alexametrics

LMS yang “DiLeMeSkan” dari Rumah

Oleh : Obrin Syahrial HW, S.Psi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Masa pandemi sekarang ini, dunia pendidikan harus mengubah mindset-nya. Dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring. Selama masa pandemi yang hampir dua tahun ini, SMP Negeri 6 Salatiga sepakat menggunanakan LMS (Learning Management System) di kelas onlinenya.

Secara umum LMS (Learning Management System) adalah perangkat lunak yang dirancang untuk membuat, mendistribusikan, dan mengatur penyampaian materi pembelajaran.

Beberapa jenis LMS antara lain Moodle, Google Classroom, Edmodo, Schology dan masih banyak lagi. Untuk SMP Negeri 6 Salatiga memakai yang LMS yang Moodle. Dipilihnya yang jenis Moodle, karena lebih open resource dan kita menjadi merasa bebas berkreasi dengan Moodle bisa diakses offline.

Sedangkan vicon para pendidik dibrikan ke bebasan memilih dan menggunakannya, Bisa Pakai B3 (Big Blue Button), Zoom, Teams, Gmeet dan lainnya. Untuk materi Pembelajaran maupun layanan berupa pdf, word, excel, Youtube dan lain lainnya.

Namun semua itu akan sangat tiada artinya, bila program yang di rancang sekolah dalam pembelajaran daring dengan LMS tidak mendapat dukungan dari peserta didik dan orang tuanya. Dengan kata lain LMS yang diharapkan mampu mendampingi peserta didik dalam pembelajaran, seolah olah dilemeskan atau dibuat tidak berdaya.

Baca juga:  Terampil Berbahasa, Cerdas Berliterasi Media Digital

Penyebabnya antara lain kurang optimalnya perhatian dan pengawasan maupun pendampingan orang tua atau wali peserta didik. Tidak dipungkiri dalam masa pandemi sekarang ini orientasi orang tua atau wali berorientasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Masalah yang tak kalah pentingnya adalah peran serta dan tanggung jawab peserta didik sendiri. Pada masa pandemi kita harus jujur mengenai peran, kemandirian, kedisiplinan dan tanggung jawab peserta didik sangat kurang sekali. Berkaca dari permasalahan tersebut, SMP Negeri 6 Salatiga mulai mengevaluasi pelaksanaan pemberian layanan kepada peserta didik. Mulai dari pembelajaran dan pelayanan konseling.

Ada lagi kuota bantuan dari sekolah melalui dana BOS, kuota bantuan dari infak guru, dan bantuan lainnya seperti dari KIP, dana aspirasi yang diharapkan mampu mengurangi beban Kebutuhan kuota dari peserta didik maupun orang tuanya.
Untuk permasalahan gadget peserta didik yang tidak support dan sinyal kurang mendukung di sekitar rumahnya, SMP Negeri 6 Salatiga mengambil kebijakan mendatangkan peserta didik dan meminjamkan tablet yang dimiliki sekolah hasil dari BOS kinerja dan wifi gratis.

Baca juga:  Kartu Manis Membuat Pembelajaran Berbicara Semakin Runis

Pelaksanaannya tetap mematuhi protokol kesehatan dan peserta didik dibatasi. Tempat duduk diatur berjarak dan dilaksanakan di aula Dewantara SMPN 6 Salatiga yang luas dan sirkulasi udara dan pencahayaan memenuhi standart kesehatan dan didampingi beberapa pendidik.

Untuk layanan bimbingan dan konseling, guru bimbingan konseling (BK) SMP Negeri 6 Salatiga berkolaborasi dengan guru mata pelajaran melakukan home visit kepada peserta didik yang jarang atau sama sekali tidak pernah mengikuti pembelajaran daring.

Tindak lanjut dari home visit tadi, guru BK berusah tetap berkomunikasi dengan orang tua dan peserta didik. Karena sekolah sangat membutuhkan bantuan orang tua peserta didik untuk terus mengingatakan, mengawasi dan membimbing belajar peserta didik dirumah. Guru BK membuka sesi konseling online setiap hari selama jam kerja mulai jam 08.00-14.00 (Senin-Kamis) dan jam 08.00-11.00 (Jumat dan Sabtu).

Baca juga:  Meningkatkan Motivasi Belajar Online dengan Bermain Pantun

Diharapkan, setiap kali orang tua atau peserta didik butuh konsultasi bisa dilayani meskipun tidak harus bertatap muka. Biasanya konsultasi via WA, lewat emat atau video call terutama dengan peserta didik. Dan apabila memang diperlukan untuk bertatap muka, selalu terbuka dan menerima. Namun tetap tetap mematuhi protokol kesehatan.

Dengan cara tersebut, diharapkan LMS (Learning Management System) yang dirancang di kelas online bisa lancar dalam pemberian layanaan pembelajaran daring. Terpenting peran serta peserta didik dan dukungan dari orang tua harus kompak. Sehingga tidak menimbulkan kesan LMS “dilemeskan” oleh peserta didik dengan berbagai alasan. (dd2/lis)

Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 6 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya