alexametrics

Bangkitkan Semangat Belajar Siswa dengan Role Playing

Oleh : Karsiti Migunani S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu masalah yang dihadapi oleh tenaga pengajar adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi. Otak siswa dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut memahami informasi yang diingat untuk dihubungkan dengan kehidupan.

sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mengaplikasikan kegiatan pembelajaran yang menarik di kelas. Misalnya dengan cara menyapa siswa dengan ramah dan bersemangat, menciptakan suasana rileks, memotivasi siswa, dan menggunakan metode pembelajaran yang variatif.

Menurut Depdiknas (2007), bahasa merupakan alat komunikasi utama bagi

seorang anak untuk mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya. Anak-anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik umumnya memiliki kemampuan dalam mengungkapkan pikiran, perasaan, serta tindakan interaktif dengan lingkungannya. Proses pembelajaran yang berlangsung di Sekolah Dasar (SD), khususnya pembelajaran tematik dirasakan sebagian besar siswa kurang memiliki daya tarik untuk dipelajari. Banyak siswa SDN 02 Mayangan kelas 3 yang nilainya di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Baca juga:  Penggunaan Model Pembelajaran Talking Stick Tingkatkan Kualitas Pembelajaran PPKn

Dalam pelaksanaan pembelajarannya juga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Siswa cenderung lebih berminat terhadap pelajaran lain. Siswa dalam belajar cenderung merasa bosan, kurang tertarik, bahkan monoton atau berjalan seperti hari-hari biasa sebelumnya.

Berbicara adalah suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar. Depdiknas (2005) mengemukakan bahwa metode bermain peran adalah cara memberikan pengalaman pada anak melalui bermain peran. Yakni siswa akan diminta memainkan peran tertentu dalam suatu permainan peran. Misalnya, bermain jual beli sayur, bermain menolong anak yang jatuh, bermain menyayangi keluarga, dan lain-lain.

Sanjaya (2007) menyatakan bahwa langkah-langkah metode role playing sebagai berikut, pertama, menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai role playing. Kedua, guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan dimainkan. Ketiga, guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam role playing, peranan yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta waktu yang disediakan. Keempat, guru memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya, khususnya kepada anak yang terlibat dalam permeranan.

Baca juga:  Dongkrak Semangat Belajar dengan Diktat Digital

Role playing mulai dimainkan oleh kelompok pemeran. Kelima, guru menarik perhatian anak. Keenam, guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan. Ketujuh, role playing hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong anak berpikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang dimainkan. Kedelapan, melakukan diskusi tentang peran yang dimainkan.

Dampak pembelajaran metode Role Playing dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Selain memberikan pengalaman yang menyenangkan, sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias. Dapat membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi. Berbagai faktor tersebut bisa mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran siswa. (ct3/ida)

Baca juga:  Picture and Picture Tingkatkan Kemampuan Literasi Siswa dalam Memahami Materi Sejarah

Guru SDN 02 Mayangan, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya