alexametrics

Integrasikan Budi Pekerti dengan Mapel yang Relevan, Kuatkan Karakter Siswa

Oleh : Dra Hj Nurokhmi MM

Artikel Lain

RADARAEMARANG.ID, Secara psikologis, remaja siswa SMP, memasuki masa pubertas dan mengalami masa pancaroba dalam menentukan jati diri. Terkadang terjadi ketidakseimbangan antara perkembangan intelektual dengan kematangan kepribadian sehingga menjadi sosok yang rentan mengalami distorsi nilai. Karena itu pembentukan kepribadian melalui pendidikan budi pekerti sangat penting pada usia remaja ini.

Budi berarti pikir atau akal, pekerti berarti perbuatan, sehingga budi pekerti adalah perwujudan dari perilaku akal dalam sikap dan perbuatan. Budi pekerti adalah sikap dan perilaku individu, yang didasarkan atas kesadaran akan adanya nilai atau norma tertentu.

Budi pekerti berisi nilai-nilai perilaku manusia yang diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui norma agama, norma hukum, tata krama, sopan santun, norma budaya, dan adat istiadat masyarakat (Ali Muhtadi, 2010:5).

Baca juga:  Metode Drill dan Practice Meningkatkan Keterampilan Siswa pada Pembelajaran TIK

Manfaat budi pekerti luhur bagi diri seseorang adalah untuk mengembangkan akhlak dan berkepribadian yang baik. Sedangkan untuk orang lain dapat menciptakan perdamaian dan ketenteraman lingkungan, karena dari orang-orang yang mempunyai budi pekerti luhur, mereka akan saling tolong- menolong antar sesama, saling berbagi, dan lain-lain.

Budi pekerti memiliki fungsi penting, di antaranya landasan berprilaku di masyarakat, serta pencegahan segala tindakan dan perilaku buruk atau kurang baik di masyarakat. Contoh budi pekerti baik dalam kehidupan sehari-hari, hormat dan patuh kepada orang tua, membantu orang tua, menolong sesama teman, saling menghormati antarumat beragama, minta maaf ketika salah dan tidak mengulanginya, mengucapkan terima kasih jika dibantu, minta izin jika masuk rumah atau kamar orang lain, tidak menghina atau merendahkan orang lain, dan lainnya.

Baca juga:  Pembelajaran Naratif Berbantukan Puzzle

Implementasi pendidikan budi pekerti secara teknis di sekolah, antara lain dapat dilakukan dengan pengintegrasian konten kurikulum pendidikan budi pekerti dengan seluruh mata pelajaran yang relevan, terutama pendidikan agama. Sedangkan pengintegrasian pendidikan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan melalui keteladanan, kegiatan spontan, teguran, dan pengkodisian lingkungan (Ali Muhtadi, 2010:9-10).

Agar nilai-nilai moral tertanam dengan baik melalui pendidikan budi pekerti, maka perlu ditekankan tentang motivasi yang menjadi landasan atau azas tentang perlunya berperilaku yang baik. Setidaknya ada dua azas bisa menjadi landasan etika. Pertama, azas kemanfaatan bagi umat manusia. Artinya seseorang berbuat baik adalah karena didorong oleh motivasi kemaslahatan bagi kehidupan masyarakat.

Dalam salah satu hadits Rasulullah SAW, disebutkan,“sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” seperti melalui tolong-menolong, bantu-membantu untuk menciptakan kesejahteraan hidup bersama. Kedua, azas pertanggungjawaban ukhrawi, yakni keyakinan adanya kehidupan manusia setelah mati. Jadi kesadaran akan adanya Allah SWT yang akan membalas perilaku akhlak manusia ini, memberikan landasan kokoh bagi terciptanya akhlakul karimah seseorang.

Baca juga:  Mengenal Keberagaman Karakteristik Individu dengan Model Kartu Berpasangan

Hasilnya, seseorang akan melakukan perbuatan baik kapan dan dimanapun berada, karena perbuatan itu akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat di hadapan Allah. Dengan demikian, pendidikan budi pekerti perlu dilakukan melalui kultur komunitas atau kultur sekolah yang berbasis budi pekerti dan agama, yang dikelola dalam jaringan kerjasama dan kesamaan nilai atau norma dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan budi pekerti. (ips1/ida)

Guru Budi Pekerti dan Pendidikan Agama Islam SMPN 28 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya