alexametrics

Peningkatan Menulis Teks Cerita Isnpiratif dengan Discovery Learning

Oleh : Siti Sriyati, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dalam pembelajaran memproduksi teks cerita inspiratif secra tertulis terdapat indikator yang harus dipenuhi oleh siswa yaitu memproduksi teks cerita inspiratif secara tulis sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan teks cerita inspiratif (Semi, 2007). Namun dalam proses pembelajaran memproduksi teks cerita inspiratif terhambat dengan kemampuan siswa dalam penentuan ide cerita. Begitu pula yang terjadi di kelas IXA SMP Negeri 20 Semarang belum maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan nilai hasil penilaian harian pada tema “Teks Cerita Inspiratif”. Nilai yang diperoleh peserta didik 70% di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan sebesar 65. Sedangkan yang mendapatkan nilai di atas KKM hanya 30%. Untuk mengatasi kondisi tersebut diperlukan tindakan yang nyata dan model pembelajaran yang tepat.

Proses pembelajaran yang dilakukan hanya mendengarkan dan mengerjakan tugas sehingga menimbulkan kejenuan bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang siswa ikuti kurang menarik sehingga membutuhkan metode dan media yang menarik. Penyajian materi teks cerita inspiratif seharusnya mampu disajikan dengan berbagai model pembelajaran yang menarik, seperti model pembelajaran discovery learning. Model pembelajaran discovery learning adalah suatu model pembelajaran yang prosesnya tidak memberikan pelajaran pada siswa dalam bentuk final, tetapi siswa menemukan sendiri (Rusman, 2012).

Baca juga:  Think Globally Act Locally dalam Pembelajaran Geografi

Berdasarkan sintak model discovery learning tersebut, langkah-langkah pembelajaran yang diterapkan pada tema “Teks cerita inspiratif ” adalah sebagai berikut : a) Peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. b) Peserta didik mengidentifikasi sebanyak mungkin bahan masalah yang relevan dengan bahan pelajaran kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis. Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang dihadapi. c) Peserta didik menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. d) Peserta didik mengumpulan dan mengeksplorasi data. e) Peserta didik mengolah data dan informasi yang diperoleh baik melalui wawancara, observasi dan lain sebagainya. f) Peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil. g) Peserta didik merumuskan prinsip dan generalisasi hasil penemuannya.

Baca juga:  Senangnya Mengenal Beragam Karakteristik Individu dengan TSTS

Kelebihan model discovery learning menurut Roestiyah, (2012) diantaranya sebagai berikut : 1) Mampu membantu siswa mengembangkan, memperbanyak kesiapan serta penguasaan ketrampilan kognitif. 2) Dapat memberikan kegairahan belajar peserta didik. 3) Mampu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuan masing-masing. 4) Metode ini berpusat kepada siswa tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja, membantu bila diperlukan. Setelah guru melaksanakan model discovery learning di kelas IXA SMP Negeri 20 Semarang semester genap tahun pelajaran 2019/2020 pada tema “Teks Cerita Inspiratif”, pembelajaran jadi menyenangkan, peserta didik aktif,dan antusias. Sehingga hasil penilaian harian jadi meningkat, peserta didik yang mendapakan nilai di atas KKM menjadi 95% dan yang mendapatkan nilai di bawah KKM menjadi 5%. Dengan demikian penerapan model discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia. (ipa2/ton)

Baca juga:  Partisipasi Belajar Meningkat dengan Blended Learning

Guru SMP Negeri 20 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya