alexametrics

Belajar Wacana Eksposisi dengan menjadi Reporter

Oleh : Dini Eka Rahmawati, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Masa pandemi yang melanda Indonesia, menyebabkan pembatasan pada bidang pendidikan. Pelaksanaan pendidikan yang awalnya tatap muka berubah menjadi daring (dalam jaringan). Guru dan peserta didik bertemu dalam ruang virtual. Belajar mengajar kadang juga bergantung pada kuota. Situasi ini membuat keterbatasan penyampaian materi pada peserta didik. Kompetensi yang dicapai juga perlu perlakuan khusus untuk menuntaskannya.

Pada Kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Jawa memuat tentang kompetensi mampu menulis dan menyampaikan wacana eksposisi dengan menggunakan bahasa jawa. Menulis menurut Henry Guntur Tarigan (2008: 3) adalah salah satu keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak secara tatap muka dengan pihak lain. Berdasar pemahaman tersebut jelas bahwa menulis adalah kegiatan aktif dan menghasilkan produk berupa tulisan.

Belajar menulis kemudian mengungkapkan hasil tulisannya. Kedua hal ini adalah dua langkah yang cukup sulit, karena tidk hanya kompetensi menulis, namun juga kompetensi berbicara. Materi ini menghadirkan kesulitan ganda dalam pembelajaran situasi terbatas ini. Guru harus mencari cara penguasaan kompetensi ini dengan memanfaatkan lingkungan dan tidak melanggar aturan tetap di rumah.

Baca juga:  Belajar PJOK melalui Video Pembelajaran Powerpoint No Boring

SMA Negeri 1 Gabus mencoba menggunakan bentuk penugasan praktik menjadi seorang reporter berita yang menyampaikan hasil laporan reportase dengan bahasa Jawa dan memenuhi kaidah wacana eksposisi. Pertama yang dilakukan guru tentulah memberikan contoh teks reportase dalam bahasa Jawa. Kemudian memberikan contoh reportase menggunakan bahasa Jawa. Biarkan peserta didik memahami contoh teks dan video reportase.

Pada pertemuan virtual selanjutnya aka nada penugasan yang hasil akhirnya berupa video reportase dengan tema yang ada di rumah. Misalkan bisa tentang makanan tradisional ataupun tentang jenis rumah dan bagian-bagian dalam rumah peserta didik, atau juga bisa dengan objek lain yang sekiranya tidak perlu keluar rumah.

Bisa saja yang menjadi teman menyelesaikan tugas dan belajar adalah orang tua dan atau anggota keluarga. Hal ini dapat lebih mengakrabkan dan mengeratkan hubungan antarkeluarga, dan juga dapat meningkatkan semangat belajar peserta didik.

Baca juga:  Berlatih Kompak dengan Team Work Mengenal Asmaul Husna

Beri waktu dua kali pertemuan berikutnya sebagai kesempatan mereka menyusun teks reportase dan membuat video rekaman reportase mereka. Cukup berikan durasi waktu singkat untuk reportase antara 2-3 menit. Hal ini bertujuan agar saat mengunggah video tidak menghabiskan kuota. Video bisa diunggah ke media sosial atau hanya kirim video pada guru. Semua tergantung kemampuan pada masing-masing peserta didik. Pilih yang hemat dan tidak menghabiskan kuota, sehingga tidak menyulitkan peserta didik.

Kenapa dipilih menjadi seorang reporter, diharapkan dengan menjadi reporter mereka memiliki keberanian, rasa percaya diri dan mampu mengembangkan potensi. Keterampilan bertambah dalam reportase dan juga mereka akan belajar menguasai gawai mereka saat melakukan proses editing video.

Guru sebelumnya haruslah menyiapkan contoh teks. Bisa hal ini mencari di internet atau akan lebih menantang lagi jika guru sendiri yang melakukan rekaman.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah dituangkan bahwa guru harus memiliki 4 kompetensi. Kompetensi tersebut adalah kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi ini adalah modal guru yang harus dikembangkan, karena tantangan dalam dunia pembelajaran juga semakin berkembang.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Matematika dengan Snowball Throwing Berbantu Papan Pengurangan

Guru yang masih mengalami kesulitan pembuatan bahan ajar, harus mau belajar, agar tahu bagaimana mengarahkan peserta didik agar pembelajaran yang dilaksanakan mendapatkan hasil yang maksimal dan kompetensi yang ingin dicapai tuntas.

Penggunaan penugasan sebagai reporter dalam belajar wacana eksposisi sangatlah membantu. Peserta didik tidak merasa ternyata telah mempelajari wacana eksposisi saat menyusun wacana eksposisi. Pembelajaran yang menyenangkan akan menciptakan lingkungan yang nyaman, sehingga peserta didik akan lebih mudah belajar dan menerima pelajaran. (agu2/lis)

Guru Bahasa Jawa SMAN 1 Gabus

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya