alexametrics

Penugasan Proyek Tingkatkan Keterampilan Siswa Belajar IPA

Oleh : Sri Sarwitati S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, KOMPETENSI keterampilan menjadi bagian utama dalam proses belajar setelah Ujian Nasional (Unas) ditiadakan. Siswa diarahkan dan dibimbing untuk belajar pemecahan masalah (Problem Solving) dan berpikir kritis (Critical Thinking).

Selain kedua hal tersebut, pada pembelajaran IPA, proses pembelajaran lebih diarahkan pada keterampilan proses yang memiliki tiga langkah kunci melalui metode ilmiah, yaitu melakukan pengamatan, menginferensi, dan mengomunikasikan.

Pengamatan untuk mengumpulkan data dan informasi dapat dilakukan dengan pancaindra dan/atau alat ukur yang sesuai. Kegiatan inferensi meliputi merumuskan penjelasan berdasarkan pengamatan untuk menemukan pola-pola, hubungan-hubungan, dan membuat prediksi. Kemudian, hasil temuan tersebut dikomunikasikan kepada teman dan guru, baik secara lisan maupun tulisan (Buku Guru Kurikulum 2013).

Kemampuan guru pun ditantang dalam masa pandemi Covoid-19 ini. Bagaimana guru mampu melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan keterampilan proses tanpa harus bertatap muka ataupun kombinasi daring dan luring.

Baca juga:  Implementasi Model Pembelajaran Daring di Sekolah Dasar

Kelas VI SD Negeri Cebongan I Salatiga memiliki jumlah siswa 21 yang memiliki latar belakang kemampuan yang beragam, tetapi siswa lebih mudah diarahkan dan dibimbing. Karena mereka menyadari sudah akan memasuki jenjang SMP. Pada pembelajaran IPA, guru memberikan penugasan proyek dengan tagihan akhir dalam bentuk produk.

Pada awal pelajaran, guru menjelaskan tentang pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran air dengan mengirimkan video dan juga materi dalam bentuk power point (kegiatan mengamati). Dalam materi power point, guru memberikan tugas tentang membuat alat penjernih air sederhana.

Setelahnya, guru meminta siswa yang belum paham tentang tugas ini untuk datang kesekolah dengan diantar orang tua. Dari 21 siswa, ada 11 siswa yang belum memahami tugasnya. Guru meminta kesebelas siswa ini untuk datang ke sekolah dengan jadwal kedatangan yang berbeda. Kelompok 1 pukul 08.00 dan kelompok 2 pukul 10.00. setelah semua siswa paham akan tugasnya, guru memberikan waktu pengerjaan selama dua minggu.

Baca juga:  Kriteria Utama Peningkatan Profesionalisme Guru

Minggu pertama, guru membimbing siswa dalam merancang alat dan bahan terlebih dahulu (kegiatan menginferensi). Rancangan dituliskan mengikuti kerangka penulisan yang sudah diberikan dan dijelaskan guru. Siswa yang sudah selesai membuat rancangan, akan mengirimkan rancangan tersebut pada guru melalui whatsapps. Guru kemudian memberikan masukan ataupun revisi jika memang diperlukan. Jika rancangan sudah selesai dikoreksi guru, maka guru akan mempersilahkan siswa mengerjakan proyeknya. Dalam waktu satu minggu tersebut, 21 siswa sudah bisa menyelesaikan rancangannya dengan baik.

Pada minggu kedua, siswa mulai mengerjakan proyek membuat alat penjernih air secara mandiri di rumah dan dibantu orang tua masing-masing. Bagi siswa yang sudah selesai, diminta membawa produknya kesekolah untuk mencoba didepan guru sekaligus memperoleh nilai (kegiatan mengomunikasikan secara lisan). Kegiatan terakhir, guru membimbing siswa dalam membuat laporan tertulis.

Baca juga:  Belajar Virtual lebih Mudah dan Atraktif melalui Media Video

Peningkatan keterampilan siswa dengan memberikan penugasan proyek ternyata berdampak positif pada perkembangan siswa. Siswa lebih percaya diri karena guru memberikan kebebasan berpikir dan melakukan tugasnya. Di awal pembelajaran, siswa belum yakin, tetapi dalam perjalanannya, siswa makin yakin dan juga kemampuan berbicara dan menjelaskan semakin meningkat. (dd2/ida)

Guru SD Negeri Cebongan I Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya