alexametrics

Terampil Berbahasa, Cerdas Berliterasi Media Digital

Oleh : Anita Utami

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Umberto Eco, seorang filsuf Italia, pernah berkata, “Jika Anda hendak menggunakan televisi untuk mengajar, Anda mula-mula harus mengajar bagaimana menggunakan televisi” (Eco, 1993). Dalam konteks pendidikan di era digital ini, pernyataan tersebut memantik kesadaran untuk tidak sekadar menggunakan media sebagai alat pembelajaran. Lebih dari itu, peserta didik perlu dibekali keterampilan untuk berliterasi media secara cerdas, kritis dan bertanggung jawab.

Lantas, apa yang dimaksud dengan literasi media? Botturi (2019) merumuskan literasi media sebagai kemampuan untuk mengakses, menganalisis, dan memproduksi informasi. Seseorang dikatakan terampil berliterasi media ketika ia mampu memilih, mengakses dan menganalisis informasi dengan penuh tanggung jawab.

Ia juga harus dapat menciptakan konten menggunakan beragam pilihan teknologi. Tidak berhenti di situ, seorang literat digital juga mampu merefleksikan penggunaan media secara etis, serta melakukan aksi sosial untuk berkolaborasi dan berbagi via media yang tersedia.

Menilik definisi tersebut, sudah sepatutnya guru menumbuhkan keterampilan berliterasi media. Alasannya, sebagai literat digital, peserta didik akan tumbuh menjadi konsumen dan produsen konten yang bijak. Sayangnya, literasi media belum terumuskan secara eksplisit dalam kurikulum nasional. Maka dari itu, guru perlu cerdik menyematkan muatan literasi media ke dalam materi pembelajaran yang telah ada.

Baca juga:  Belajar Tenses Mudah dengan Jari-Jari Tangan

Pada pembelajaran bahasa Inggris di kelas VIII di SMPN 2 Salatiga, upaya menyemai keterampilan literasi media digital ini dilakukan melalui media sosial Instagram. Pilihan ini berlandasan data bahwa Indonesia berada pada urutan keempat negara dengan pengguna Instagram terbanyak (Rizaty, 2021). Artinya, Instagram adalah platform yang familiar dan memiliki potensi besar sebagai wahana berlatih merumuskan aksi sosial.

Dalam penerapannya, ketrampilan literasi digital disematkan pada materi Expressing Ability and Willingness sebagai proyek kampanye media sosial yang menyerukan pentingnya pola pikir positif di masa pandemi. Pendekatan Genre Based dipilih karena sifatnya yang membantu peserta didik untuk berkomunikasi. Pembelajaran dimulai dengan membangun konteks.

Pada langkah awal ini, guru membangun pengetahuan peserta didik terkait fungsi sosial, struktur, dan unsur kebahasaan ungkapan Ability and Willingness. Diskusi dan tanya jawab menggali peluang penggunaan bahasa seturut konteks personal peserta didik berlangsung melalui aplikasi Zoom.

Baca juga:  Matematika Membuat Alam Menjadi Indah

Langkah kedua adalah menelaah dan mendekonstruksi teks. Di tahap ini, guru membahas aspek kebahasaan yang membentuk teks. Di sini, guru menstimulasi kemampuan berpikir kritis dengan mengaitkan materi dengan konteks pribadi peserta didik. Selanjutnya, pada tahap latihan terbimbing, peserta didik diajak berlatih memproduksi teks lisan.

Akhirnya, media sosial diintegrasikan pada tahap unjuk kerja mandiri. Guru terlebih dulu menjelaskan dan mendemonstrasikan kampanye Instagram How to Stay Positive during Pandemic. Tidak lupa, peserta didik juga disajikan informasi mengenai kegrafikaan dan etika bermedia sosial. Berdasarkan contoh yang telah diberikan, peserta didik diminta melakukan kampanye sosial via Instagram.

Hasilnya, satu minggu setelah penugasan, terdapat lebih dari seratus konten Instagram dengan tagar #StayPositive sebagai dampak dari kampanye sosial ini. Selain itu, berdasarkan pengamatan, peserta didik juga menunjukkan keterampilan berkomunikasi menggunakan multimodal text, yakni gabungan dari beberapa moda teks (semisal teks, gambar, dan video).

Baca juga:  Gali Materi Interaksi Makhluk Hidup melalui Discovery Learning

Ini merupakan dampak samping positif yang tidak direncanakan sebelumnya. Simpulannya, literasi media digital via Instagram tidak hanya mewadahi praktik penerapan keterampilan berbahasa, namun juga meningkatkan keterampilan berpikir kritis, berkomunikasi dan berkreasi.

Pada akhirnya, di era digital saat penggunaan teknologi tak terelakkan. Guru bertanggung jawab untuk membekali peserta didik untuk cerdas berliterasi media digital. Harapannya, generasi mendatang tidak hanya menjadi konsumen media yang pasif, namun dapat memberi dampak positif lewat kreasi konten yang positif dan bertanggung jawab. (dd2/lis)

Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya