alexametrics

Tetap Semangat Belajar Daring selama Pandemi di SD Pedesaan

Oleh: Rini Pujiastutik, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Selama pandemi Covid-19, siswa dituntut untuk tetap belajar di tengah berbagai keterbatasan. Demi memenuhi kebutuhan siswa akan pentingnya belajar pemerintah mengeluarkan Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Belajar dari Rumah melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau yang lebih dikenal dengan istilah model pembelajaran daring. Hal itu juga diterapkan di sekolah penulis, SD Negeri 1 Plosorejo, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora.

Meskipun pembelajaran daring sudah ditetapkan selama setahun lebih, pada kenyataannya kondisi di lapangan menunjukkan kegiatan pembelajaran daring masih sulit dilaksanakan di sekolah dasar, terutama di pedesaan. Ada banyak kendala dan hambatan yang dihadapi guru, siswa maupun orang tua dalam menerapkan pembelajaran daring. Dalam situasi pandemi Covid-19 ini, menyebabkan para siswa, guru, dan orang tua mengalami kesulitan ketika harus melaksanakan sistem pembelajaran.

Adapun faktor-faktor penyebab kesulitan ataupun kendala yang dialami dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh pada siswa sekolah dasar di pedesaan dan pedalaman antara lain: Pertama, terbatasnya akses ke perangkat smartphone dan komputer atau laptop. Meskipun hampir seluruh orang memiliki smartphone, namun pada kenyataannya anak-anak di pedesaan masih ada yang belum memiliki smartphone, apalagi komputer ataupun laptop. Anak-anak di pedesaan biasannya sudah mengenal smartphone, namun belum semua memilikinya. Smartphone yang dipakai anak biasanya milik kakak atau milik orang tuanya. Selain itu, smartphone yang mereka pakai biasanya juga dibawa orang tua saat bekerja.

Baca juga:  Discovery Learning Meningkatkan Antusiasme Siswa untuk Belajar

Kedua, jaringan internet atau signal yang tidak stabil. Bagi siswa dan guru yang tinggal di pedesaan jaringan merupakan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran daring. Signal yang tidak stabil menjadikan kegiatan pembelajaran jarak jauh (daring) sulit untuk diterapkan. Padahal pembelajaran daring memerlukan jaringan yang stabil agar media yang digunakan berupa Google Meet, Zoom dan aplikasi lainnya untuk melaksanakan kelas virtual atau tatap maya. Ketika jaringan yang di peroleh tidak stabil, maka proses pembelajaran menjadi terganggu dengan video yang tiba-tiba berhenti atau suara yang terputus-putus. Bahkan dalam beberapa kasus siswa menjadi tidak dapat bergabung dalam kelas virtual karena signal yang tiba-tiba hilang atau terputus.

Ketiga, harga kuota internet yang mahal. Selain jaringan internet yang tidak stabil, harga kuota internet yang mahal bagi masyarakat pedesaan adalah hambatan dalam belajar daring. Bagi masyarakat di pedesaan yang berada pada taraf ekonomi menengah ke bawah, harga paket internet termasuk mahal, apalagi paket internet ini dibatasi dengan kuota tertentu. Padahal untuk melakukan kelas virtual membutuhkan kuota yang sangat besar. Hal inilah yang menjadi salah satu hambatan dan keluhan orang tua ketika siswa harus mengikuti kegiatan pembelajaran daring.

Baca juga:  Belajar Matematika dengan Model Index Card Match Sangat Menyenangkan

Keempat, guru, siswa dan orang tua sebagai pendamping belum mahir menggunakan teknologi digital. Selama ini siswa dan guru terbiasa menggunakan pembelajaran tatap muka. Kegiatan pembelajaran daring masih jarang dilakukan, sehingga banyak pihak yang harus beradaptasi dengan pemanfaatan teknologi digital tersebut. Banyaknya pihak yang belum terbiasa dengan perangkat digital ini seperti guru, pelajar, dan orang tua menjadikan kegiatan pembelajaran daring masih sulit dilaksanakan dengan maksimal.

Kelima, sulit untuk berinteraksi. Kegiatan pembelajaran secara daring menjadi kurang interaktif dan membosankan. Hal ini terjadi, karena guru lebih banyak menyampaikan materi dari satu arah. Misalnya, video pembelajaran, atau pemberian tugas lewat WhatsApp grup saja. Kegiatan pembelajaran ini menjadi tidak interaktif, dan apabila siswa mengalami kesulitan, terkendala saat akan menanyakan langsung kepada guru.

Baca juga:  Pembelajaran TIK selama Pandemi Gunakan Vidio dan Power Point

Keenam, siswa tidak fokus saat pembelajaran. Dalam beberapa kegiatan masih banyak siswa yang tidak fokus saat pembelajaran daring berlangsung. Karakter anak sekolah dasar yang suka bermain menjadikan mereka sering kali tidak fokus menyimak penjelasan materi yang disampaikan lewat video conference. Siswa merasa bebas karena tidak diawasi langsung oleh guru seperti saat berada di dalam kelas. Guru mengalami kesulitan untuk memantau perkembangan hasil belajar siswa, karena siswa sering terlambat mengumpulkan tugas yang diberikan. Selain itu, guru juga sulit mengamati perubahan perilaku siswa, karena guru dan siswa berada di tempat yang berbeda saat pembelajaran daring berlangsung.

Banyaknya hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan daring, seharusnya tidak mengendorkan semangat guru untuk mendidik anak-anak di pedesaan dan pedalaman. Karena anak-anak harus tetap belajar demi mencapai masa depan yang lebih baik. Guru harus lebih kreatif dan inovatif agar pembelajaran daring tetap berjalan walaupun banyak hambatan yang dihadapi. Karena sejatinya belajar itu dapat dilakukan di mana saja, dan dengan siapa saja. (*/aro)

Guru SD Negeri 1 Plosorejo, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya