alexametrics

Mengasyikkan, Pembelajaran Pidato Persuasif dengan Twenty Questions

Oleh: Sudarmono, S. Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PENYEBARAN Virus Corona atau Covid-19 hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Jumlah yang terinfeksi masih tinggi. Melihat kondisi pandemi Covid-19 yang masih mengkhawatirkan, akhirnya pemerintah Indonesia mengambil sejumlah kebijakan untuk memutus rantai penularannya. Kebijakan utama yang diambil pemerintah adalah memprioritaskan kesehatan dan keselamatan rakyat. Beragam aktivitas yang bersifat tatap muka dibatasi, tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Maka dari itu pemerintah dan lembaga terkait menghadirkan alternatif proses pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dalam jaringan.

Peralihan kebijakan pembelajaran ini berdampak pada pembelajaran bahasa Indonesia. Peserta didik harus menguasai kompetensi dasar yang telah ditetapkan dengan kriteria ketuntasan minimal yang telah disepakati, namun penjelasan dan praktik secara langsung sangat terbatas atau bahkan tidak mungkin dilakukan. Pembelajaran konvensional yang biasa dilakukan dengan menggunakan sistem klasikal di mana pengajar dan peserta didik berada dalam ruang yang sama pada waktu yang sama untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar tidak dapat menjadi solusi lagi dalam pelaksanakan proses pembelajaran. Meskipun sebenarnya pembelajaran konvensional lebih cepat mendorong proses penerapan pembelajaran bahasa Indonesia dalam kehidupan nyata.

Baca juga:  Meningkatkan Hasil Belajar Materi Kekongruenan dan Kesebangunan dengan Problem Posing

Beberapa kendala yang sering guru hadapi dalam pembelajaran pidato persuasif antara lain masih rendahnya minat siswa kelas IX terhadap materi berpidato persuasif, malu, tidak percaya diri, kurang berani berbicara di depan umum, dan keterampilan berpidato masih rendah.

Untuk itu perlu dipilih pendekatan dan metode yang tepat untuk meningkatkan keterampilan pidato persuasif dalam pembelajaran. Salah satu caranya dengan menggabungkan pendekatan Scientific dengan metode Twenty Questions.

Menurut Hosnan (2014) Pendekatan Scientifik adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang agar peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep melalui kegiatan mengamati atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data serta menarik kesimpulan dan mengkomunikasikannya.

Metode Twenty Questions adalah suatu teknik pembelajaran bahasa agar siswa pandai menganalisis suatu informasi. Metode Twenty Questions, dapat mempermudah siswa menguasai topik yang dipilih, sebab di dalam metode tersebut siswa berlatih bagaimana cara mengeksplor gagasan sesuai dengan tema melalui pertanyaan-pertanyaan yang dibuat (Soeparno1988:82)

Baca juga:  Asyiknya Belajar Mandiri dengan Edmodo

Penerapan metode ini, siswa dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok A dan Kelompok B. Kelompok A pada giliran pertama bertindak sebagai penjawab, sedangkan kelompok B bertindak sebagai penanya. Kelompok A menuliskan kata atau istilah pada secarik kertas, kemudian kertas tersebut dilipat dan disembunyikan. Kelompok B mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang hanya boleh dijawab ‘ya’ atau ‘tidak’ oleh kelompok A

Pada giliran berikutnya, dibalik yaitu Kelompok A sebagai penanya sedangkan Kelompok B sebagai penjawab. Konsep tersebut dilakukan secara bergantian sampai lima kali penampilan.

Langkah-langkah Pendekatan Scientifik dan metode Twenty Questions yang diajarkan dalam pembelajaran pidato persuasif dimodifikasi mengingat situasi pandemi Covid-19.

Namun, jika dibagi menjadi empat kelompok yakni A, B, C, dan D. Kelompok A bertindak sebagai penjawab, selanjutnya Kelompok B sebagai penanya. Di sisi lainnya Kelompok C sebagai penjawab, dan Kelompok D sebagai penanya.

Sebelum pertanyaan diajukan, siswa menonton video pidato persuasif, kemudian mereka menganalisis atau mengidentifikasi pidato persuasif yang ditampilkan melalui Tanya jawab pada saat menggunakan aplikasi Google Meet untuk pembelajaran. Setelah mereka berhasil menganalisis pidato tersebut, Kelompok A dan B, serta Kelompok C dan D memilih tema pidato yang diberikan.

Baca juga:  Video Youtube untuk Pembelajaran PJOK di SD

Kemudian Kelompok B dan D membuat 20 pertanyaan. Kelompok A dan C hanya menjawab ‘ya’ atau ‘tidak. Dari masing-masing kelompok harus ada ketua (moderator) dan notulis yang bertugas mencatat jawaban/pertanyaan. Setelah menemukan jawaban, kelompok yang mendapat giliran bertanya diminta untuk praktik berpidato persuasif di depan kelompok lawan. Kelompok yang berpidato dapat menggunakan bantuan dan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya diajukan.

Melalui modifikasi pembelajaran pidato persuasif seperti ini, ternyata siswa lebih semangat dan antusias. Mereka tampak lebih memiliki keberanian untuk tampil di depan umum. Selain itu, mereka termotivasi sehingga dengan sendirinya ide atau gagasan akan muncul, dan mereka mampu menyampaikan pidato persuasif dengan baik. (bs1/zal)

Guru SMPN 9 Salatiga.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya