alexametrics

Meminimalkan Perilaku Konsumtif melalui Konseling Kelompok

Oleh : Andrianto Sigit Nugroho, S.Psi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Di era globalisasi sekarang berbagai bidang seperti ekonomi, teknologi dan industri telah mengalami kemajuan yang sangat pesat.

Adanya kemajuan ini tentunya akan memudahkan masyarakat dalam melakukan aktifitas kehidupan.

Masa remaja merupakan fase perkembangan yang sangat rawan baik secara fisik, psikologis, sosial dan moral. Dalam masa ini seorang remaja mulai mendambakan identitas diri yang menjadi sebab kebingungan remaja tersebut dalam menentukan siapakah diri mereka yang berakibat terjadinya penyimpangan perilaku dalam kehidupan.

Remaja merupakan salah satu kelompok yang sangat potensial sebagai target pemasaran produk mereka, sehingga remaja tumbuh dalam budaya konsumerisme yang membuat remaja terlibat dalam perilaku konsumtif. Lebih lanjut, karakteristik remaja yang mudah terbujuk rayuan dan masih labil, impulsif dalam berbelanja kurang realistis dalam berpikir, serta cenderung berperilaku boros yang menjadikan remaja lebih konsumtif menurut Bush (Hylander, 2013).

Perilaku konsumtif adalah perilaku mengonsumsi barang atau jasa yang dapat dilakukan oleh siapapun karena di dorong oleh keinginan yang lebih kuat dibandingkan dengan kebutuhannya terhadap barang atau jasa tersebut (Hariyono, 2015).
Perilaku konsumtif ini dapat memengaruhi di dalam gaya hidup sekelompok remaja.

Baca juga:  Display at Home Solusi Belajar Menata Produk di Masa Pandemi

Hal tersebut tidak muncul begitu saja pada diri seseorang remaja tetapi tumbuh dari proses-proses tertentu di dalam pribadinya. Fenomena di lingkungan SMK Negeri 2 Purwodadi menunjukkan adanya perilaku-perilaku konsumtif khususnya pada siswa.

Hal ini dapat dilihat dari penampilan siswa yang mengikuti tren model masa kini, serta kebiasaan membeli barang-barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa itu sendiri. Perilaku konsumtif akan berakibat memengaruhi perkembangan siswa, baik kepribadiannya maupun kehidupannya. Sehingga perilaku konsumtif akan dapat terus mengakar dan menjadi gaya hidup konsumtif pada siswa tersebut.

Konseling kelompok menjadi salah satu alternatif layanan yang dapat dilaksanakan oleh konselor guna menyelesaikan berbagai permasalahan konseli melalui seting kelompok secara efektif dan efisien (Fibkins, 2014).

Tahap- tahap pada konseling kelompok di antaranya tahap awal mengacu pada periode waktu yang digunakan untuk perkenalan dan diskusi topik seperti tujuan kelompok, apa yang diharapkan, peraturan kelompok, tingkat kenyamanan, dan isi kelompok.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Produksi Masal dengan Model Pembelajaran Project Based Learning

Pada tahap awal ini, anggota memeriksa anggota lain dan tingkat kenyamanan mereka sendiri dengan berbagi dalam kelompok. Tahap kerja adalah tahap inti dari proses konseling kelompok karena para anggota kelompok fokus pada tujuan.

Para anggota mempelajari materi baru, membahas secara menyeluruh berbagai topik dan menyelesaikan tugas. Tahap akhir dikhususkan untuk mengkhiri kelompok. Selama tahap akhir, anggota kelompok berbagi apa yang telah mereka pelajari, bagaimana mereka telah berubah dan bagaimana mereka berencana untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari (Jecobs, 2012).

Konselor berperan sebagai pemimpin kelompok, yang dilakukan oleh konselor kepada sejumlah individu yang sedang mengalami permasalahan dalam hidupnya, dengan memperhatikan perbedaan karakteristik dari anggota kelompok dan permasalahan yang dialaminya, melalui dinamika kelompok yang dipimpin oleh konselor yang menangani permasalahan konseli terkait permasalahan yang ada di rumah, di sekolah maupun dengan teman-temannya.

Baca juga:  Tingkatkan Penyesuaian Diri dengan Teknik Team Building Games

Konselor berfokus pada perbedaan anggota kelompok, sedangkan antar-anggota kelompok bisa saling membantu untuk menyelesaikan masalah dengan bantuan konselor.

Konseling kelompok juga dapat digunakan untuk belajar mengekspresikan perasaan, menunjukkan perhatian terhadap orang lain, dan berbagi pengalaman. Siswa yang memiliki perilaku konsumtif baik di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah akan berperilaku bergaya hidup konsumtif, jika tidak diberikan perhatian dan penanganan khusus, dampaknya tidak saja pada dirinya pada masa sekarang akan tetapi juga terhadap perkembangan kehidupannya selanjutnya.

Dengan layanan konseling kelompok, siswa sebagai anggota kelompok dapat menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan lebih mampu menghayati perasaan orang lain. Dapat disimpulkan bahwa dengan layanan konseling kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan konseling yang tepat untuk meminimalkan perilaku konsumtif siswa. (unw1/lis)

Guru BK SMKN 2 Purwodadi, Kabupaten Grobogan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya