alexametrics

Asyiknya Belajar Nabi Muhammad SAW Panutanku melalui Metode Bercerita

Oleh : Rohmatun, S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Belajar adalah suatu proses mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang baik. Untuk mendapatkan pembelajaran yang baik banyak faktor pendukung.

Di antaranya media yang menarik, metode yang tepat, pendekatan yang sesuai dan lingkungan yang mendukung. Maka diperlukan kejelian guru dalam merancang pembelajaran agar suatu materi dapat disampaikan secara tepat dan berhasil.

Penulis masih menemui kendalam dalam mengajar PAI di kelas III di SD Negeri 03 Pendowo Kecamatan Bodeh. Masih terdapat siswa yang kurang memahami materi pembelajaran baik di kelas.

Penulis menerapkan metode bercerita pada materi pembelajaran Nabi Muhammad panutanku di kelas III. Metode bercerita merupakan salah satu cara yang ditempuh guru untuk memberi pengalaman belajar kepada anak. ]

Menurut Madyawati (2016), bercerita adalah salah satu keterampilan berbicara yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada orang lain dengan cara menyampaikan berbagai macam ungkapan, perasaan yang sesuai dengan apa yang dialami, dirasakan, dilihat, dan dibaca.

Baca juga:  Analisis Trend Nilai untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Memilih Jurusan Kuliah

Menurut Gunarti dkk (2008), bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan pesan, informasi atau sebuah dongeng belaka, yang bisa dilakukan secara lisan dan tertulis.

Metode bercerita bertujuan untuk menghibur, melatih anak berkomunikasi dengan baik. Memahami pesan dari cerita dan mampu mengungkapkan ide cerita serta menambah wawasan dan pengetahuan bahasa secara luas.

Langkah-langkah metode bercerita pada pembelajaran Nabi Muhammad panutanku di kelas III sebagai berikut: pertama guru melakukan apersepsi dan brainstorming yang membangkitkan semangat belajar dan mengarah pada suatu materi. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

Lalu, menentukan topik cerita tentang Nabi Muhammad panutanku. Topik yang diangkat keteladanan nabi Muhammad dalam kehidupan. Misalnya tentang kejujuran Nabi Muhammad dalam berdagang, kesabarannya dalam menerima musibah atau cobaan, ketaatan Nabi Muhammad kepada Allah SWT.

Setelah itu, menyusun kerangka cerita dengan mengumpulkan bahan-bahan. Misalnya Kisah Nabi Muhammad, Nabi Muhammad dan Sahabat, Teladan Nabi Muhammad selain materi yang disampaikan oleh guru. Kemudian menyusun sebagai sebuah cerita monolog yang siap diperdengarkan di kelas ataupun dengan voice note yang bisa dibagi di dalam grup WhatsApp. Selanjutnya, mengembangkan kerangka cerita.

Baca juga:  Efektifkan Pemahaman Ayat-Ayat Berpikir Kritis dengan POT

Kerangka cerita yang sudah dibuat kemudian dikembangkan sesuai pokok-pokok cerita. Contoh ketika Nabi Muhammad berdagang secara jujur, ketika Nabi Muhammad menolong orang yang sedang kesusahan. Kemudian menyusun teks cerita.

Penyusunan teks cerita dilakukan dengan menggabungkan poin-poin dari kerangka cerita yang telah dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitan antar poin. Setelah itu, hasil teks cerita untuk diserahkan ke guru untuk dikonsultasikan tentang seni peran atau suara dan isi dalam cerita sehingga teks cerita layak untuk diperdengarkan.

Guru memberikan komentar pada hasil teks cerita yang dikumpulkan kemudian teks cerita siap untuk diperdengarkan. Teks cerita ini bisa diperdengarkan dalam bentuk voice note, peraga langsung, atau rekaman tayangan video yang siap untuk ditonton. Setelah semua siswa bercerita guru memberikan penilaian dan tanggapan-tanggapan. Langkah terakhir, guru memberikan kesimpulan dan refleksi pembelajaran.

Baca juga:  BKT Tingkatkan Disiplin Siswa di Masa Pandemi

Metode bercerita memberikan manfaat antara lain menanamkan pengetahuan sosial, nilai-nilai moral keagamaan. Selain itu merupakan alat pendidikan budi pekerti yang paling mudah dicerna anak di samping teladan yang dilihat anak tiap hari.

Namun metode bercerita memiliki kelemahan. Yaitu pemahaman siswa akan menjadi sulit ketika kisah itu telah terakumulasi oleh masalah lain. Bersifat monolong dan dapat menjenuhkan siswa. Sering terjadi ketidakselarasan isi cerita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit diwujudkan.

Agar metode bercerita ini berhasil, guru perlu menyaring isi skenario cerita yang akan dibacakan di depan kelas atau ditampilkan. Misalnya dengan menggunakan properti atau kostum yang sesuai, memainkan karakter suara. (ips2/lis)

Guru PAI SD Negeri03 Pendowo

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya