alexametrics

Mencipta Puisi Mengalir dengan Respons Alam

Oleh : Feb Priyansari Ambarwati, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Asyiknya menulis puisi tidak selalu dinikmati oleh seluruh siswa. Bahkan tidak sedikit siswa yang justru tersiksa dengan pembelajaran kompetensi ini. Tidak jarang anak mengumpulkan kertas kosong, terkadang tidak muncul sebait pun puisi.

Banyak di antara mereka yang mengaku blank dan menganggap abstrak saat disuruh menulis puisi di dalam kelas. Puisi sebagaimana anggapan banyak siswa sebagai ”benda aneh” dan abstrak. Membaca dan memahaminya saja sulit, apalagi harus menuliskannya.

Itulah potret pembelajaran menulis puisi di kelas 8 SMP Negeri 1 Srumbung yang belum sesuai harapan. Pengalaman selama ini, tidak lebih dari 50 persen siswa tuntas dalam pembelajaran ini.

Lemahnya metode dan teknik guru yang membelajarkan materi ini yang menjadikan menulis puisi belum diminati banyak siswa. Akibatnya, proses pembelajaran materi ini cenderung membosankan dan minus hasil.

Kesulitan awal penulisan puisi dimulai saat siswa menentukan tema dari sebuah masalah yang ditawarkan. Dalam pandangan banyak siswa, menulis puisi ibarat menyusun kata-kata abstrak dalam kalimat yang kompleks yang indah, namun sulit dipahami. Padahal, tema puisi tidak harus abstrak dan rumit.

Baca juga:  Belajar Sejarah Islam sebagai Duta Dunia

Tema ini merupakan gagasan pokok yang mendasari penulisan puisi (Rokhmansyah, 2013 :54). Kesulitan pun berlanjut ketika harus menentukan unsur intrinsik puisi lainnya seperti diksi, gaya bahasa, pengimajinasian, kata konkret, rima, dan sebagainya.

Sesulit apapun pembelajaran menulis puisi, siswa tetap harus memperoleh pengalaman belajar materi ini. Pengalaman belajar akan melatih siswa membuat karya yang lebih baik. Apalagi, pembelajaran sastra, dalam hal ini menulis puisi seperti dikatakan Rahmanto (1988:118) berguna tidak hanya untuk mempertajam pengamatan dalam berpuisi namun juga meningkatkan kemampuan bahasa.

Bermula dari masalah tersebut, siswa diajak berpetualang menulis puisi dari pengalaman nyata di sekitar siswa dengan media “respons alam” dan teknik “kata mengalir”. Respons alam mengajak siswa melihat, mencium, merasakan, dan mencecap pada dunia nyata, sebagaimana solusi atas anggapan siswa bahwa puisi syarat makna dan abstrak.

Baca juga:  Mengoptimalkan Layanan Perpustakaan Sekolah pada Masa Pandemi Covid-19

Arswendo Atmowiloto seperti dikutip Hasnun (2004:146) juga mengatakan menulis puisi memerlukan minat dan ambisi yang terus-menerus juga ilham yang mirip dengan realita keseharian, atau inspirasi atau latihan yang membuat orang (pengarang) tergugah.

“Kata mengalir” merupakan teknik untuk melahirkan ide siswa dalam berpuisi yang dilakukan dalam kelompok dengan cara saling meneruskan, mendorong, merangsang. Sehingga kata, kalimat, baris, bait dan akhirnya menjadi puisi yang utuh bisa terwujud dalam kelompok.

Pembelajaran menulis puisi dengan ”respons alam” ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, siswa diajak berkelompok 5-6 siswa, memilih satu objek visual nyata. Misal, alam sekitar sebagai temanya. Kedua, setiap kelompok harus membuat subtema berdasarkan pilihan tema, misalnya tentang keindahan gunung, kaki gunung, sawah, kolam, taman, dan lain sebagainya.

Baca juga:  Belajar Kesebangunan lebih Menyenangkan dengan Metode Think, Pair, Share

Ketiga, setiap kelompok secara bergantian menuliskan kata-kata sesuai subtema yang dipilihnya sebanyak 15-30 kata berdasarkan serapan pancaindra. Keempat, secara berkelompok, siswa saling mengecek kata-kata terkumpul sesuai dengan subtema pilihannya.

Kelima, siswa mulai membuat kalimat dan bait puisi secara utuh berdasarkan kata terpilih dan mengolahnya dengan diksi, majas, citraan, tipografi sehingga tersusun menjadi puisi yang utuh. Keenam, setiap kelompok mempresentasikan puisinya untuk mendapatkan kritik dan masukan kelompok lain sehingga menjadi puisi yang bernas dan puitis.

Terbukti pembelajaran puisi dengan media ”respons alam” dan teknik ”kata mengalir” efektif dapat meningkatkan kemampuan dan motivasi siswa dalam menulis puisi. Siswa yang sebelumnya ”kering” ide menulis puisi mempunyai keberanian untuk menuliskan gagasan dalam berpuisi. (pm2/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Srumbung, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya