alexametrics

Pembelajaran Blended Learning PAI dengan Flipped Classroom Model

Oleh : Badroh Rif’atin, S.Ag

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Di awal tahun 2020-2021 pemerintah merencanakan mengadakan sekolah tatap muka dengan pembatasan. Guru kali ini mendapat tantangan untuk menerapkan pembelajaran tatap muka hanya dengan separo dari total siswa yang ada.

Sementara sisanya masih belajar dari rumah. Dengan kondisi seperti ini bagaimana guru terutama guru PAI bisa memastikan mulai dari pemahaman siswa sampai hasil belajar siswa tetap merata meskipun berada di lokasi yang berbeda.

Untuk menjawab permasalahan tersebut penulis mencoba model pembelajaran blended learning dengan flipped classroom model pada mata pelajaran PAI.

Apa itu blended learning? Blended learning adalah model pembelajaran yang menggabungkan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran dalam jaringan (daring) baik dari cara penyampaian hingga gaya pembelajaran. Sehingga kombinasi pengajaran yang tercipta akan menekan interaksi sosial tapi tidak meningggalkan aspek teknologi.

Sedangkan flipped classroom yaitu sebagian aktivitas pembelajaran yang biasanya diselesaikan di kelas, kini dapat diselesaikan di rumah terlebih dahulu secara mandiri oleh siswa sebelum akhirnya pembelajaran tatap muka lagi di kelas.

Baca juga:  Media LFB Mampu Tingkatkan Ketrampilan Menulis Teks Non-Fiksi

Sebelum membahas materi yang akan diajarkan, guru memberikan tugas terlebih dahulu kepada siswa. Baik berupa video maupun presentasi secara on-line yang dapat diakses siswa dari manapun. Model ini membuat siswa dituntut lebih mandiri karena mereka mempelajari bahan terlebih dahulu sebelum ada pertemuan di kelas.

Adapun penerapan flipped classroom PAI pada pembelajaran blended learning ada enam langkah umum yang dapat dilakukan. Pertama bagi siswa menjadi 2 kelompok besar. Kelompok 1 akan melakukan pembelajaran tatap muka di periode pertama dan pembelajaran daring di periode selanjutnya. Sementara kelompok 2 akan melakukan pembelajaran daring di periode pertama dan pembelajaran tatap muka di periode selanjutnya.

Kedua, bagi materi ajar menjadi 2 kategori. Kategori A adalah materi yang dapat dipelajari siswa secara mandiri (dirumah) dan kategori B yang perlu dipandu dan didiskusikan dengan guru dan teman sebaya.

Baca juga:  Gerakan Literasi Sekolah Memaksimalkan Kemampuan Membaca Siswa

Ketiga, untuk siswa kelompok 1 periode pertama digunakan untuk pembelajaran tatap muka berfokus pada materi kategori B yang lebih menekankan pada diskusi dan aktivitas pembelajaran yang dipandu oleh guru.

Setelah itu, pada periode selanjutnya saat siswa belajar di rumah, guru dapat melakukan pembelajaran daring yang menekankan pada materi kategori A. Untuk siswa kelompok 2, periode pertama digunakan untuk pembelajaran daring berfokus pada materi kategori A yang lebih menekankan aktivitas penugasan mandiri yang dapat dilakukan siswa dari rumah.

Setelah itu, pada periode selanjutnya saat siswa belajar tatap muka, guru dapat fokus pada materi kategori B dengan mengadakan aktivitas diskusi dan pembelajaran aktif lainnya saat di kelas. Pastikan guru mengatur waktu dengan baik agar jam pembelajaran siswa kelompok 1 dan kelompok 2 tidak saling bertabrakan.

Baca juga:  Caption by Whats App Story

Akhiri kegiatan pembelajaran dengan refleksi secara berkala berkaitan dengan kendala ataupun kesulitan yang dihadapi siswa. Selama pembelajaran blended learning bisa diadakan uji kompetensi dengan Google Form, Quizizz ataupun yang lain untuk mengecek pemahaman serta ketuntasan hasil belajar siswa terhadap materi yang diajarkan.

Pembelajaran di tengah pandemi menggunakan metode blended learning model flipped classroom (pembelajaran terbalik). Yaitu siswa mempelajari terlebih dahulu di rumah sesuai tugas yang diberikan guru. Dengan flipped classroom kemampuan siswa untuk berpikir kritis (critical thinking), bekerja sama (collaborative), kemampuan berkomunikasi (communication skills), dan berpikir kreatif dan inovatif (creative/innovative) dapat dilaksanakan dengan baik. Guru tidak lagi mendominasi waktu di kelas melainkan terjalin interaksi guru dan siswa semakin menyenangkan. (ra1/lis)

Guru Pendidikan Agama Islam SMAN 4 Kota Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya