alexametrics

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa tentang Pecahan dengan Blok Pecahan

Oleh : Hadi Purniawan, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Matematika adalah disiplin ilmu yang berdiri sendiri dalam mempelajari hal yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Matematika merupakan salah satu pengetahuan tertua dan dianggap sebagai induk atau alat dan bahasa dasar banyak ilmu.

Dari jenjang SD sampai jenjang yang lebih tinggi, mata pelajaran matematika pasti ada dan dijumpai oleh siswa. Matematika memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Hal itu membuat matematika termasuk dalam satu di antara ilmu yang paling utama karena apa pun ilmunya, pasti masih ada kaitannya dengan matematika.

Ada yang mengatakan, matematika itu mata pelajaran mudah karena ilmu pasti. Pernyataan itu berlaku bagi orang yang suka dengan matematika. Tetapi realitanya lebih banyak siswa atau sebagian besar siswa kesulitan dalam mempelajari matematika. Di kelas 5 SD Negeri 01 Mulyorejo, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, jika siswa diminta memilih antara matematika dengan mata pelajaran lain, sebagian besar siswa memilih mata pelajaran lain.

Menurut Wood (2007, dalam jurnal ilmiah STKIP PGRI Ngawi oleh Erny Untari, 2013), beberapa kesulitan siswa dalam belajar matematika adalah kesulitan membedakan angka, simbol-simbol, serta bangun ruang; tidak sanggup mengingat dalil-dalil matematika; menulis angka tidak terbaca atau dalam ukuran kecil; tidak memahami simbol-simbol matematika; lemahnya kemampuan berpikir abstrak; lemahnya kemampuan metakognisi (lemahnya kemampuan mengidentifikasi serta memanfaatkan algoritma dalam memecahkan soal-soal matematika).

Baca juga:  Kantong Koala Mudahkan Belajar Benua Australia Cara Jigsaw

Pembelajaran matematika kelas lima dengan Kompetensi Dasar 3.1 menjelaskan dan melakukan penjumlahan dan pengurangan dua pecahan dengan penyebut berbeda, pada materi mengurutkan pecahan. Dari 20 siswa, hanya 4 siswa yang dapat mengerjakan soal dengan benar. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor. Pertama, sebagian besar siswa di kelas lima belum menguasai ilmu sederhana matematika yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Hal ini mengakibatkan materi yang disampaikan tidak bisa diterima dengan baik. Kedua, guru hanya menggunakan metode ceramah tanpa adanya alat peraga yang digunakan.

Dengan masalah tersebut perlu dilakukan perbaikan. Dalam memperbaiki pembelajaran, guru memfokuskan pada penggunaan alat peraga. Adapun alat peraga yang digunakan adalah blok pecahan. Menurut Dahniar dkk (2016), pembelajaran yang menggunakan alat peraga dapat memudahkan dan meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar matematika.

Baca juga:  Sinema Terapy untuk Tingkatkan Etika Bermedia Sosial

Sedangkan menurut Annisah (2014), matematika tidak mudah dipahami oleh sebagian siswa khususnya siswa SD/MI. Untuk mempelajari objek matematika yang abstrak diperlukan jembatan atau perantara yang bersifat konkret. Model benda nyata yang digunakan untuk mengurangi keabstrakan materi matematika disebut alat peraga pembelajaran matematika.

Penggunaan blok pecahan diawali dengan guru menjelaskan cara menggunakan alat peraga. Blok pecahan yang digunakan berbentuk prisma segitiga, yang di setiap sisi tertulis berbagai jenis pecahan (pecahan biasa, pecahan desimal, dan pecahan persen). Siapkan beberapa blok pecahan yang terdiri dari susunan pecahan 1/2 , 1/3 , 1/4 , 1/5 , 1/6 , 1/8, 1/10 dan 1/12.

Tiap satu blok pecahan, ada yang terdiri satu susunan prisma segitiga (bernilai satu), ada juga yang lebih (tergantung banyaknya susunan pecahan). Jika dalam satu blok terdiri dari empat susunan prisma segitiga, berarti nilai tiap susunan 1/4 atau 0,25 atau 25%. Apabila dalam satu blok terdiri dari lima susunan prisma segitiga, maka nilai tiap susunan 1/5 atau 0,2 atau 20% dan seterusnya.

Baca juga:  Pembelajaran Kreativitas Tari di Sekolah Berbasis Pendidikan Karakter

Untuk mengetahui besarnya nilai pecahan satu dengan yang lain, bisa ditentukan dengan tinggi rendahnya prisma segitiga yang disusun. Semakin tinggi susunannya, nilainya semakin besar. Begitu juga sebaliknya jika semakin rendah susunannya, maka nilainya semakin kecil. Untuk mengurutkan pecahan dari yang terbesar sampai yang terkecil, urutkan susunan prisma segitiga dari yang tertinggi sampai terendah.

Setelah guru menggunakan blok pecahan dalam mempelajari materi mengurutkan pecahan, sangat berpengaruh terhadap pembelajaran yang dilakukan. Siswa lebih aktif dalam mengikuti pemebelajaran. Siswa senang karena dapat belajar sambil bermain menggunakan blok pecahan. Siswa mempunyai sikap positif terhadap penggunaan benda manipulatif pembelajaran matematika dan sikap positif terhadap pemahaman konsep pecahan. Serta adanya peningkatan terhadap hasil belajar peserta didik. (fkp2/lis)

Guru Kelas V SDN 01 Mulyorejo, Kec Kesesi, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya