alexametrics

Belajar PAI Lebih Asyik dengan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray

Oleh : Dian Ianah,S.Pd.I.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Peristiwa belajar mengajar banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh karena itu perwujudan proses belajar mengajar dapat terjadi dalam berbagai model. Bruce Joyce dan Marshal Weil mengemukakan 22 model mengajar yang di kelompokkan ke dalam 4 hal, yaitu : Proses informasi, perkembangan pribadi, interaksi sosial dan modifikasi tingkah laku (Joyce & Weil, Models of Teaching, 1980).

Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP) Khususnya materi perilaku jujur,amanah dan istikomah biasanya guru menggunakan metode yang kurang variatif dan memposisikan dirinya sebagai sossok ysng serba tahu.Peserta didik kkurang dilibatkan dalam pemanfaatan potensi yang mereka miliki.ketidak mampuan guru dalam menyajikan pembelajaran yang menarik dikelas,membuat peserta didik merasa jenuh,mengantuk dan kurang kosentrasi akhirnya materi tidak bisa terserap dengan sempurna. Hal ini menjadikan prestasi siswa sangat rendah.

Baca juga:  Meningkatkan Hasil Pembelajaran Matematika melalui Google Meet

Melihat hal ini penullis berinisiatif mencoba menerapkan metode yang melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yaitu metode Two Stay Two Stray (TSTS), dua tinggal dua tamu. Konsep ini dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads). Dengan model pembelajaran ini guru dapat menemukan cara-cara yang lebih baik, komunikatif dan efektif untuk mengatasi masalah pembelajaran.

Dalam proses ini, akan terjadi kegiatan menyimak materi pada peserta didik. peserta didik diajak untuk bergotong royong dalam menemukan suatu konsep. Penggunaan model pembelajaran TSTS akan mengarahkan peserta didik untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Selain itu, alasan menggunakan model pembelajaran TSTS ini karena terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas tiap anggota kelompok, peserta didik dapat bekerjasama dengan temannya, dapat mengatasi kondisi peserta didik yang ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar.

Baca juga:  Pendidikan Budi Pekerti Tingkatkan Kepribadian Siswa

Tahap-tahap pembelajaran dengan model TSTS sebagai berikut: Tahap pertama, guru membagi siswa dalam Kelompok (masing-masing Kelompok terdiri atas 5 atau 6 siswa) dengan mempertimbangkan heterogenitasnya seperti jenis kelamin, kemampuan dan ras. Tahap kedua, guru menjelaskan peraturan yang harus dilaksanakan siswa selama proses pembelajaran dengan teknik tersebut. Untuk mempermudah menjelaskan aturan main proses pembelajaran dengan teknik TSTS guru menggunakan media power point sehingga siswa akan lebih mudah dan cepat mengerti teknik tersebut. Tahap ketiga, guru membagikan lembar kegiatan siswa (LKS) pada tiap-tiap kelompok. LKS ini berisi latihan-latihan soal yang harus dikerjakan siswa selama proses diskusi. Dalam LKS ini juga ditambahkan rangkuman dari materi yang sedang dibahas pada saat itu. Tahap keempat, setelah selesai diskusi, dua peserta didik dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke kelompok yang lain. Dua peserta didik yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. Tahap kelima, setelah semua kelompok melakukan kewajibannya, yakni bertamu kelompok yang lain, kemudian guru mengintruksikan ke tiap-tiap kelompok untuk kembali ke kelompok asal. Tahap keenam, masing-masing kelompok menyimpulkan hasil dari diskusi yang telah dilakukannya, kemudian guru mengacak siswa untuk mewakili kelompoknya. Hal tersebut bertujuan untuk memotivasi siswa supaya lebih aktif dalam belajar tanpa mengandalkan teman sebaya.

Baca juga:  Manfaatkan Aplikasi Canva dalam Pembuatan Media Pembelajaran IPS di Masa Pandemi

Dari proses pembelajaran di atas banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh seperti akan memunculkan semangat peserta didik dalam belajar (aktif). Peserta didik dapat mengevaluasi sendiri, seberapa tepatkah pola pikirnya terhadap suatu konsep dengan pola pikir narasumber, siswa belajar bagaimana bersikap amanah, jujur, dan bertanggung jawab. (gb2/ton)

Guru PAI & BP SMP 1 Karanganyar Kab.Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya