alexametrics

Ciptakan Pembelajaran Matematika Asyik dengan Pendekatan Saintific

Oleh : Dedi Priyono, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Menurut Wahyuni (2016), kemampuan berpikir kritis sangatlah penting dalam membantu peserta didik untuk mengembangkan dan meningkatkan bakatnya. Selain itu, berpikir kritis juga dapat memfokuskan dan melatih konsentrasi tentang suatu permasalahan serta dapat berpikir secara analitik.

Salah satu yang merupakan tahap awal yaitu survei meliputi kondisi lapangan, kondisi siswa dan identifikasi permasalahan yang ada di lapangan.

Pembelajaran sebelum dan sesudah pandemi, menurut kebanyakan peserta didik terutama siswa kelas 5 pada mata pelajaran matematika adalah pelajaran yang sangat membosankan dan manakutkan. Karena dalam penyampaian pembelajarannya yang tidak variatif bisa membuat daya kreativitas peserta didik kurang berkembang.

Melihat permasalahan di atas, maka penulis menerapkan matematika pada suatu pendekatan saintific. Yang biasanya kegiatan pendahuluan dilakukan untuk memantapkan pemahaman peserta didik tentang pengetahuan awal yang telah dikuasai dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran sehingga menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu tersebut dapat menjadi dasar yang kuat untuk belajar pada kegiatan inti.

Baca juga:  Media Crossword Puzzle, Belajar Tata Surya menjadi Asyik

Pada kegiatan inti peserta didik melakukan kegiatan belajar dengan metode ilmiah. Agar kegiatan pembelajaran inti dapat menjadi terarah dan bermakna, maka pendidik harus menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis sesuai langkah metode ilmiah.

Rusman (2015) mendefenisikan pendekatan saintifik sebagai pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa secara luas untuk melakukan eksplorasi dan elaborasi materi yang dipelajari, selain itu memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengaktualisasikan kemampuan melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh guru.

Berikut ini terdapat beberapa tahapan yang dilalui dalam menerapkan Scientific Approach, di antaranya adalah : Pertama, fase pengamatan. Selama proses observasi, maka para siswa sangat diharapkan memahami apa yang diberikan oleh guru, misalnya seperti video atau film yang berhubungan dengan materi pembelajaran.

Baca juga:  Media Kartu Huruf Tingkatkan Motivasi Anak dalam Membaca Permulaan

Kedua, bertanya. Dalam kurikulum 2013, siswa dituntut untuk dapat memberikan pertanyaan kepada guru yang mengajar tentang materi pembelajaran. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mendapatkan jawaban tentang informasi yang belum dipahami. Ketiga, mengumpulkan informasi yang didapat. Setelah siswa memiliki pertanyaan dengan melihat media yang ditampilkan oleh guru, tugas selanjutnya bagi siswa adalah mengumpulkan informasi.

Informasi tersebut nantinya akan digunakan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Informasi ini dapat diakses melalui berbagai sumber belajar seperti buku, studi perpustakaan dan bahkan Internet. Keempat, mengolah informasi. Setelah menerima informasi dan data yang dianggap memadai, kemudian para siswa membagi tugas untuk menghubungkan atau memproses informasi yang diterima guna menjawab pertanyaan yang sudah dirumuskan dan menyajikannya dalam bentuk laporan kelompok.

Baca juga:  Akslerasi Keterampilan Menulis dengan Trik Dengar Cerita Tulis Kembali

Kelima, mengkomunikasikannya. Dalam menerapkan pendekatan ilmiah, guru harus memberikan setiap siswanya kesempatan untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari.

Akhirnya dengan pendekatan saintific, siswa kelas 5 SDN 01 Simego Petungkriyono sangat membantu peserta didik dalam mengikuti pelajaran. Karena kegiatan pembelajaran ini bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran supaya peserta didik merasa bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan, melatih peserta didik dalam mengemukakan ide-ide dan meningkatkan hasil belajar peserta didik. (ips3/ton)

Guru Kelas V SDN 01 Simego Petungkriyono Kec. Petungkriyono Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya