alexametrics

Peran Pengawas dalam Evaluasi Belajar Siswa MI di Masa Pandemi

Oleh : Drs H Daryanto M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, EVALUASI merupakan lanjutan dari kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif. Secara umum, orang hanya mengindentifikan kegiatan evaluasi sama dengan menilai. Karena tidak mungkin melakukan penilaian tanpa didahului pengukuran. Dalam mengawasi evaluasi proses dan hasil pembelajaran, pengawas harus memperhatikan kode etik yang ada.

Wrigstone dkk (1956) mengatakan, evaluasi adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan ke arah tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan…. Hasil yang ditimbulkan dari evaluasi adalah bersifat kualitatif (http:e-journal.uajy.ac.id).

Beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh seorang pengawas ketika mengawasi evaluasi proses dan hasil pembelajaran, antara lain merancang rencana kerja, mengidentifikasi persoalan yang akan dievaluasi, memilih waktu yang tepat, dan memperhatikan prinsip profesionalitas dan etika kepengawasan.

Dalam mengawasi proses evaluasi belajar, pengawas patut memperhatikan sistem evaluasi yang dipakai sekolah. Karena antara evaluasi belajar dengan desain dan implementasi program pembelajaran saling mempengaruhi. Guru bisa melakukan perbaikan hal itu sekaligus.

Baca juga:  Tutor Sebaya Meningkatkan Hasil Belajar PPKn selama Pandemi Covid-19

Sebuah buku berjudul Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intellegences (Linda Campbell, Bruce Campbell, dan Dee Dickinson, 2006) menuntun para guru menyelenggarakan pembelajaran yang menghargai perbedaan siswa. Buku tersebut membimbing para guru untuk memperoleh intelligence fair dalam merancang kurikulum dan penilaian pembelajaran, terutama saat diberlakukannya kurikulum darurat pandemi Covid-19 ini.

Evaluasi pembelajaran pada saat kurikulum darurat pandemi Covid-19 ini bisa menerapkan dua cara. Pertama, menerapkan strategi discovering ability, yaitu program yang memungkinkan soal-soal dikerjakan atau dijawab sesuai dengan cara dan kemampuan yang dimiliki siswa. Yang dimaksud adalah bergantung pada kecenderungan multiple intelligence masing-masing siswa. Soal yang sama, siswa mengerjakan dengan cara berbeda-beda. Bisa dengan tulisan, gambar, narasi kronologis, rekaman, maupun presentasi.

Baca juga:  Discovery Learning Tingkatkan Menulis Teks Descriptive

Strategi kedua yaitu open book, memungkinkan siswa mengerjakan soal dengan membuka buku. Ini akan berpengaruh adanya timbal balik bagi guru dan siswa. Guru dituntut membuat soal yang berkualitas. Siswa dituntut tidak hanya mengetahui yang dipelajari, tapi memahami dan menggunakan apa yang dipelajari untuk menganalisa soal yang diberikan. Dengan demikian, guru dan siswa bersama–sama melewati taksonomi bloom. Hal ini tidak akan tercapai dalam mengasah kemampuan kognitif siswa jika cara penyelesaian open book. Tapi soal yang diberikan hanya menuntut pengetahuan yang sudah tercantum dalam buku pelajaran.

Sudah sewajarnya apabila guru tidak membatasi hanya pada buku pelajaran. Siswa bisa saja menjawab soal dengan merujuk pada buku atau sumber bacaan yang lain. Jadi guru telah melakukan implementasi program belajar yang mampu meningkatkan kemauan siswa untuk membaca dan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari buku pelajaran dan buku sumber lainnya. Jadi, apabila metode belajar semacam ini bisa mentradisi di kelas kelas MI di Kecamatan Suruh, InshyaAllah kemampuan literasi anak meningkat.

Baca juga:  Belajar Mandiri IPS dengan Gallery Walk

Dua srategi di atas bisa diterapkan di kelas-kelas, manakala guru memiliki kesadaran atas esensi evaluasi dan meningkatkan kreativitasnya dalam menyelengarakan evaluasi yang berpihak pada kecerdasan majemuk siswa.

Di sini dibutuhkan peran pengawas sekaligus mitra bagi guru dalam melakukan evaluasi. Karena guru bukan semata-mata objek, namun pada kesempatan lain guru adalah subjek yang akan melakukan kebijakan kebijakan evaluasi.

Kemampuan pengawas dalam mengarahkan guru menggunakan beragam alat evaluasi sangat penting. Pengawas harus selalu siap berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang alat evaluasi melalui diskusi baik di madrasah, KKG, dan forum lain. Semoga madrasah mandiri berprestasi segera terealisasi. Aamiin. (unw/ida)

Pengawas RA dan MI Kemenag Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya