alexametrics

Penerapan Model Belajar Bersama dapat Tumbuhkan Motivasi Belajar

Oleh: Lilik Susanti, S.Pd.SD.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Tidak ada satu metode pun yang dianggap paling baik di antara metode-metode yang lain karena setiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu. Untuk menjadi seorang guru yang disenangi dan memberi semangat belajar siswa, selain dengan pengelolaan berbagai komponen pembelajaran, guru harus pintar dalam membuat strategi pembelajaran.

Hendaknya guru juga menguasai berbagai kompetensi agar kemampuannya selalu optimal dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

Beberapa siswa kelas 4 SDN Babalankidul Kecamatan Bojong menganggap pelajaran tematik pada muatan IPS kurang begitu penting dibanding mata pelajaran lainnya. Sehingga dalam pembelajaran sejarah siswa cenderung pasif, kurang begitu memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru, ada pula yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain, ada yang mengantuk, bahkan sampai membolos.

Kondisi tersebut disebabkan oleh adanya penguasaan kelas yang terlalu berfokus pada guru, dimana guru masih menggunakan model ceramah bahkan cukup memberi tugas mengerjakan LKS setiap kali pertemuan mata pelajaran sejarah. Selain itu juga karena guru kurang memaksimalkan dalam penggunaan berbagai model pembelajaran, sehingga pembelajaran cenderung bersifat membosankan dan kurang menarik.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil (umumnya terdiri dari 4-5 orang siswa) dengan keanggotaan yang heterogen (tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan suku/ras berbeda) (Arends, 2012).

Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran kooperatif perlu dikembangkan karena pada saat penerapan pembelajaran kooperatif siswa berlatih berbagai keterampilan kooperatif (keterampilan sosial) sesuai dengan tuntutan kompetensi pada Kurikulum 2013 yaitu kompetensi sikap sosial, selain kompetensi sikap spiritual, pengetahuan, dan keterampilan.

John Dewey 1916, Democracy and Education adalah Satu, kelas merupakan cermin masyarakat tempat untuk belajar kehidupan nyata. Kedua, guru menciptakan lingkungan belajar dengan prosedur demokrasi dan ilmiah. Ketiga, memotivasi siswa untuk belajar secara kooperatif.

Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif antara lain : menyampaikan tujuan dan motivasi kepada siswa. Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar. Menyampaikan informasi. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan.

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien. Membimbing kelompok belajar. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Mengevaluasi hasil belajar siswa. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Memberikan penghargaan terhadap hasil belajar siswa. Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu.

Model pembelajaran kooperatif ini akan dapat terlaksana dengan baik jika dapat ditumbuhkan suasana belajar yang memungkinkan di antara siswa dengan siswa serta antara siswa dengan guru merasa bebas mengeluarkan pendapat dan idenya. Guru dapat mengajukan berbagai pertanyaan atau permasalahan yang harus dipecahkan di dalam kelompok. Siswa berupaya untuk berpikir keras dan saling mendiskusikan di dalam kelompok. (ct3/ton)

Guru Kelas IV SDN Babalankidul Kec. Bojong Kab. Pekalongan

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya