alexametrics

Menulis Macapat Lebih Greget dengan Teknik Pancing Nganbung Gula

Oleh: Djumarijah, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran bahasa Jawa merupakan mata pelajaran muatan lokal wajib di Jawa Tengah. Setiap minggu siswa menerima pelajaran bahasa Jawa dua jam pelajaran. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 423.5/27/2011 ada beberapa kompetensi dalam pembelajaran bahasa Jawa yang diajarkan pada siswa.

Keterampilan menulis syair tembang macapat adalah salah satu kompetensi yang harus dikuasai siswa dalam pembelajaran bahasa Jawa. Dalam kenyataannya siswa merasa kesulitan. Bahkan merasa tidak mampu untuk membuatnya. Pengalaman merasa kesulitan mengarang atau membuat tembang macapat juga dirasakan oleh siswa-siswi SMP Negeri 2 Salatiga.

Di kelas delapan semester genap saat para siswa mendapat tugas untuk menulis syair tembang Kinanthi pada pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran jarak jauh, pengumpulan tugas banyak yang tertunda. Alasan utamanya siswa merasa kesulitan merangkai kata-kata bahasa Jawa yang dibuat dalam baris-baris tembang Kinanthi.
Kesulitan-kesulitan siswa dalam menulis syair tembang Kinanthi merupakan tantangan guru bahasa Jawa.

Penulis sebagai guru bahasa Jawa harus mengambil tindakan untuk membantu siswa mengatasi kesulitan tersebut. Tindakan itu adalah menulis syair macapat lebih greget dengan teknik “pancing nganbung gula”.

Teknik pancing nganbung gula mempunyai arti pancingan tembung guru lagu. Secara keseluruhan bisa diartikan membuat tembang macapat lebih bersemangat dengan cara dipancing/dibantu/dimotivasi dengan tembung atau kata yang mempunyai guru lagu dari masing-masing baris dari tembang macapat yang akan dibuat.
Lusi Susanti mengatakan motivasi merupakan daya pendorong. Rendahnya motivasi dalam belajar akan menyebabkan sulitnya peserta didik dalam mencapai kesuksesan dalam dalam belajar (Lusi Susanti, 2015).

Menulis tembang macapat seperti pada pembelajaran bahasa Jawa kelas 8 semester genap pada kompetensi menulis syair tembang Kinanthi harus dikuasai siswa dengan baik. Caranya dengan mengetahui aturan atau dalam bahasa Jawa berarti pathokan atau paugeran tembang macapat.

Tembang macapat yang berjumlah sebelas dalam kebudayaan Jawa mempunyai aturan (paugeran) yaitu guru gatra, guru wilangan dan guru lagu. Guru gatra dapat diartikan jumlah baris tiap bait tembang macapat, guru wilangan dapat diartikan jumlah suku kata tiap baris dan guru lagu dapat diartikan suara vokal di akhir baris.
Tembang macapat juga mempunyai ciri ada watak di masing-masing tembang seperti watak senang, sedih, marah, atau putus asa.

Tembang Kinanthi mempunyai aturan atau pathokan guru gatra: 6 baris, guru wilangan: 8, 8. 8, 8, 8, 8 dan guru lagu: u, i, a, i, a, i.
Membuat tembang Kinanthi supaya siswa greget atau bersemangat dalam mempelajari dan membuat salah satunya dengan cara memancing/merangsang atau motivasi siswa dengan memberi kata/tembung yang mempunyai guru lagu dari baris-bari tembang Kinanthi.

Kata-kata yang mempunyai guru lagu dalam tembang Kinanti diusahakan sesuai dengan tema tembang. Sebagai contoh tembang Kinanthi tema pitutur baris pertama guru lagu “u” kata pancingannya bisa tuhu, kalbu, guru, ibu, selanjutnya siswa bisa membuat baris pertama contohnya: Siswa manut dhawuh ibu, Murid iku kudu tuhu. Untuk baris-baris berikutnya anak juga sudah diberi pancingan kata-katanya.

Menulis tembang macapat dengan teknik pancing nganbung gula dapat membangkitkan siswa dalam mempelajari dan membuatnya. Siswa lebih bersemangat dan kreatif dalam menyelesaikan tugas membuat tembang macapat dengan senang hati dan pada akhirnya mendapatkan pengalaman yang berharga untuk mengembangkan kemampuan di dalam belajarnya. (dd1/lis)

Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 2 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Lainnya

Pemkot Magelang Bebaskan Tagihan PDAM untuk Veteran

Tebar Kebaikan Lewat Musik

Lampu Hazard di Sepeda Motor, Pentingkah?

Tradisi Pembaretan dengan Siram Air Bunga

Populer

Artikel Menarik Lainnya