alexametrics

Pembelajaran Make a Match pada Mata Pelajaran TIK

Oleh : Mamik Setyaningrum, S.Kom

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di kurikulum 2013 sudah dihapus dan hanya dijadikan sebagai bimbingan saja. Sangat disayangkan dengan adanya penghapusan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yang pada dasarnya mata pelajaran ini sangat penting untuk perkembangan generasi Indonesia pada era teknologi komputasi seperti saat ini.

Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yang hanya bimbingan saja di kelas berdampak peserta didik menjadi kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran TIK. Untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran di kelas menggunakan beberapa metode pembelajaran dan salah satunya adalah make a match. Penggunaan model pembelajaran ini dapat meningkatkan keaktifan peserta didik untuk lebih antusias mempelajari TIK.

Model pembelajaran make a match (mencari pasangan) dikembangkan oleh Lorn Curron pada tahun 1994 pada model ini siswa diminta mencari pasangan dari kartu (Aqib Zainal, 2013:23). Tarmizi dalam Novia (2015:12) menyatakan bahwa model pembelajaran make a match artinya siswa mencari pasangan setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban) lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang.

Baca juga:  Kemampuan Mengaji Siswa Meningkat dengan VoiceNote WhatsApp

Adapun tahapan pelaksanaan model pembelajaran yang dilakukan guru dalam menerapkan model make a match dalam proses belajar mengajar. Adapun tahapnya adalah guru membagi siswa menjadi 3 kelompok siswa, kelompok pertama merupakan kelompok pembawa kartu berisi pertanyaan-pertanyaan, kelompok kedua adalah kelompok pembawa kartu berisi jawaban dan kelompok ketiga berfungsi sebagai kelompok penilai (Ciandra dalam Novia, 2013:13).

Sedangkan untuk penyampaian materi dengan masing-masing kelompok berada di posisi yang telah ditentukan dan guru memberikan tanda agar kelompok pertama dan kedua mencari pasangannya masing-masing sesuai pertanyaan atau jawaban di kartunya. Dan guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk berdiskusi, dan diskusi dilakukan oleh peserta didik yang membawa kartu yang berisi jawaban.

Baca juga:  Profil Guru BK dalam Layanan Mempesona di Masa Pandemi

Pasangan yang telah terbentuk wajib menunjukkan pertanyaan dan jawaban kepada kelompok penilai. Kelompok penilai kemudian membaca pasangan pertanyaan jawaban yang cocok, setelah penilaian selesai dilakukan atur kelompok pertama dan kedua bersatu memposisikan menjadi kelompok penilai.

Pasangan yang telah terbentuk wajib menunjukkan pertanyaan dan jawaban kepada kelompok penilai. Kelompok penilai kemudian membaca apakah pasangan pertanyaan itu cocok setelah selesai dilakukan atur sedemikian rupa kelompok pertama dan kelompok kedua bersatu kemudian memposisikan dirinya menjadi kelompok penilai.

Sementara kelompok penilai sesi pertama dibagi menjadi dua kelompok sebagian anggota memegang lembar pertanyaan dan sebagian memegang lembar jawaban kemudian posisi peserta didik seperti huruf U. Guru memberi tanda kemudian pemegang kartu pertanyaan dan jawaban mencari pasangannya. Maka setiap pasangan menunjukkan hasil kerja kepada penilai.

Baca juga:  Demonstrasi dan Eksperimen Tingkatkan Pemahaman Rangkaian Listrik Sederhana

Metode pembelajaran make a match mampu menciptakan suasana yang aktif dan menyenangkan bagi peserta didik. Dan penyampaian materi yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa. Apabila suasana belajar penuh kegembiraan akan tumbuh proses pembelajaran yang berjalan lebih menyenangkan dan tujuan pembelajaran tercapai. Pembelajaran TIK yang semula dilaksanakan siswa kurang bersemangat menjadi lebih bersemangat dan peserta didik mudah untuk memahami materi TIK yang susah untuk dicerna seperti : Internet dan Jaringan Internet , Dampak Media Sosial, Operasi Dasar Komputer dan lain-lain. (unw1/ton)

Guru SMPN 5 Ambarawa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya