alexametrics

Menyematkan Filsafat pada Pembelajaran Recount Text

Oleh: Anita Utami

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berakar dari cinta akan kebijaksanaan, filsafat dapat diartikan secara bebas sebagai pencarian terus menerus akan kebenaran, keadilan dan kebijaksanaan. Meski acap kali diberi stigma membosankan, untuk menjadi warga dunia yang baik, peserta didik perlu belajar mengakrabi filsafat sejak dini.

Mengapa demikian? Mari kita belajar dari Irlandia. Di tengah kekalutan politik Irlandia pada tahun 2016, Presiden Higgins menyerukan pentingnya memasukkan filsafat ke dalam pendidikan dasar. Alasannya, filsafat adalah alat yang berdaya guna untuk membekali peserta didik agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang merdeka dan bertanggung jawab di tengah tuntuntan zaman yang makin kompleks dan penuh ketidakpastian. Mengajak anak belajar filsafat sama dengan merintis setapak menuju masyarakat yang lebih demokratis dan hidup lantaran anak akan imun terhadap ketidakpedulian karena telah terlatih merenungkan dan memilih apa yang benar, bijak dan adil (Blease, 2017).

Baca juga:  Redesain Layanan Bimbingan dan Konseling

Sayangnya, filsafat tidak diajarkan secara khusus di jenjang pendidikan dasar di Indonesia. Namun demikian, guru dapat menyematkan filsafat ke dalam materi pembelajaran yang telah ada. Dalam bukunya Big Ideas for Little Kids, Wartenberg (2014) menawarkan solusi untuk mengajarkan filsafat melalui literatur. Menggunakan beragam cerita, ia memantik keingintahuan peserta didik terhadap berbagai pertanyaan falsafi mengenai kemanusiaan. Literatur dapat menjadi media berlatih yang baik karena banyak nilai baik yang terkandung dalam beragam cerita.

Dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas VIII, recount text adalah salah satu jenis teks yang berpotensi digunakan sebagai media untuk memperkenalkan filsafat pada peserta didik. Menilik fungsi sosialnya sebagai teks yang menceritakan pengalaman di masa lampau, guru dapat mengajak peserta didik untuk menggali nilai-nilai moral ke dalam alur pengalaman dalam teks. Caranya, pembelajaran tidak hanya berhenti pada pengetahuan mengenai fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan teks, namun pada pertanyaan yang mengajak anak berpikir mengenai nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Baca juga:  Cara Mudah Melakukan Pendempulan dengan Miniatur Mobil

Dalam praktiknya di SMP Negeri 2 Salatiga, penyematan filsafat dalam pembelajaran recount text dilakukan lewat media komik yang dikembangkan menggunakan aplikasi daring Canva. Pengalaman tokoh yang awalnya merasa ketakutan karena mengira ada hantu di kamarnya dan kemudian melakukan langkah rasional untuk membuktikannya dipilih sebagai media.

Materi ini diberikan secara daring maupun luring selama pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pada semester genap tahun pelajaran 2020-2021. Usai pembahasan materi sesuai target kurikulum, peserta didik diajak mendiskusikan pertanyaan falsafi mengenai pentingnya menguji kebenaran suatu fenomena secara rasional sebelum menarik simpulan.
Berdasarkan pengamatan, sebagian besar peserta didik mampu mengungkapkan gagasan yang menunjukkan pemikiran mendalam mengenai pengujian kebenaran. Mereka tidak hanya menyampaikan ulang fakta yang terdapat di dalam teks, namun juga mampu menjelaskan dasar pemikiran yang rasional atas jawabannya. Hal ini menandakan bahwa meskipun masih dalam tahap awal, integrasi filsafat dalam pembelajaran bahasa Inggris berpotensi untuk dikembangkan.

Baca juga:  Belajar Bahasa Indonesia Lebih Kreatif dengan Critical Incident

Akhir kata, menyematkan dalam pembelajaran reount text ini adalah langkah awal untuk mengajak peserta didik berpikir kritis dan mencintai kebijaksanaan. Muaranya, peserta didik diharapkan mampu secara mandiri mengasah rasa kemanusiaan yang luhur di tengah kompleksitas zaman yang terus meningkat. (dd1/lis)

Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 2 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya