alexametrics

Meningkatkan Ketrampilan Berbicara dalam Teks Prosedure melalui Demonstrasi

Oleh : Panca Ery Widayanti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kemajuan teknologi yang semakin berkembang pesat menuntut kita untuk selalu berfikir maju dalam menghadapi segala persaingan. Sangat disayangkan apabila berbagai kemajuan itu, anak didik kita masih rendah mutu keberhasilannya dalam menghadapi tantangan masa depan. Salah satu penyebab ketidakberhasilannya adalah kurangnya penguasaan berbahasa, yaitu bahasa Inggris. Selain sebagai bahasa international juga berfungsi sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan, politik dan ekonomi. Sehingga sangat penting untuk dikuasai seluruh generasi muda kita.

Akan tetapi hasil yang kita lihat saat ini kurang memuaskan. Itu terlihat pada hasil belajar siswa sekolah dasar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah dimana wajib belajar sembilan tahun (wajar) sama sekali jauh dari harapan. Wajar tidak bisa diandalkan untuk memaksimalkan keterampilan siswa. Khususnya untuk mata pelajaran bahasa Inggris yang notabene sebagai bahasa internasional.

Masalah itu muncul di sekolah pedesaan. Mereka menyebutnya sebagai salah satu momok mata pelajaran. Hanya kurang lebih 25 persen yang dikatakan minat dan sedikit berhasil dibanding 75 persen lainnya dalam satu kelasnya. Faktor-faktor tersebut adalah kurangnya fasilitas pendukung, semisal media pembelajaran yang menarik, kurangnya fasilitas guru/pengajar dalam mengembangkan keterampilan siswa. Terbatasnya sarana pendukung semisal kamus, kurang dukungan dari keluarga/masyarakat, kurangnya minat siswa itu sendiri.

Baca juga:  Tak Susah Belajar Pantun dengan Every One Is Teacher Here

Untuk itu penulis mencoba mencari solusi untuk memecahkanya melalui beperapa siklus pembelajaran. Pada pengalaman pertama sebelum penulis menerapkan siklus-siklus selanjutnya, pernah diujikan sebuah teks procedure dengan cara dibacakan di depan siswa. Selanjutnya siswa mencermati apa yang diucapkan penulis.

Dilanjutkan memberi beperapa pertanyaan menggunakan isi teks tersebut akan tetapi setelah dilihat, hasilnya hanya 25 persen yang mengerjakan dengan baik. Disamping itu siswa terlihat bosan dan malas merespons proses pembelajaran.

Dari pengalaman itulah penulis mencoba untuk meningkatkan hasil pembelajaran melalui metode demonstrasi dipadu pada pembelajaran pendekatan CTL (Contectual Teaching and Learning).
Siswa diajak beraktivitas secara langsung sehingga akan menjadi bahan pengalaman bagi mereka. Belajar merupakan usaha seseorang untuk membangun pengetahuan dalam dirinya. Dalam proses belajar terjadi perubahan dan peningkatan mutu kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan siswa, baik segi kognitif, psikomotor maupun efektif.

Baca juga:  WhatsApp untuk Belajar Daring Interaktif

Winkel (1996) mendefinisikan belajar sebagai suatu aktifitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap. Perubahan itu bersifat tetap dan berbekas. Belajar dapat dipandang sebagai usaha untuk melakukan proses perubahan tingkah laku ke arah menetap sebagai pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya.

Belajar aktif menurut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis dan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien. Artinya guru dapat merekayasa model pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya di dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

Baca juga:  Menciptakan Bisnis Kecil dengan Belajar Desain Sederhana

Pendekatan CTL memiliki 7 elemen penting. Yaitu kontruktivistik, inkuiri, pertanyaan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian otentik. Para ahli berpendapat bahwa model pembelajaran CTL sangat cocok untuk diterapkan di zaman pendidikan sekarang yang lebih mengarah pola kontektual, bermakna dan menyenangkan. (fkp1/lis)

Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Kradenan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya