekuatan yang sebenarnya ada pada diri integrasi kehidupan yang dapat terjadi.

Adapun cinema yang diterapkan di sini untuk menggugah semangat siswa memahami dan menyadari dengan cara diputarkan film. Dengan diputarkan film siswa SMAN 1 Dukun lebih aktif dan menarik serta bersemangat dalam mengikuti layanan di kelas.

Teknik ini diharapkan dapat mengaktifkan siswa dalam mengikuti layanan. Sehingga layanan lebih bermakna dan siswa dapat dilatih untuk beretika dengan baik dan benar di media sosial . Dengan cinema therapy dapat meningkatkan etika siswa dalam bermedia sosial. Sehingga layanan bimbingan dan konseling menjadi bermakna dan pengetahuan yang didapat bertahan lama.

Harapan dari cinema therapy ini dapat memenuhi target tercapainya kompetensi kemandirian siswa sesuai yang diharapkan. Karena siswa merasa dapat mendiskripsikan kebermanfaatan teknologi, mampu menganalisis teknologi sebagai alat menjadi baik atau buruk. Dan mampu menentukan sikap dalam menghadapi teknologi secara bijak tertantang.

Adapun langkah dalam layanan bimbingan dan konseling secara klasikal di kelas dari tayangan film siswa dapat mendiskripsikan, menganalisis dan menentukan sikap serta pembuktian. Setelah menggunakan cinema therapy serta siswa bisa merapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam bemedia sosial.

Sehingga ilmu ini seyogyanya tidak hanya sebatas pengetahuan belaka namun harapan dari guru pembimbing semua siswa bisa memahaminnya, sebagai bekal siswa ketika bermedia sosial secara bijak.

Setelah diberikan layanan teknik ini, siswa saat melakukan komunikasi melalui media sosial tidak melupakan etika. Siswa menggunakan kata-kata halus dan benar saat melakukan percakapan melalui jejaring sosial. Serta menggunakan bahasa yang tepat dengan siapapun saat berinteraksi, termasuk berinteraksi melalui media sosial.

Siswa membiasakan mencatumkan sumber informasi sebagai salah satu bentuk penghargaan atas hasil karya seseorang. Bersikap bijak dalam menyebarkan informasi mengenai kehidupan pribadi (privasi) pada saat sedang menggunakan media sosial.

Sebelum diterapkan cinema therapy dalam layanan bimbingan dan konseling kesadaran siswa dalam media sosial seakan menjadi tempat menumpahkan segala aktivitas. Dalam penggunaannya, sering disalahartikan terkadang dibutakan oleh berita yang tidak benar akibat dari hasutan yang beredar.

Setelah dilakukan layanan dengan teknik cinema therapy siswa dapat mendiskripsikan kebermanfatan teknologi dan mampu menganalisis teknologi sebagai alat menjadi baik atau buruk. Serta mampu menentukan sikap dalam menghadapi teknologi secara bijak.

Cinema therapy dalam layanan bimbingan dan konseling memiliki peranan penting yaitu memunculkan ide-ide baru, kreatif melatih siswa dalam mendiskripsikan, menganalisis teknologi sebagai alat. Serta mampu menentukan sikap baik atau buruk dalam menghadapi perkembangan teknologi. (pm2/lis)

Guru SMAN 1 Dukun Magelang

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya