alexametrics

Asyiknya Belajar Asmaul Husna dengan Metode Hanifida

Oleh: Nurkholis, M.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan dapat dikatakan berhasil dan mencapai tujuan jika dalam proses pembelajaran tersebut memiliki makna.

Guru sebagai pengelola kelas harus mampu menciptakan suasana yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan dan mengeksplorasikan semua potensi yang dimilikinya.

Terwujudnya pembelajaran yang bermakna adalah terciptanya orkestra yang selaras antara lingkungan, materi belajar, persiapan dan ketrampilan dalam kelas.

Peran guru sebagai pendidik professional harus mampu menjadi konduktor orchestra pembelajaran yang senada sehingga tercipta harmonisasi pembelajaran (Abdurahman, 2007:120).

Ketrampilan guru dalam memilih metode pembelajaran agar menghasilkan pembelajaran bermakna sangat dibutuhkan.

Metode dalam pembelajaran merupakan usaha guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada guru (teacher centered learning), tetapi lebih ditekankan pada keaktifan siswa (student centered learning).

Pemilihan Metode yang tepat akan menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan/PAIKEM (Masitoh. 2009).

Baca juga:  Mari Biasakan Gosok Gigi Sejak Dini

Dalam rangka meningkatkan pemahaman materi Asmaul Husna pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMAN 1 Larangan Brebes diterapkan metode hanifida.

Metode hanifida merupakan metode menghafal dan memahami Asmaul Husna dengan mengembangkan ilustrasi yang dapat menumbuhkan imajinasi verbal dengan menentukan kode angka primer, sekunder dan gambar yang digunakan sebagai media belajar (Idawati Mahmud dan Hanifudin Mahadun, 2006).

Metode ini merupakan hasil pengembangan dari teori pembelajaran “The Accelerated Learning” yang ditemukan oleh George Lazanov dan teori “Quantum Learning” oleh Bobbi de Porter.

Metode Hanifida memadukan fungsi kerja otak kiri dan kanan, otak kiri yang cenderung analitik, logika, khusus, berulang, terperinci, tersusun, saintifik dan matematik.

Baca juga:  Daring (Meguru Karo Wong Nom)

Sedangkan otak kanan memiliki kecenderungan lebih kreatif, imajinatif, umum, intuitif, konseptual, empati, berserak dan lebih merespon gambar-gambar (http//hairihazlan.com. 05/07/2015).

Tahap awal pembelajaran dengan metode hanifida pada materi Asmaul Husna adalah memperkenalkan angka primer dari angka 0 (nol) sampai 9 (sembilan).

Angka 0 diasosiasikan dengan gambar Darah (D), 1 gambar teri (T), 2 gambar nuri (N), 3 gambar mie (M), 4 gambar pari (P), 5 gambar sanca, 6 gambar lup (L), 7 gambar jari (J), 8 gambar bayi (B) dan angka 9 gambar gir ( G).

Tahap kedua menggabungkan angka primer menjadi angka sekunder, misalnya angka 01 = DT, angka 10 = TD , angka 25=NS dan seterusnya sampai pada angka 99 yaitu GG.

Langkah ketiga pada pembelajaran ini dengan mengasosiasikan kembali angka sekunder dengan symbol huruf dan nama – nama benda, misalnya: angka 01 = DT ( DoT), angka 05 = DS (DaSi), angka 10 = TD (TenDa), angka 25 = NS (NaSi) dan seterusnya sampai angka 99 = GG (GiGi).

Baca juga:  Tawakal sebagai Perwujudan Asmaul Husna Al Wakil

Langkah terakhir pada pembelajaran metode hanifida dengan mengaitkan angka sekunder, simbol gambar dan keterangan Asmaul Husna dengan menambahkan sedikit kalimat pada media pembelajaran.

Sebagai contoh : angka sekunder 05 simbol DS gambarnya DaSi, menggunakan kalimat “Orang BerDaSi yang mengucapkan Salam hidupnya Sejahtera”. Maksudnya untuk Asmaul Husna ke-5 yaitu As Salam artinya Yang Maha Sejahtera.

Dengan metode hanifida yang menyenangkan siswa terpacu untuk meningkatkan pemahamannya terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti pada materi Asmaul Husna. Siswa dapat mengekspresikan dan memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. (ips2/lis)

Guru SMAN 1 Larangan, Brebes

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya