alexametrics

Berajang Lingkungan, Menulis Cerpen Jadi Menyenangkan

Oleh: Siti Kamimah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Proses pembelajaran Bahasa Indonesia,materi menulis cerpen di kelas IX SMPN 1 Ambarawa masih banyak mengalami kesulitan. Menurut KBBI (1997:186) cerpen adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata), yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di satu situasi (pada suatu ketika).

Apalagi ketika pembelajaran itu dilaksanakan secara daring seperti yang terjadi selama masa pandemi ini. Siswa tidak bisa bertemu langsung dengan guru,sehingga apa yang belum siswa ketahui tidak bisa langsung ditanyakan pada guru yang bersangkutan. Hal ini makin membuat peserta didik mengalami kesulitan ketika hendak memulai menuangkan ide atau gagasan dalam menulis cerpen.

Sehubungan dengan hal tersebut,penulis berusaha mencari cara agar peserta didik bisa dan senang ketika mendapat tugas untuk mencoba menuangkan ide atau gagasan sebagai langkah awal menulis cerpen. Thomdike (Arifin, 2009) menyatakan bahwa belajar akan lebih berhasil apabila respon murid terhadap sesuatu stimulus segera diikuti dengan perasaan senang atau kepuasan.

Penulis mencoba mengajak berdiskusi dan berdialog dengan peserta didik yang tinggal di lingkungan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Namun mereka cenderung berada pada situasi yang sama yaitu situasi pandemi. Penulis meminta siswa untuk melihat,mengamati dan merasakan apa yang ada dan terjadi di lingkungan atau keluarga masing- masing. Anggap saja kalian semua sedang menonton film atau sinetron. Amati apa yang terjadi dalam waktu dua atau tiga hari,kalau perlu catatlah hal-hal yang kalian anggap penting. Setelah itu, penulis meminta untuk menentukan satu hal yang menarik atau berkesan yang dilihat dan dirasakan oleh para siswa.

Dari apa yang dilakukan penulis, ternyata siswa mempunyai gambaran dan bekal dalam menuangkan ide atau ngagasan sederhana untuk dijadikan sebuah cerpen. Penulis tidak membatasi atau menentukan sudut pandang yang harus digunakan.mereka penulis bebaskan untuk memilih. Yang penting mereka mampu menuangkan ide atau gagasanya dari hasil yang mereka lihat dan rasakan. Ternyata mereka menemukan ide atau gagasan yang sangat bervariasi. Ada yang memilih menceritakan adiknya, neneknya,temanya, tetangganya, bahkan dirinya sendiri.

Langkah selanjutnya penulis meminta siswa untuk menuliskan pokok-pokok pikiran atau apa saja yang akan dijadikan bahan menulis cerpennya. Siswa ternyata cukup bersemangat karena mereka sudah mempunyai modal masing-masing dan tidak harus bertanya pada siswa yang lain. Cerpen yang dihasilkan pun cukup menarik dan betul-betul bervariasi sesuai dengan apa yang mereka lihat dan rasakan di lingkunganya. Ketika mereka diminta untuk membacakan hasil menulisnya, mereka terkesan semangat, bangga dan puas.

Dari kegiatan pembelajaran ini, penulis menyimpulkan bahwa pembelajaran menulis cerpen berajang pengamatan lingungan kelas IX di SMPN 1 Ambarawa bisa membuat siswa menjadi senang, bersemangat dan menghasilkan cerita yang bervariasi. Siswa akan merasa merdeka menulis ketika mereka kita bebaskan menentukan ide atau gagasan yang bisa mereka pilih, Namun guru tetap harus mendampingi agar cerpen yang mereka buat tetap sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran kelas IX. (pr1/ton)

Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Ambarawa

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya