alexametrics

Belajar dari Pandemi: Pentingnya Mengembangkan Regulasi Diri Siswa (RDS)

Oleh: Budi Susila, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Selama pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang biasanya dilakukan dengan metode daring, tidak jarang saya mendengar keluh kesah para guru seperti: “Siswa tidak menyalakan kamera gadget”, “Siswa pasif dalam mengikuti aktivitas pembelajaran”, “Siswa tidak mengumpulkan tugas tepat waktu”, atau “Saya perlu mengingatkan atau menagih siswa untuk mengumpulkan tugas”. Keluhan-keluhan seperti ini tidak hanya diutarakan oleh para guru pengampu mata pelajaran Fisika seperti saya, namun juga oleh para guru pengampu mata pelajaran lain.

Hal ini membuat saya teringat pada permasalahan yang terjadi di Amerika beberapa dekade lalu dan konsep bernama self-regulation (regulasi diri) yang dijabarkan oleh Barry J. Zimmerman, Sebastian Bonner, dan Robert Kovach dalam bukunya yang berjudul “Developing Self-Regulated Learners: Beyond Achievement to Self-Efficacy” (Mengembangkan Pembelajar yang Memiliki Regulasi Diri: Melampaui Pencapaian Menuju Efikasi Diri) yang diterbitkan pada tahun 1996. Pada saat itu, banyak siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah, dropout merajalela, dan siswa memiliki tingkat literasi yang rendah. Permasalahan-permasalahan tersebut berujung pada enggannya para pemilik lapangan kerja untuk merekrut para pelamar karena rendahnya kapasitas yang dimiliki. Ditambah lagi dengan adanya ledakan informasi di era teknologi digital. Pengetahuan tersedia secara melimpah di internet yang, singkat kata, mengubah fokus pertanyaan dari “Di mana menemukan informasi?” menjadi “Bagaimana memanfaatkan informasi yang ada?”. Regulasi Diri Siswa (RDS) muncul sebagai sebuah jawaban untuk memperlengkapi para siswa dalam menghadapi tuntutan zaman.

Baca juga:  Pemanfaatan Zoom Meetings dalam Proses Pembelajaran Fisika

RDS merujuk kepada cara seorang siswa, sebagai seorang individu menghasilkan pemikiran, perasaan, dan tindakan untuk meraih sebuah tujuan akademis (Zimmerman, Bonner, & Kowach, 1996). RDS diperkenalkan sebagai sebuah karakteristik individu yang diperoleh dengan membandingkan siswa dengan pencapaian akademis tinggi dan rendah. Menurut Zimmerman dan koleganya, ada beberapa kriteria yang membedakan siswa dengan pencapaian akademis yang tinggi dengan mereka yang rendah. Beberapa kriteria tersebut adalah: (1) memiliki tujuan belajar yang spesifik, (2) menggunakan strategi belajar yang tepat bagi diri sendiri, (3) sering memonitor perkembangan belajar, dan (4) mengevaluasi keefektivan cara belajar berdasarkan hasil yang diperoleh dan melakukan penyesuaian apabila diperlukan.

Siklus Regulasi Diri berisi empat langkah yang dilakukan secara kontinyu dalam mengembangkan RDS. Langkah pertama adalah evaluasi diri dan pengamatan. Di tahap pertama ini, dampingi siswa untuk mengevaluasi cara mereka mengerjakan pekerjaan rumah. Ajak siswa untuk mengingat apa yang mereka lakukan dalam belajar dan apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Apabila ada hal-hal yang belum sesuai dengan ekspektasi, dampingi siswa untuk menemukan akar permasalahan.

Baca juga:  Simulasi FaLa dan LeLa membuat Belajar Fisika menjadi Mudah

Kedua, setelah akar permasalahan ditemukan, lanjutkan dengan penentuan target dan perencanaan strategis. Semisal akar permasalahan siswa adalah manajemen waktu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, guru dapat mendampingi siswa untuk membuat daftar yang berisi: (1) tugas yang perlu dikerjakan, (2) tingkat kesulitan, dan (3) tanggal pengumpulan. Setelah itu ajak siswa untuk membuat jadwal harian terkait target berupa daftar tugas yang ingin diselesaikan dalam kurun waktu yang spesifik, misalnya dalam kurun satu minggu saja.

Ketiga, apabila tahap perencanaan telah dilakukan, dampingi siswa dalam mengimplementasikan dan memonitor pelaksanaannya. Ajak siswa untuk mengamati apakah waktu yang diperlukan untuk memenuhi target harian cukup, berlebih, atau kurang.

Baca juga:  Peningkatan Motivasi Belajar Fisika Materi Relativitas melalui Think Pair Share

Keempat, tiba saatnya untuk mengevaluasi hasil. Pada tahap yang terakhir ini, dampingi siswa untuk mengevaluasi strategi belajar yang mereka lakukan selama satu minggu. Ajak siswa untuk melihat apakah semua tugas mereka dapat diselesaikan tepat waktu. Apabila siswa merasa kekurangan waktu, diskusikan dengan siswa bagaimana mereka akan menindaklanjutinya, demikian pula dengan waktu yang berlebih. Jangan lupa untuk memberikan apresiasi atas usaha yang dilakukan dan hasil yang mereka peroleh. (dd1/ton)

Guru Fisika SMA Negeri 3 Salatiga.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya