alexametrics

Metode Hafalan Strategi Lama yang Masih Eksis

Oleh : Sri Panuntun, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Metode belajar dengan cara menghafal sudah dikenal sejak zaman dahulu. Metode ini sudah lama diterapkan pada kurikulum sekolah terutama sekolah dasar.

Dari mata pelajaran sains, sosial maupun matematika metode hafalan sering dipakai. Metode hafalan digunakan di sekolah dasar didasarkan pada kemampuan otak anak-anak yang masih sangat bagus dalam menyimpan memori.

Pada kurikulum yang berbasis menyenangkan saat ini, metode hafalan mulai terkikis. Metode hafalan dinilai tidak cocok karena anak dipaksa untuk hafal namun belum tentu paham dengan apa yang dihafalkannya. Sehingga pembelajaran dinilai tidak menyenangkan lagi.

Saat ini siswa jika ditanya tentang perkalian menjawabnya akan lama. Disebabkan siswa tidak dibiasakan untuk menghafal. Banyak kritik tentang metode menghafal ini. Dianggap membebani peserta didik dalam proses pembelajaran.

Bahkan seorang ahli pendidik pun mengatakan metode ini merupakan salah satu metode yang membuat anak-anak Asia mampu memenangkan Olimpiade di bidang sains, matematika dan lain sebagainya, namun tidak mampu mengantarkan anak-anak tersebut ke jenjang Nobel atau ajang internasional yang berdasar pada inovasi dan kreativitas.

Baca juga:  Asyiknya Bermain Tebak-Tebakan tentang Nama-Nama Binatang

Metode menghafal dalam buku Psikologi Pengajaran oleh W. S. Winkel (1987:149) tentang hierarki keterampilan berpikir yang digagas Benjamin Samual Bloom membagi dalam tiga domain (ranah kawasan) : kognitif, afektif, dan psikomotor dan setiap ranah tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci.

Kemudian Lorin Anderson yang notabene adalah murid dari Bloom merevisi tentang hierarki keterampilan berpikir Bloom.

Dalam buku Belajar dan Pembelajaran oleh Dimyati dan Mudjiono (2009:27) merevisi bahwa ranah kognitif tersebut memuat enam level berpikir yakni remembering (mengingat) dalam hal ini tahapannnya adalah menghafal. Understanding (memahami), apllying (menerapkan), analyzing (menganalisis), evaluating (mengevaluasi), creating (menciptakan).

Guru-guru saat ini sangat familiar dengan enam level tersebut. Karena memang hal ini yang sedang menjadi dasar pembelajaran di Indonesia yang merujuk pada kemampuan HOTS (High Order Thinking Skill). Kita sebagai pendidik biasa menyebutnya cognitive level 1 sampai 6.

Baca juga:  Melalui Aplikasi Google Classroom Belajar Daring Jadi Mudah

Merujuk pada Bloom dan Lorin, anak usia sekolah dasar memang harus benar-benar mampu melewati fase yang pertama yakni fase mengingat atau remembering, sebelumnya nantinya anak-anak tersebut mengembangkan cara berpikir mereka ke memahami, menerapkan, menganalisi, mengevalusi dan mencipta.

Pada usia anak sekolah untuk taraf menghafal sangatlah tepat di mana pada otak usia tersebut mampu mengingat sampai jangka panjang.

Seperti yang kita ketahui untuk mengembangkan cara berpikir ke level yang lebih tinggi ada baiknya kita benar-benar mengingat apa yang menjadi landasan suatu pemikiran. Maka apabila peserta didik akan mengembangkan cara berfikir mereka sudah mempunyai dasar yang benar-benar disimpan pada ingatan jangka panjangnya.

Penulis menganggap metode menghafal khususnya di jenjang sekolah dasar memang diperlukan sebagai bekal anak-anak untuk mengembangkan cara berfikir mereka di jenjang sekolah selanjutnya.

Baca juga:  Optimalisasi Facebook untuk Layanan Bimbingan Konseling

Namun karena atmosfer pembelajaran di zaman sekarang sangatlah beda dengan model pembelajaran di era tahun 80an. Sebagai guru tentunya kita juga harus menyesuaikan kondisi anak saat ini.

Metode tetap menghafal namun kita dapat mengemasnya ke dalam pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menarik. Sebagai contoh menghafal nama planet bisa dikemas dalam sebuah nyanyian dengan mengubah lagu yang sudah dikenal anak-anak. Menghafal memang metode lawas yang tak mudah untuk menghilangkannya.

Metode ini sangat efektif diterapkan pada anak usia sekolah dasar. Kelebihan dari metode menghafal adalah menimbulkan minat baca pada anak, informasi yang diserap tidak mudah hilang. Pada akhirnya gurulah yang harus kreatif dalam menginovasi metode menghafal ini menjadi metode yang menarik dan menyenangkan. (ms1/lis)

Guru SDN Tegalrejo, Kec. Tegalrejo, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya