alexametrics

Pembelajaran Metode RASIS Membiasakan Bebas Sampah Plastik

Oleh : Suneki M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEJAK zaman batu, zaman logam, hingga zaman milenial era 5.0, peradaban senantiasa dibangun demi meningkatnya kesejahteraan taraf hidup manusia. Masa pra milenial peradaban manusia diwarnai dengan produk yang mayoritas berbahan dasar palstik yang nilai unggulnya pada harga murah, praktis, bahkan portable. Dengan alasan harga murah dan praktis, banyak produk sekali pakai yang mengakibatkan volume pembuangan bekas barang semakin membeludak. Tak terkecuali di lingkungan SMA Negeri 7 Semarang.

Polusi plastik telah merusak kualitas kesuburan tanah, kualitas tanaman yang berdampak pada kualitas udara dan kualitas air tanah. Sampah plastik yang tidak tertangani dan telah terhanyut sampai ke laut juga telah merusak habitat laut yang menjadi sumber pangan bahkan deposit kekayaan kita. Betapa memprihatinkannya kualitas lingkungan kita.

SMA Negeri 7 Semarang merupakan sekolah penggerak Adiwiyata dan telah menjadi juara Tingkat Nasional di tahun 2013. Seluruh warga sekolah memperingati hari bebas sampah plastik di masa pandemi dengan gerakan memungut sampah plastik di sekitar tempat tinggal. Plastik yang bisa didaur ulang dijual. Uang hasil penjualan disalurkan untuk dana maslakhah bagi siswa SMAN 7 yang membutuhkan.

Baca juga:  Google Classroom, Solusi Menulis Laporan Fiksi di Era Pandemi

Literasi lingkungan hidup yang harmoni juga telah terimplisit dalam setiap mata pelajaran, tak terkecuali mata pelajaran matematika. Tak jarang mendengar argument siswa ataupun orang tua siswa yang mengeluhkan sulitnya memahami materi matematika dengan alibi, untuk apa susah payah mempelajari deret ukur, toh nanti tidak digunakan langsung dalam kehidupan sehari-hari kita? Kalimat itu sepertinya tidak salah tetapi lebih tepatpun tidak. Jika mau merenung sesaat, bukankah segala pencapaian dalam hidup itu sebuah sinergi yang hasilnya kumulatif. Itulah terapan deret ukur. Demikian juga masalah yang berlarut-larut dan menumpuk harus diselesaikan dengan pendekatan deret ukur.

Pembelajaran deret ukur dengan metode RASIS (Resposibility, Actions, Swift, Inspirative, Solver) dapat menarik minat siswa dan dapat menjadi solusi masalah sampah plastik dimanapun siswa tinggal. Karena siswa juga sebagai kader adiwiyata. Meski sudah digerakkan Recycle, Reuse, Reduce, tetapi jika tidak ada upaya secara masif untuk diet plastik, usaha tersebut seolah tak ada hasilnya. Kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai telah membudaya di segala usia. Penggunaan kantong plastik berbayar juga tidak diindahkan pedagang di pasar dengan alasan takut kehilangan pelanggan.

Baca juga:  Belajar Matematika dengan Bermain Kabil Itu Menyenangkan

Pembelajaran deret ukur dengan metode RASIS ini pembelajran yang berpusat pada siswa. Dimana siswa tidak sekedar mengalami konflik informasi dari teman sebaya dan guru, tetapi ia harus bertanggung jawab (Resposibility) atas materi yang ia terapkan sebagai agen adiwiyata di lingkungan tempat tinggalnya. Tanggung jawab juga salah satu nilai karakter brand sekolah di SMA Negeri 7 Semarang sebagai sekolah berintegritas. Bukti tanggung jawab itu ditunjukkan dalam aksi atau gerakan (Actions) mengurangi penggunaan kantong plastik, melaksanakan gerakan Reduce, Recycle, Repair dan Reuse.

Gerakan Reduce, Recycle, Repair dan Reuse tidak dilakukan asal-asalan tetapi perlu ketangkasan (Swift) dengan memilih dan memilah sesuai kode palstik yang tertera, apakah jenis plastik itu sekali pakai atau boleh digunakan ulang supaya tidak membahayakan kesehatan tubuh manusia.

Baca juga:  Pembelajaran Blended Learning Menuju New Normal Pasca Pandemi

Manfaat dari tiga gerakan awal ini diharapkan mampu menjadi highlight bagi masyakat sekitar, sehingga siswa sebagai kader sekaligus menjadi agen peradaban berhasil menginpirasi (Inspirative) lingkungan sosialnya. Bagai terjangan angin badai yang kuat, hanya mampu menggerakkan pecahan gumpalan es di permukaan laut searah angin itu. Tetapi hanya arus dalam laut yang mampu menggerakkan gunung es di kutub, bahkan arahnya bisa berlawanan dengan arah angin badai dipermukaan laut. Memecahkan masalah besar secara fisik memang penting tetapi hasilnya akan lebih efektif jika tidak di sempurnakan dengan mendidik sikap/attitude siswa dari dalam jiwanya sebagai pemecah masalah (Solver) di setiap lini kehidupannya. (*/ida)

Guru Matematika SMA Negeri 7 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya