alexametrics

Menjadi Guru Kreatif di Masa Pandemi

Oleh : Eri Kuntarto, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi virus corona mestinya tidak menjadi halangan bagi guru untuk tetap melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Guru yang kreatif adalah mereka yang memiliki wawasan yang luas di bidangnya dan mampu memanfaatkan media-media teknologi sebagai sarana penunjang dalam pembelajaran jarak jauh. Kreativitas guru dapat dilakukan dengan cara membuat atau mendesain pengajaran yang bervariasi, menarik dan diminati oleh peserta didik (E. Mulyasa, 2004: 36).

Selain kreatif, guru juga harus inovatif. Dalam arti, guru perlu memakai metode-medote yang baru dalam pengajaran. Metode yang lama yang dimana guru selalu berbicara dari awal hingga akhir pembelajaran (teacher center), harus segera ditinggalkan. Sebab, pembelajaran seperti itu sangat monoton dan membosankan. Guru harus memberikan ruang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengeksplorasi diri.

Dalam konteks itu, guru hanya berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi proses berlangsungnya pembelajaran virtual. Fasilitator hendaknya menempatkan pembelajar atau peserta didik sebagai pusat pembelajaran. Maksudnya, peserta didik sendirilah yang bersikap aktif partisipatif dalam proses pembelajaran.

Baca juga:  Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa melalui Tugas Video Proses Pembuatan Jaring-Jaring Tabung

Peserta didik juga harus aktif dalam mencari sumber-sumber lain di internet terkait materi yang sedang dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil melalui break room di zoom dan kemudian mempertanggungjawabkan hasil diskusinya. Dan manakala mereka menemukan kesulitan, guru kemudian mengarahkan mereka sehingga kesulitan tersebut dapat diatasi secara cepat.

Sejak pandemi Covid-19 merebak di Indonesia di awal Maret 2020, sekolah tempat dimana penulis mengajar, kemudian mengambil langkah cepat dan tepat untuk melaksanakan pembelajaran virtual. Sekolah kemudian membangun kerja sama dengan penyedia layanan aplikasi zoom meeting dan google classroom untuk keberlangsungan pembelajaran virtual tersebut. Awalnnya, kami para pendidik dan peserta didik merasa asing dengan dua aplikasi ini karena belum pernah dipakai dalam proses pembelajaran sebelumnya. Namun demikian, melalui pelatihan-pelatihan yang dilakukan secara terus menerus bersama tim IT sekolah, akhirnya aplikasi tersebut dapat digunakan secara efektif.

Baca juga:  Menulis Teks Eksplanasi dengan Metode Kooperatif

Ada beberapa kelebihan yang penulis temukan dari aplikasi zoom meeting dan google classroom. Kelebihan aplikasi zoom misalnya, pendidik dapat berkomunikasi via suara dengan peserta didik. Komunikasi juga dapat dilakukan melalui fitur chat yang tersedia di zoom.

Di samping itu, pendidik juga dapat melakukan share screen materi pembelajaran. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bahwa proses pembelajaran dapat direkam sehingga pembelajaran tersebut dapat dilihat kembali kapan saja untuk kemudian mengevaluasi apa saja kelemahan dalam proses pembelajaran.

Sementara kelebihan aplikasi google classroom, yakni pendidik dapat meng-upload materi yang sudah dipelajari bersama di zoom dan memberikan tugas-tugas kepada peserta didik. Peserta didik juga dapat meng-upload tugas-tugas yang telah dikerjakan. Selain itu, pendidik juga dapat mengoreksi secara langsung dan memberikan penilaian atas tugas-tugas peserta didik.

Baca juga:  Caption by Whats App Story

Kelebihan-kelebihan kedua aplikasi tersebut tentu saja tidak dapat memecahkan kendala-kendala dalam proses pembelajaran virtual. Setidaknya ada beberapa kendala yang penulis temukan dalam proses pembelajaran virtual selama ini, antara lain: Pertama, banyak peserta didik yang tidak disiplin dalam memulai kegiatan pembelajaran. Kadang-kadang beberapa peserta didik mengikuti pembelajaran hanya 30 menit terakhir. Padahal, pembelajaran virtual hanya berlangsung selama satu jam per mata pelajaran. Kedua, peserta didik sering kali menutup kamera saat pembelajaran berlangsung. Hal ini mengganggu proses pembelajaran karena pendidik harus menegur peserta didik yang bersikap demikian. (ra2/ton)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 3 Ampelgading Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya