alexametrics

Belajar Daring berselimut kabut

Oleh : Lily Safitri, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Akhir-akhir ini kita dipaksa keadaan yang menuntut untuk berbuat lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Keadaan ini terus berlangsung hingga tak terasa sudah sekitar satu setengah tahun menghadapi dan menjalani situasi pandemi Covid-19.

Berbagai permasalahan baru yang timbul karena sebelumnya kita belum pernah menjalani kehidupan seperti ini. Sehingga solusi dan penyelesaian masalah tersebut sedang dicari dan terus digali agar kita bisa terus dan bertahan dengan keadaan yang belum menentu sampai saat ini.

Tak luput dari semua itu adalah sektor pendidikan juga harus ber adaptasi dengan keadaan pandemi. Banyak hal yang tadinya tidak terpikirkan oleh kita tentang dunia pendidikan, sekarang harus kita jalani untuk kelangsungan pendidikan. Juga untuk memberikan hak hidup dan hak sehat anak anak kita.

Pembelajaran daring misalnya, adalah salah satu solusi untuk memenuhi kebijakan dari pemerintah yang menggantikan pembelajaran tatap muka seperti yang selama ini lazim untuk dijalankan. Metode pembelajaran ini adalah salah satu upaya untuk mencegah adanya penyebaran penularan Covid-19. Langkah ini menjadi sangat efektif karena tidak adanya kontak langsung di lingkungan sekolah.

Baca juga:  Senangnya Belajar Matematika dengan Depok

Setiap langkah yang diambil tentunya akan menimbulkan dampak yang mungkin tidak akan sama di setiap sekolah. Tak luput dari hal itu adalah situasi dan kondisi kami di SMAN 1 Karangkobar, Banjarnegara. Banyak kendala dalam pembelajaran daring tetapi kita harus tetap melaksanakan demi tetap berlangsungnya pendidikan ini.

Adapun kendala-kendala yang muncul adalah sebagai berikut : pertama akses internet yang belum merata di semua wilayah tempat tinggal siswa terutama yang berada di desa-desa terpencil. Mereka harus berjuang mendapatkan signal internet dengan mencari tempat tempat yang ada signalnya.

Misal di atas jendela, digantung di tempat tertentu bahkan ada yang harus mencari signal di atas bukit. Ini fakta dan bukan sesuatu yang dibuat-buat karena masih banyak tempat yang belum terjangkau signal internet. Sehingga hal tersebut menjadi kendala dari siswa tersebut dalam mengikuti sistem pembelajaran daring. Kedua tingkat perekonomian yang masih tergolong rendah, handphone menjadi barang mewah. Mereka tidak mementingkan diri untuk membeli handphone karena orang tua mereka lebih banyak beraktivitas di kebun dan tidak membutuhkan hubungan keluar.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Asmaul Husna dengan Metode Hanifida

Secara praktis belum adanya fasilitas handphone pribadi milik siswa sebagai sarana pembelajaran juga menjadi kendala pembelajaran secara daring. Ketiga adalah kendala dari faktor pribadi siswa tersebut. Siswa lebih suka bermain game online daripada mengikuti pembelajaran . Mereka rela begadang sampai pagi untuk mengikuti tantangan tantangan di game online. Akibatnya mereka hidup seperti kelelawar, malam beraktivitas sementara siang saatnya pembelajaran, malah mereka gunakan untuk tidur. Sebuah kemajuan teknologi tetapi berefek sangat tidak baik.

Perjuangan luar biasa bagi para guru yang melaksanakan tugas mencerdaskan anak anak bangsa di daerah seperti ini. Para guru memegang tanggung jawab berat akan keberhasilan belajar siswa siswanya tetapi dengan segala kendala kendala teknis yang dihadapinya.

Baca juga:  Problem Posing Tingkatkan Keaktifan Belajar Logaritma

Para guru juga harus mampu mengatasi dan mencari solusi dari kendala kendala yang ada agar hak memperoleh pendidikan tetap bisa diterima oleh anak anak bangsa ini. (ra2/lis)

Guru Matematika di SMAN 1 Karangkobar, Banjarnegara

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya