alexametrics

Menghidupkan Cerita Fantasi Siswa dengan Pokar

Oleh : Sujoko, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Melatihkan keterampilan menulis cerita fantasi untuk kebanyakan siswa bukankan pekerjaan mudah. Jika bisa dilakukan, hasil karya siswa seperti pepatah setali tiga uang.

Jika teks fantasi terwujud, kualitasnya tidak standar, asal-asalan, dan miskin deskipsi. Banyak karya siswa yang “kering” dalam penceritaan penokohan dan karakterisasi tokoh sehingga tulisan cenderung monoton dan membosankan.

Lemahnya kemampuan membuat cerita fantasi itu tampak dalam beberapa hal seperti pengambaran watak tokoh, pelukisan setting cerita, pendeskripsian alur cerita dan sebagainya.

Itulah yang terjadi di SMP Negeri 2 Sawangan. Jumlah karya siswa yang bisa memenuhi tulisan berstandar minimal fantasi tidak lebih dari 50 persen, selebihnya cenderung asal-asalan.

Materi pada Kompetensi Dasar (KD) 4.4 tentang menyajikan gagasan kreatif dalam bentuk cerita fantasi secara lisan dan tulis, ini merupakan materi esensial kelas VII mata pelajaran Bahasa Indonesia jenjang SMP dan termasuk kompetensi keterampilan yang harus dikuasai siswa.

Sulitya kemampuan menulis teks fantasi bagi kebanyakan siswa memang bisa dipahami. Mengingat proses kreatif dan mencipta merupakan kemampuan berpikir kognitif level C6 dengan dimensi pengetahuan metakognitif sehingga tergolong Higher Order Thingking Skill (HOTS).

Baca juga:  Semangat Belajar Matematika dengan Tutor Sebaya

Tulisan ini bermaksud memberikan solusi alternatif pembelajaran keterampilan penulisan cerita fantasi dengan teknik sederhana pohon karakter (pokar) untuk mendeskripsikan penokohan tokoh.

Dalam cerita fiksi, tokoh dan karakter dalam cerita ibarat sisi mata uang. Pentingnya penokohan dalam cerita karena tokohlah yang akan mengantarkan tujuan cerita.
Tokoh diibaratkan nahkoda dalam cerita, sedangkan cerita laksana perahunya. Tokoh utama berpotensi mengubah alur, membuat konflik, dan menyelesaikan cerita (Nurgiantoro, 2018:4). Untuk itu penggambaran tokoh utama menjadi kunci dalam sebuah cerita.

Istilah karakter atau karakterisasi sebenarnya sangat dekat dalam disiplin ilmu psikologi. Kamus Besar Bahasa Indonesia( 2008; 623) menyebutkan karakter memiliki arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan dari yang lain.

Pohon karakter (pokar) adalah media yang memadukan bentuk visual/grafis dengan perwatakan tokoh. Pohon karakter berfungsi menuntun siswa agar dalam menggambarkkan penokohan dan perwatakan tokoh-tokoh tidak lepas dari tujuan yang ingin dicapai, lebih rinci dan detail, dan mencerminkan karakter tokoh yang diinginkan.

Baca juga:  Mengembangkan Pembelajaran Dinamika Hidrosfer dengan Inkuiri

Dengan visual atau grafis, siswa dapat menggambarkan watak tokoh mendekati kenyataan dan menarik sehingga ketika mengembangkan cerita semakin hidup. Media pokar dapat dibuat secara manual dan akan lebih menarik jika dibuat dengan aplikasi iMindMap.

Pembelajaran penulisan kreatif menulis cerita fantasi berbantu pohon karakater dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut. Menentukan tema dan topik. Dengan tema dan topik yang dipilih, siswa diharapkan bisa membayangkan tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan cerita akan mudah tercapai jika penulis menentukan tokoh utama, tokoh bawahan, tokoh protagonis serta perannya dalam cerita. Penggambaran watak sesuai perannya secara rinci dan detail akan sangat terbantu dengan pokar, sehingga imajinasi siswa dalam cerita akan semakin bebas.

Jika penggambaran karakter tokoh sudah lengkap dan matang, siswa diajak mengembangkannya sesuai alur cerita yang dirancang. Karena cerita fantasi, siswa juga dapat mengembangkan alur absurd. Demikian juga dengan latar yang dipilih dapat memilih latar sezaman atau lintas waktu (Harsiati 2017 : 51).

Baca juga:  Mudahnya Belajar Pecahan melalui Bingo Matematika

Dalam karakterisasi tokoh, siswa dapat dituntun untuk memvariasikan dan mengembangkan perwatakan tokoh utama dan lainnya. Melalui deskripsi secara langsung atau analitik, melalui deskripsi rupa, suara, penggambaran watak tokoh berdasar dengan latar, serta dramatik-dialog dengan tokoh lain.

Karakterisasi tokoh akan lebih mendalam jika dilakukan juga melalui percakapan, pikiran, perasaan, dan perbuatan tokoh, reaksi tokoh satu dengan tokoh lainnya. Teknik arus kesadaran/stream of consciousness, reaksi tokoh antagonis, reaksi tokoh lainnya yang mengacu pada pokar yang telah dikembangkan sebelumnya.

Terbukti, pokar membantu siswa menuntun dan mempermudah dalam proses kreatif menulis cerita fantasi yang menarik. Karena penokohan bisa dirancang secara rinci, mendalam dan dipetakan dengan unsur instrinsik lainnya. Pokar memberi stimulasi dalam menulis fantasi sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan dan bermakna dengan hasil belajar yang lebih baik. (pm1/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Sawangan, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya