alexametrics

Tingkatkan Minat Belajar Siswa melalui Siklus 5 E Berbasis Inkuiri Terbimbing

Oleh: Dra. Indah Dupinartani

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN IPA diharapkan dapat memberikan pengetahuan (kognitif) yang merupakan tujuan utama dari pembelajaran. Jenis pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan dasar dari prinsip dan konsep yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Pengetahuan secara garis besar tentang fakta yang ada di alam untuk dapat memahami dan memperdalam lebih lanjut dan melihat adanya keterangan serta keteraturannya

Dengan pembelajaran sains mampu memberikan keterampilan (psikomotorik), kemampuan sikap ilmiah (afektif), pemahaman, kebiasaan dan apresiasi dalam mencari jawaban terhadap suatu permasalahan. Jadi, pembelajaran IPA telah sesuai Standar Kompetensi Lulusan, bahwa sasaran pembelajaran mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan (permendiknas nomor 20 tahun 2016).

Masalah yang ditemukan pada siswa kelas VIIIA pada materi getaran semester 2 Tahun Pelajaran 2020/2021 di SMP Negeri 1 Ambarawa meliputi adanya anggapan bahwa pelajaran IPA sangat sulit. Apalagi di saat pandemi diberlakukan sistem dengan Blendedlearning.

Hal ini terlihat dari minat belajar yang kurang, hasil penilaian yang rata-rata per tahun di bawah standar KKM. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan minat belajar dan hasil belajar siswa dengan penyediaan buku panduan lembar kerja, penyediaan buku paket, dan layanan bimbingan. Namun usaha yang dilakukan masih belum menunjukkan peningkatan yang memuaskan.

Baca juga:  Metode ATM pada Praktikum Kimia Pembelajaran Jarak Jauh

Salah satu solusi mengatasi permasalahan ini dengan penerapan Siklus Belajar 5E atau model belajar yang berpusat pada siswa dengan 5 fase (Anthony W lorsbach) dengan inkuiri terbimbing. Dengan mengajak siswa lebih aktif dan membangun kemampuan berpikir secara individu maupun kelompok melalui diskusi. Diharapkan terjadi peningkatan kemampuan siswa kelas VIIIA SMPN 1 Ambarawa dalam mengikuti pelajaran IPA serta terhindar dari kebosanan dan berimbas ke perbaikan hasil belajar siswa.

Fase-fase pembelajaran terdiri dari, pertama engagement (keterlibatan) atau pemberian rangsangan agar muncul sikap positif dan rasa senang untuk melaksanakan suatu kegiatan. Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik dengan memberi pertanyaan motivasi, gambar tayangan atau demonstrasi sehingga mengembangkan rasa ingin tahunya. Ekspolarasi (Pencarian/penjelajahan) kegiatan pencarian untuk menemukan sesuatu.

Baca juga:  Dengan Pendekatan Kontekstual, Pembelajaran Matematika Bermakna

Siswa menggali pengalaman saat praktikum dan mendiskusikannya dalam kelompok. Ketiga Eksplanation (Menjelaskan) siswa menjelaskan dengan kalimatnya sendiri tentang hasil pengalaman saat praktikum. Keempat Elaborasi (Penerapan) menerapkan konsep, membuat hubungan antar konsep dan menerapkannya pada situasi baru melalui kegiatan praktikum lanjutan untuk memperkuat dan memperluas konsep. Kelima Evaluasi (penilaian) guru mencari tahu kualitas dan kuantitas ketercapaian belajar siswa pada topik pembelajaran.

Pembelajaran menggunakan Cycle 5E berbasis Inkuiri Terbimbing Materi getaran pada Siswa kelas VIIIA SMP NEGERI 1 Ambarawa terlihat hasilnya positif. Siswa menjadi lebih mudah memahami konsep dan aktif merespon dan mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data dari berbagai sumber, aktif menyampaikan ide, pendapat, temuan dan menuliskannya pada lembar kerja. Kemudian setiap kelompok kunjung karya ke kelompok lain dan di akhiri presentasi.

Metode ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penerapan model pembelajaran 5E dengan Inkuiri Terbimbing membuat siswa menguasai materi pembelajaran. Walaupun guru harus tetap memberi bimbingan sekilas tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi

Baca juga:  Snowball Throwing Bangkitkan Semangat Belajar Materi Pengenalan Perangkat Keras Komputer

Namun proses pembelajaran Learning Cycle 5 E berbasis Inkuiri Terbimbing masih menemui beberapa kendala. Misalnya ada siswa yang belum memahami langkah – langkah pembelajaran praktikum, belum berani bertanya karena belum paham langkah kerja praktikum, belum mengenal alat dan bahan yang digunakan praktikum serta tidak responsif dalam bekerja kelompok.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, pertama Belajar dengan cara Learning Cycle 5E berbasis Inkuiri Terbimbing layak dijadikan praktik baik pembelajaran berorientasi HOTS.

Perlakuan ini mampu meningkatkan kemampuan transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. Kedua, dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis dan cermat dalam pembelajaran model Learning Cycle 5E Berbasis Inkuiri. Jadi tidak sekadar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK, literasi, dan kecakapan abad 21. (ips1/zal)

Guru SMPN 1 Ambarawa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya