alexametrics

Membaca Teks Recount Dengan Memotret Cerita Bergambar

Oleh: Nanang Hasan, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Salah satu keterampilan berbahasa dalam mempelajari bahasa Inggris adalah membaca (reading). Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis (Henry Guntur Tarigan, 2008: 7).

Seberapa besar dan cepat pesan dapat diserap oleh pembaca saat membaca, sangat dipengaruhi oleh seberapa besar pembaca menguasai dan memahami kosa kata yang dipakai oleh penulis.

Untuk mempermudah pembaca menyerap pesan yang diharapakan, maka penulis harus berusaha untuk menggunakan kosa kata yang sesuai dengan jenjang usia pembaca.

Teks Recount adalah salah satu dari teks-teks yang harus dikuasai oleh siswa tingkat SMP. Recount secara leksikal berarti to describe how something happened, or to tell a story (https://dictionary.cambridge.org).

Nur Zaida (2017: 105) mengemukakan bahwa recount text is the text that retells events or experiences. Artinya, teks recount adalah teks yang menceritakan kembali peristiwa lampau atau pengalaman.

Untuk memudahkan siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri 2 Comal dalam memahami teks recount pada keterampilan membaca dan juga memicu minat baca mereka, penulis mempergunakan metode pemotretan dan visulisasi recount dalam bentuk gambar.

Baca juga:  Penggunaan Google Form sebagai Alat Penilaian Pembelajaran

Pemotretan bertujuan mempertajam ingatan pada bacaan, sehingga pemahaman mereka semakin baik, sementara gambar akan menarik keinginan mereka membaca, sehingga memicu minat baca mereka.

Pemotretan yang penulis maksudkan di artikel ini bukanlah pengambilan gambar oleh alat pemotret atau kamera, sehingga terbentuk sebuah gambar baik cetak maupun maupun soft. Namun pemotretan yang dimaksud di sini adalah pemotretan objek dengan ketajaman penglihatan mata dan pengamatan, sehingga terbentuklah objek, baik berupa gambar maupun tulisan di pikiran bawah sadar.

Objek yang terbentuk dalam pikiran bawah sadar, baik berupa gambar maupun tulisan, akan melekat dalam pikiran dengan sangat kuat, dan hal itu pula yang membantu siswa memahami dan menganalisa teks atau cerita yang diberikan bahkan menghafalnya jika dibutuhkan.

Begitupun cerita bergambar yang penulis maksudkan bukanlah sekedar gambar, namun gambar yang dapat mewakili seluruh atau sebagian besar dari beberapa kalimat yang tertulis di sekitar gambar tersebut.

Baca juga:  Pembelajaran Jarak Jauh Mapel PPKn Menggunakan Google Classroom

Saat kita menuliskan kalimat “Last Sunday, I and my family went to our uncle’s house. We went there by our own car.” misalnya, maka gambar yang melatar belakangi kalimat itu adalah sebuah gambar berupa rumah dengan sinar matahari bersinar dari arah tertentu yang terlihat jelas, dan sebuah mobil yang berpenumpang.

Gambar akan lebih memberikan makna jika dibuat dalam bentuk kartun murni dan berwarna.

Adapun langkah awal untuk pembelajaran dengan metode ini adalah mempersiapkan siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri 2 Comal, untuk duduk dalam posisi rileks, dan mendengarkan apersepsi yang disampaikan berkenaan dengan menariknya metode yang akan dipergunakan. Setelah kondisi mereka terlihat siap untuk menerima materi, penulis meminta mereka untuk menarik nafas panjang kemudian menahannya beberapa saat untuk kemudian dilepaskan, sebanyak tiga kali. Hal ini bertujuan agar pasokan oksigen di otak mereka cukup.

Baca juga:  Strategi Everyone Is A Teacher Here Tumbuhkan Sikap Mandiri Siswa

Langkah berikutnya adalah pengamatan. Langkah ini merupakan langkah inti yang harus dilalui siswa dalam metode ini. Pada langkah ini mereka diminta untuk memperhatikan gambar yang ada di hadapan mereka. Pada dua atau tiga detik pertama, mereka diminta mengamati gambar secara keseluruhan tanpa ada gerakan apapun dan tanpa kedipan mata. Kemudian mereka diminta untuk memejamkan mata sambil membayangkan gambar yang mereka potret sebelumya. Tahap berikutnya mereka mengamati gambar lebih rinci, bagian demi bagian termasuk kalimat yang tertulis di gambar tersebut dengan teori yang sama dengan dua atau tiga detik pengamatan pertama.

Jika pengamatan pada halaman pertama dianggap cukup, maka mereka diminta untuk menceritakan ulang kalimat dari halaman tersebut, baik dengan kalimat asli maupun kalimat yang dibuat sendiri. Langkah-langkah tersebut diberlakukan pada halaman-halaman selanjutnya sampai akhir cerita. (ag2/ton)

Guru SMP Negeri 2 Comal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya