alexametrics

Pembelajaran IPS Materi Proklamasi Kemerdekaan Menyenangkan dengan Sosiodrama

Oleh : Dra Setyowati

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN tentang pahlawan bagi peserta didik tingkat SMP, seringkali dianggap membosankan, menjenuhkan, menjemukan, dan membuat peserta didik kurang konsentrasi. Akibatnya, prestasi peserta didik kurang memenuhi kriteria ketentuan minimal (KKM). Hal ini terjadi pada peserta didik SMPN 2 Brangsong.

Karena itu, penulis berusaha mengatasi kondisi tersebut dengan menerapkan metode sosiodrama/bermain peran/role playing. Ini adalah metode pembelajaran yang di dalamnya terdapat perilaku pura–pura (berakting) dari peserta didik sesuai dengan peran yang telah ditentukan.

Peserta didik menirukan situasi dari para tokoh atau pahlawan dengan tujuan mendramatisasikan dan mengekspresikan tingkah laku ungkapan, gerak-gerik seseorang dalam hubungan sosial antarmanusia. Metode sosiodrama dapat menimbulkan pengalaman belajar, seperti kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterpretasikan suatu kejadian. Melalui sosiodrama, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan antarmanusia, dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama–sama para peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan–perasaan, sikap–sikap, nilai-nilai, dan strategi pemecahan masalah.

Baca juga:  Asyik Belajar Karakteristik Geografis ASEAN dengan Make A Match

Menurut Wahab (2009), sosiodrama/bermain peran adalah berakting sesuai dengan peran yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk tujuan–tujuan tertentu. Menurut Mulyono (2012), role playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran yang diarahkan untuk mengreasikan peristiwa sejarah, peristiwa aktual, atau kejadian–kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang. Terdapat tiga aspek sosiodrama yaitu mengambil peran (role playing) membuat peran (role marking) dan menciptakan serta memotivasi peran sewaktu–waktu diperlukan. Tawar menawar peran (role negotation), metode sosiodrama dalam proses pembelajaran bertujuan agar peserta didik dapat mendramatisasikan tingkah laku atau ungkapan gerak-gerik wajah seseorang atau ungkapan gerak-gerik wajah seseorang dalam sosial atau manusia.

Metode pembelajaran sosiodrama memiliki tujuan sebagai berikut, memberikan pengalaman konkret dari apa yang telah dipelajari, mengilustrasikan prinsip–prinsip dari materi pembelajaran, menumbuhkan kepekaan terhadap masalah–masalah hubungan sosial, menumbuhkan minat dan motivasi belajar peserta didik, menyediakan sarana untuk mengekspresikan perasaan yang tersembunyi di balik suatu keinginan.

Baca juga:  Mudah Lafazkan Huruf Hijaiyah dan Harakat dengan Media Video Animasi

Terdapat tujuh langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran sosiodrama/bermain peran yaitu menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik, memilih peran, menyusun tahap–tahap peran, menyiapkan pengamat, pemeran, diskusi dan mengambil kesimpulan.

Metode sosiodrama memiliki kelebihan dan kekurangan untuk kelebihannya adalah dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Di samping menjadi pengalaman yang menyenangkan. Juga memberikan pengetahuan yang melekat dalam memori otak, sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan membuat kelas menjadi dinamis dan antusias. Bahkan, membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri peserta didik serta menumbuhkan rasa kebersamaan. Peserta didik dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan dibahas dalam proses belajar.

Baca juga:  PJJ Matematika Lebih Menarik dengan Tayangan Video

Sedangkan kekurangan sosiodrama adalah memerlukan waktu yang relatif panjang, memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun peserta didik. Kebanyakan peserta didik yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerankan suatu adegan tertentu. Bahkan, tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.
Dengan demikian metode sosiodrama dalam pembelajaran materi IPS Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada SMP 2 Brangsong kelas 9 semester 2 tahun 2020–2021 dapat membuat pelajaran menjadi lebih asyik, menyenangkan, lebih antusias, tidak membosankan, dan akhirnya hasil pembelajaran lebih meningkat. (pg2/ida)

Guru IPS SMPN 2 Brangsong, Kabupaten Kendal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya