alexametrics

Aktifkan Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya dengan SFAE

Oleh: Hikmah Wijayanti, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MUATAN seni budaya dan Prakarya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, tidak hanya terwadahi dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri mencakup segala aspek kehidupan. Menurut Haryono (2011:23) dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya, aspek budaya tidak di bahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Karena itu, mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada dasarnya merupakan pendidikan seni dan Prakarya yang berbasis budaya. Salah satu materi yang dipelajari pada siswa kelas IV adalah gerak tari daerah. Materi ini terdapat dalam KD.3.3 Memahami dasar-dasar gerak tari daerah dan KD. 3.4 Meragakan dasar-dasar gerak tari daerah.

Masih rendahnya hasil belajar pada mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dengan materi tari daerah dikarenakan belum adanya metode atau media pembelajaran yang tepat yang sesuai dengan karakteristik materi maupun kondisi siswa, yang dapat membuat siswa ikut aktif dan kreatif. Penggunaa model pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah menjadikan siswa cenderung bosan dan jenuh. Masalah ini harus ditangani dengan mencari model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan. Guru sebagai pengajar dan fasilitator harus mampu melakukan pembelajaran yang menyenangkan, sehingga siswa bisa berperan aktif dalam pembelajaran.

Baca juga:  Dakon KPK FPB, Tingkatkan Pretasi Belajar Matematika Pokok Bahasan KPK dan FPB

Mengaktifkan siswa dapat dilakukan dengan berbagai model, metode, strategi, dan pendekatan pembelajaran yang dapat menjadikan siswa aktif dalam belajar. Salah satunya yaitu model Student Facilitator and Explaining (SFAE). Menurut Supriyono (2013:41) Model SFAE merupakan rangkaian penyajian materi ajar yang diawali dengan penjelasan secara terbuka, memberi kesempatan siswa untuk menjelaskan kembali kepada rekan-rekannya, dan diakhiri dengan penyampaian semua materi ajar kepada siswa.

Adapun Langkah pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut: Pertama, guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. Kedua, guru mendemonstrasikan atau menyajikan contoh contoh gerakan tari daerah. Ketiga, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikan gerakan demi gerakan. Selanjutnya siswa yang sudah menguasai Gerakan tari daerah mempunyai tugas untuk mengajari gerakan tersebut kepada siswa lainnya, misalnya melalui. Keempat, guru mendiskusikan materi yang telah disampaikan dan dipraktikan Bersama sama dengan seluruh siswa. Kelima, guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu. Keenam, guru mengevaluasi dan menutup kegiatan pembelajaran.

Baca juga:  Talking Stick Tingkatkan Hasil Belajar Matematika Bangun Ruang

Hasil capaian nilai Pengetahuan dan Praktik pada KD. 3.3 dan 4.3 di SDN 14 Mulyoharjo Kabupaten Pemalang menunjukkan bahwa penggunaan model Student Facilitator and Explaining (SFAE) dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan hasil belajar siswa yang mencapai persentase ketuntasan 85%, dengan rata-rata nilai kelas 83,25 dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional yang hanya mampu mencapai ketuntasan sebesar 40 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan dengan penggunaan model Student Facilitator and Explaining (SFAE) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, terdapat peningkatan hasil belajar dan dapat menuntaskan belajar siswa. Selain itu dengan metode ini proses kegiatan pembelajaran menjadi lebih aktif dimana siswa tidak canggung lagi untuk mempraktikan dasar gerakan tari daerah karena mereka bisa belajar baik dari guru maupun dengan teman yang sudah mahir dalam melakukan Gerakan tari daerah tersebut. (gb3/zal)

Baca juga:  Dengan NHT Tingkatkan Hasil Belajar pada Materi Penjumlahan Pecahan

Guru SDN 14 Mulyoharjo, Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya