alexametrics

Supervisi Klinis, Pendekatan Diagnosa Tipe Guru

Oleh : Nur Sa’idu

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Masa pandemi ini menimbulkan banyak persoalan dalam pembelajaran, dari keluhan guru tentang penyesuian masalah sistem pembelajaran yang tepat sesuai kondisi status zona wilayah sebaran pandemi, juga dihadapkan pada persoalan tentang komitmen berbagai macam tipologi guru, performansi kerja dalam melaksanakan tugasnya.

Masalah yang krusial yang dihadapi guru saat ini berkaitan efektifitas PJJ baik (daring, luring, blended) dengan berbagai macam problemanya. Hal ini menuntut pengawas untuk beradaptasi dan mengubah strategi dalam melakukan supervisi yang tepat dalam menyelesaikan persoalan, salah satunya melalui pendekatan klinis/supervisi klinis.

Supervisi Klinis ini pada dasarnya merupakan pembinaan performansi guru mengelola proses belajar mengajar (Cogan,1973). Supervisi klinis sama halnya dengan proses diagnosa penyakit oleh dokter. Mulai mencari dulu sebab-sebab dan jenis penyakitnya. Setelah mendapatkan gambaran jelas sebab dan kondisi pasien, kemudian memberikan saran atau pendapat bagaimana sebaiknya agar penyakit itu tidak semakin parah, dan pada waktu itu pula dokter berusaha memberi obat atau resep obatnya.

Baca juga:  Supervisi Akademik Pengawas “PEMALAS” Genjot Efektivitas Pembelajaran

Berkaitan supervisi klinis , pengawas juga dihadapkan pada berbagai macam persoalan guru dalam pembelajarannya dengan berbagai karakteristik tipe guru yang berbeda-beda, menuntut pengawas harus dapat membedakan jenis dan strategi yang tepat yang akan digunakan.

Lebih jelasnya kaitan supervisi klinis dengan karakteristik guru, dapat dilihat dengan menggunakan variabel pengembangan, yaitu: tingkat kompetensi/berpikir abstrak dengan tingkat komitmen guru dalam melaksanakan tugas.

Atas dasar itu dapat dikategorikan empat sisi (kuadran) prototipe guru yaitu: (1) Kuadran I (Guru Professional), memiliki tingkat kompetensi/abstraksi yang tinggi dan tingkat komitmen yang tinggi, melalui peningkatan kemampuan yang terus menerus untuk mengembangkan dirinya.

Dalam masa apapun mampu mencetuskan ide-ide, kreatifitas aktivitas maupun sarana penunjang, tetapi juga terlihat secara aktif dalam melaksanakan suatu rencana sampai selesai (pemikir sekaligus pelaksana); (2) Kuadran II (Guru Analytical Observer), Guru ini memiliki tingkat kompetensi/abstaksi tinggi tetapi tingkat komitmen rendah. Ia pandai, suka mengkritik, kemampuan bicara tinggi, mencetuskan ide-ide besar, tetapi ide-idenya tak pernah/jarang terwujud; (3) Kuadran III (Guru Drop-Out) mempunyai tingkat kompetensi/abstraksi dan tingkat komitmen yang rendah.

Baca juga:  Peran Guru Bimbingan Konseling dalam Masa Pandemi Covid-19

Guru ini memiliki ciri-ciri, yaitu: hanya melakukan tugas rutin tanpa tanggung jawab, perhatiannya sekedar mempertahankan pekerjaannya, memiliki sedikit sekali inovasi untuk memikirkan perubahan apa yang perlu dibuat, dan puas dengan melakukan tugas rutin yang dilakukan hari ke hari; (4) Kuadran IV (Guru Unfocused Worker) memiliki tingkat kompetensi/abstraksi yang rendah, tetapi tingkat komitmennya tinggi. Ia terlalu sibuk, sangat energetik, antusias dan bekerja sangat keras penuh kemauan.

Ia berkeinginan untuk menjadi guru yang lebih baik, membuat situasi kelas lebih menarik, sesuai dengan keadaan peserta didik, serta biasanya meninggalkan sekolah penuh dengan pekerjaan yang akan dibuat di rumah. Sayangnya tujuan-tujuan yang baik tersebut terhalang oleh kurangnya kemampuan guru untuk menyelesaikan persoalan dan jarang sekali melaksanakan segala sesuatu secara realistis.

Baca juga:  Bikin Senang Belajar Matematika dengan Metode PMR, Dunianya Riil

Dari hasil analisis tipologi guru dapat digunakan pengawas/kepala sekolah dalam menetapkan strategi pembinaan yang paling jitu bagi guru yaitu : (1) Strategi non-direktif cocok digunakan tipe guru yang profesional, (2) Strategi kolaboratif cocok untuk tipe guru tukang kritik dan guru yang sibuk . (3) Sedangkan untuk guru yang kurang bermutu pengawas diharapkan lebih aktif dalam membimbing dan memberikan pembinaan dalam meningkatkan kemampuan kompetensinya serta performansi kinerjanya, strategi yang tepat adalah supervisi klinis langsung. (ra1/ton)

Pengawas Madrasah Kec. Bringin Kab. Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya