alexametrics

Menjadi Ahli sejak Dini dengan Jigsaw

Oleh: Nunik Kadarsih, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Beralihnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi Kurikulum 2013, berdampak pada perubahan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru. Pembelajaran Kurikulum 2013 berorientasi terhadap siswa (student centered). Siswa dituntut bersikap aktif dalam kegiatan pembelajaran dan guru hanya berperan sebagai fasilitator. Faktor yang paling berpengaruh dalam penerapan kurikulum tersebut adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

Sayangnya, perubahan kurikulum tidak berbanding lurus dengan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Guru masih menggunakan model pembelajaran yang kurang tepat dan metode konvensional dalam mengajar. Penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat dan metode konvensional, seperti ceramah, cenderung membuat kegiatan belajar mengajar menjadi monoton dan membosankan. Hal ini tentu tidak sejalan dengan tujuan dari Kurikulum 2013 yang mengedepankan keaktifan siswa dalam belajar.
Untuk mengatasi kebosanan dan merangsang keaktifan siswa dalam belajar, guru kelas 6 SDN Kutowinangun 10 menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw.

Baca juga:  Menghafal Bacaan Salat Mudah dengan Metode Concept Sentence

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Elliot Aronson’s. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Menurut Rusman (2018) kata jigsaw berasal dari bahasa inggris yang berarti gergaji ukir atau puzzle yang berarti sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji (zig zag), yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama antar kelompok dengan silangan siswa kelompok lain (kelompok ahli) untuk mencapai tujuan bersama.

Langkah pertama dalam model pembelajaran kooperatif jigsaw adalah menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa agar lebih bersemangat. Langkah selanjutnya, membagi siswa menjadi kelompok kecil yang heterogen. Masing-masing kelompok terdiri atas 4 – 5 siswa. Kelompok ini disebut sebagai kelompok asal (home teams). Langkah ketiga, guru sebagai fasilitator membagikan lembar topik kepada kelompok asal. Setiap anggota kelompok asal mendapatkan topik yang berbeda. Setelah membagikan, guru memberikan waktu kepada siswa untuk membaca dan mempelajari lembar topik yang sudah diberikan.

Baca juga:  Belajar Matematika dengan Bermain Kabil Itu Menyenangkan

Langkah keempat, guru mengelompokkan siswa dengan topik yang sama untuk saling berdiskusi. Kelompok siswa dengan topik yang sama ini disebut dengan kelompok ahli (expert group). Setelah kelompok ahli selesai menyatukan pendapat mengenai topik yang sama, mereka akan kembali ke kelompok asal. Langkah berikutnya, setiap anggota kelompok ahli secara bergantian memberikan penjelasan mengenai topiknya kepada anggota kelompok asal. Apabila proses bertukar informasi sudah selesai, langkah terakhir dalam model pembelajaran jigsaw ini adalah pemberian kuis. Pemberian kuis ini bersifat individual dan bertujuan untuk menguji tingkat keberhasilan pembelajaran. Walaupun bersifat individual, skor yang diperoleh masing-masing anggota digabungkan dan menjadi skor kelompok. Kelompok yang memperoleh skor tertinggi akan mendapatkan reward dari guru.

Baca juga:  Meningkatkan Hasil Belajar Dengan Model Tutor Sebaya

Penggunaan model pembelajaran ini meringankan pekerjaan guru karena siswa belajar dengan teman sebaya. Penguasaan materi juga lebih merata karena siswa bisa bertanya kepada temannya secara langsung tanpa perlu merasa segan. Model pembelajaran jigsaw juga mampu mendorong siswa dengan kepercayaan diri rendah untuk lebih percaya diri dalam berbicara dan berpendapat. Selain itu, model pembelajaran ini juga mampu menciptakan siswa yang kompetitif namun tidak menghilangkan rasa percaya terhadap temannya. Model pembelajaran jigsaw ini bisa menjadi pilihan bagi guru yang ingin membuat kelasnya lebih hidup dan merangsang siswanya untuk menjadi ahli sejak dini. (ss1/lis)

Guru SDN Kutowinangun 10

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya