alexametrics

Pendampingan Orang Tua dalam Pembelajaran IPS Tahun Ajaran 2021/2022

Oleh : Sri Rejeki, S.Pd, M.Si

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MASA pandemi Covid-19 merupakan masa-masa sulit bukan untuk mereka saja yang terinfeksi virusnya, namun juga untuk semua orang yang ada di muka bumi ini. Pandemi Covid-19 yang sudah melanda Indonesia 1 tahun lebih telah membuat banyak perubahan diberbagai bidang, salah satunya pendidikan.

Pandemi Covid-19 telah mengubah praktik pembelajaran, dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh. Kondisi tersebut telah membuat sejumlah peserta didik mengalami kehilangan kesempatan belajar.

Kehilangan kesempatan belajar tidak hanya dirasakan oleh peserta didik, tetapi juga dirasakan oleh satuan sekolah dan orangtua.

Dalam pelaksanaan pembelajaran IPS secara daring yang dilakukan peserta didik di SMP Negeri 1 Kaliwungu, Kabupaten Kendal, peserta didik merasa banyak mengalami hambatan. Beberapa hambatan yang dialami oleh peserta didik ialah keterbatasan waktu dalam proses pembelajaran daring, kesulitan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru, kendala jaringan yang terkadang kurang stabildan suasana rumah yang terkadang kurang kondusif untuk belajar. Selain itu juga, peserta didik merasa sangat bosan dalam pembelajaran IPS yang dilakukan oleh guru.

Baca juga:  Metode Role Playing melalui Daring untuk Pembelajaran Narative Text

Dampak sari situasi pandemi Covid-19 pada peserta didik adalah kejenuhan dan kebosanan. Dari adanya hambatan-hambatan yang ada peserta didik sangat berharap apabila guru melakukan perubahan media pembelajaran yang hanya menggunakan Whatsapp grup, tetapi juga menggunakan media pembelajaran berbasis video conference, seperti zoom, google meet, skype atau aplikasi lainnya.
Dalam proses pembelajaran di rumah diharapkan guru serta orangtua dapat mewujudkan pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik atau kognitifnya saja, tetapi dapat mewujudkan pendidikan yang bermakna, dibutuhkan saling pengertian dari pemerintah, sekolah serta masyarakat dan kegita elemen tersebut harus saling bersinergi.

Adanya sinergi antar komponen pendidikan yang baik dan kuat akan menciptakan suatu suasana baru dengan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Posisi orangtua dalam pendidikan anak dirumah harus ditekankan lebih kepada teman belajar yang membantu anak saat kegiatan pembelajaran.

Baca juga:  Efektifitas Pembelajaran IPS melalui Mind Mapping dengan Aplikasi Gitmind

Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan di SMP Negeri 1 Kaliwngu Kabupaten Kendal pendampingan orang tua dalam proses pembelajaran IPS yang dilakukan peserta didik hanya dilakukan secara tidak menentu. Tidak menentu ini maksudnya dilakukan hanya ketika orang tua sedang tidak sibuk dengan pekerjaan rumah dan pekerjaanpekerjaan lain yang harus dilakukan oleh orang tua. Dalam proses pendampingan ini, orang tua membantu anak saat anak merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Orangtua juga membantu siswa dalam memahami materi pembelajarn yang guru sampaikan. Dalam hal peranan orangtua dirumah hal tersebut sebenarnya sudah cukup bagus, namun hanya saja tidak dilakukan setiap anak melakukan kegiatan pembelajaran dikarenakan orangtua juga memiliki pekerjaan lain, seperti bekerja, mengurus rumah, mengurus hewan ternak, dan lain sebagainya.

Baca juga:  Tebak Sila Pancasila sebagai Pendukung Penerapan Sila Pancasila

Namun, kurang mengetahuinya akan adanya tujuan pendidikan dalam 3 ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik membuat hal ini menjadi kurang optimal. Perlunya komunikasi dan koordinasi yang baik pada semua komponen pendidikan sangat diperlukan guna meningkatkan kefektifan dan optimalisasi kegiatan pembelajaran di rumah. Hal ini dilakukan juga agar anak tidak merasa bosan dan jenuh dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.

Selain itu pula, orangtua juga harusnya mampu memberika movitasi atau dorongan agar anak dalam belajar menjadi lebih bersemangat. Menurut Yuliarti (dalam Kurniati dkk., 2020) pada dasarnya anak memiliki motivasi untuk melakukan suatu hal, apabila ia mendapatkan sebuah dorongan dari orang-orang terdekat seperti orangtua. (ips2/zal)

Guru SMPN 1 Kaliwungu, Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya