alexametrics

Tanamkan Pendidikan Karakter melalui Tembang Macapat Gambuh

Oleh : Warmi, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Bahasa Jawa merupakan salah satu bagian dari mata pelajaran pada kurikulum 2013. Bahasa Jawa termasuk muatan lokal (mulok) wajib di provinsi Jawa Tengah berdasarkan surat edaran kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Jawa Tengah no 424.13242 tanggal 23 Juli 2013. Bahasa Jawa memiliki peran sentral dalam perkembangan budi pekerti budaya Jawa, intelektual, sosial dan emosional siswa.

Bahasa Jawa mencerminkan budaya yang penuh karakter dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu sebagai masyarakat orang Jawa berperan nguri – uri atau melestarikan bahasa Jawa. Upaya melestarikannya dengan menerapkan berkomunikasi antara sesama orang Jawa, hendaknya tetap menggunakan bahasa Jawa. Namun berdasarkan fakta yang ada, jaman sekarang orang Jawa sendiri enggan berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Ada anggapan berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa seperti orang desa.

Baca juga:  Kelas Terbalik saat Pembelajaran Matematika di SMPN 1 Salatiga

Peran pentingnya bahasa Jawa diajarkan di sekolah, dikarenakan bahasa Jawa juga mengajarkan karakter berkepribadian orang Jawa. Diharapkan peserta didik memiliki karakter seperti tata krama, sopan – santun, tepa slira, dan rendah hati. Peserta didik sebagai generasi penerus yang akan menentukan nasib bangsa kita ini. Jangan sampai ada pepatah Wong Jawa Ilang Jawane.

Berdasarkan hal demikian, maka saya praktikan pada pembelajaran bahasa Jawa di SMP N 20 Semarang, yakni pembelajaran kelas VIII semester gasal, khususnya pada KD 4.2 menanggapi teks piwulang serat wulangreh pupuh Gambuh / tembang macapat Gambuh.

Karakter adalah gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber pada bentukan – bentukan yang diterima dari lingkungan sekitarnya (Koesoema, 2010 :3). Karakter dalam hal ini adalah watak, sikap, tabiat, dan kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil kebijakan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai orang Jawa.

Baca juga:  Serunya Belajar Sikap Rendah hati dengan Metode Picture and Picture

Menurut Trianto (2010 :17), pembelajaran secara simple dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dengan demikian pengalaman belajar sangat berpengaruh pada tercapainya tujuan pembelajaran. Pembelajaran bahasa Jawa yang diajarkan kepada peserta didik yaitu pembelajaran tembang macapat Gambuh, yakni menggali nilai – nilai karakter yang terkandung dalam tembang tersebut.

Pembelajaran tembang macapat Gambuh, masing – masing pada tembang, mengandung nilai – nilai karakter yang pantas ditanamkan kepada peserta didik. Sebagai misal tembang Gambuh pada kelima, Si Kidang ambegipun, ngendelaken kebat lumpatipun, pan Si Gajah ngendelaken agenginggil ula ngendelaken iku, mandine kalamun nyakot.

Berdasarkan kutipan tembang tersebut, Kijang menyombongkan diri atas kelincahan jalannya, Gajah menyombongkan badannya yang besar tinggi, selanjutnya ular menyombongkan tentang bisanya. Dari kutipan tembang tersebut ditanamkan karakter kepada peserta didik, hendaklah rendah hati baik kepada siapapun dan dimana pun kita berada.

Baca juga:  Motivasi Siswa Belajar PAI Meningkat dengan Aktivitas Kontekstual

Berdasarkan pembelajaran di SMP N 20 Semarang melalui tembang macapat Gambuh menjadi pengalaman yang menarik, menyenangkan peserta didik. Selain itu peserta didik termotivasi dan antusias berusaha melaksanakan nilai – nilai karakter tersebut sebagai kepribadiannya dalam kehidupan di sekolah maupun di masyarakat sekitarnya. (ips2/ton)

Guru Bahasa Jawa SMP N 20 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya