alexametrics

Korelasi Antara Pendidikan Budi Pekerti dengan Pendidikan Agama Islam

Oleh : Dra. Hj. Nurokhmi, M.M.

Artikel Lain

<RADARSEMARANG.ID, Pendidikan Budi Pekerti dapat disebut pula sebagai pendidikan karakter atau juga pendidikan kepribadian, moral dan etika. Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Sedangkan pendidikan budi pekerti atau karakter secara sederhana, dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan secara sengaja untuk mempengaruhi karakter siswa sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika. Pada pendidikan budi pekerti terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya, dengan tujuan untuk membentuk penyempurnaan kepribadian individu, berbudi luhur dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.

Jika dikaitkan dengan pendidikan agama Islam, budi pekerti memiliki pengertian yang sama dengan ahlak dalam terminologi Islam yang berarti tabiat, perangai, watak, tingkah laku kesusilaan yang menjadi kebiasaan. Ajaran Islam memiliki tiga dimensi utama, yakni : aqidah, syari’ah dan ahlak (Syaltout, 1975). Sebagai suatu sistem ajaran, ketiganya saling berkaitan, sehingga pembelajaran ahlak menjadi bagian yang tidak terpisahkan pula dari pembelajaran keimanan dan peribadatan.

Baca juga:  Kemampuan Mengaji Siswa Meningkat dengan VoiceNote WhatsApp

Dalam hal ini ahlak seseorang harus dilandasi oleh keimanan, khsusnya keimanan kepada Allah Swt. Dengan dasar keimanan pula seseorang melakukan apa yang diperintah dan meninggalkan apa yang dilarang Allah Swt dalam berbagai bentuk peribadatan. Keimanan itu menjadi motor pendorong munculnya pekerti yang baik, bahwasanya Allah Swt yang menentukan apa-apa yang baik dan perlu dikerjakan, dan apa-apa yang tidak baik sehingga perlu ditinggalkan. Dia pula yang akan memberi balasan terhadap perilaku baik atau buruk yang diperbuat manusia. Tanpa dasar keimanan maka ahlak yang baik akan tidak bermakna, bahkan tidak berwujud (Gazalba, 1967 : 246).

Butir-butir ahlakul karimah dalam ajaran Islam meliputi : hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam sekitar, dan hubungan manusia dengan dirinya. Terhadap Tuhan manusia dituntut taat, tunduk, penyerahan diri kepada-Nya, syukur atas segala nikmat yang telah diberikan serta tidak menyekutukan-Nya. Terhadap sesama manusia, perlu hidup rukun, saling menghargai, menghormati, bantu-membantu, saling tolong menolong, kasih-mengasihi, tidak menghinakan, tidak berlaku sombong, tidak takabur satu sama lain. Kemudian terhadap alam sekitar, manusia dituntut untuk memanfaatkannya, menjaga kelestariannya, dipelihara sebaik-baiknya, tidak dirusak. Sedangkan ahlak terhadap diri sendiri seseorang dituntut menjaga diri agar tetap sehat jasmani maupun rohani, menjaga kehormatan diri dengan cara bertingkah laku, berbicara sopan santun, lemah lembut terhadap siapapun, makan makanan yang halal, berpakaian menutup aurat, dan lain sebagainya. Semua butir itu, termasuk sejumlah butir nilai-nilai pendidikan karakter seperti, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, secara eksplisit maupun implisit ada dinyatakan dalam berbagai ayat Alquran maupun Hadits sebagai sumber dari semua nilai ahlak.

Baca juga:  Media Online Solusi Pembelajaran Masa Pandemi Covid-19 di SMPN 3 Tuntang

Dengan demikian pendidikan budi pekerti terhadap siswa di sekolah tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran dalam hal intelektual belaka tetapi juga harus diberikan juga nilai spiritualnya. Disinilah keterkaitan antara pendidikan budi pekerti dan pendidikan agama Islam di sekolah. Karena itu dalam pemberian contoh yang dapat dijadikan teladan bagi siswa perlu seiring dengan pemberian pembelajaran keagamaan ataupun kewarganegaraan sehingga dapat membentuk individu yang beriman, bertaqwa, berjiwa sosial, adil dalam segala hal, memiliki cita-cita luhur, cinta tanah air dan menghormati orang lain.

Untuk mengimplementasikan pendidikan budi pekerti atau akhlak diperlukan pendekatan khusus yang tepat agar bisa menumbuhkan sikap dan prilaku yang diharapkan di SMP Negeri 28 Semarang, peran guru dalam hal ini bertindak sebagai pengarah dan pembimbing dalam belajar-mengajar seperti inilah yang sedang diupayakan dalam proses belajar-.mengajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Untuk itu diantara pendekatan yang digunakan yakni menselaraskan dengan mata pelajaran lain, seperti pelajaran agama Islam dan kewarganegaraan. Adapun metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan, metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman . Hal itu sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa keberhasilan beliau dalam merubah ahlak jahiliyah suku Quraisy yakni lebih menekankan kepada contoh prilaku (dakwah bil hal), dari pada dengan ucapan (dakwah bil qoul). Contoh dan suri tauladan itu perlu dilakukan oleh semua pendidik yang terlibat dalam hubungan dengan siswa di sekolah. (ipa2/ton)

Baca juga:  Home Visit Alternatif Pembelajaran Saat Pandemi Covid-19

Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP Negeri 28 Semarang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya