alexametrics

Mengelola Nilai Karakter Peserta Didik pada Pembelajaran Jarak Jauh

Oleh: Rita Permana Kelana Wati, S.Pd, SH, M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan identik dengan pembelajaran pembentukan karakter, melalui materi yang mencakup seluruh sistem penyelenggaran negara tercinta, yaitu Negara Indonesia. Materi yang dipelajari mencakup banyak hal misalnya tentang lembaga negara dan peran pejabat negara, Bagaimana sebuah menjalankan Negara demokrasi, bagaimana wilayah Negara Indonesia, Bela Negara dan Integrasi Bangsa. Didalam materi tersebut tentu saja peran guru harus bisa memberikan penanaman karakter yang terbentuk pada peserta didik bagaimana mengimplementasikan dalam lingkungan sekolah, masyarakat berbangsa dan bernegara.

Memang tidak mudah bagi guru PPkn karena disisi lain siswa harus mamahami konten atau isi dari materi yang lumayan banyak, tetapi disisi lain siswa juga dituntut bagaimana penerapan karakternya, bahkan nantinya guru PPkn wajib memberikan nilai karakter sebagai bentuk penilaian yang mencakup nilai pengetahuan, ketrampilan dan karakter, nah disini besar sekali poin pada nilai karakter siswa, selanjutnya apakah hanya menjadi tanggung jawab guru PPkn, tentu saja tidak, karena hal tersebut menjadi tanggung jawab semua guru, tetapi setiap siswa yang diakhir catatan bermasalah akan dikaitkan “bagaimana nilai karakternya” bahkan ada ketentuan nilai moral / karakter minimal baik, sampai- sampai guru tidak berani mamberikan nilai cukup ,untuk nilai karakter siswa, karena akan berdampak pada peserta didik, dan akan dibutuhkan pananganan khusus pada siswa yang dengan catatan kurang baik karakternya , sehingga bisa membentuk karakter baik.

Di SMK Negeri 3 Salatiga sampai dengan saat ini memang menerapkan pembelajaran secara daring, tetapi untuk mata pelajaran produktif sudah sebagian diberlakukan Luring dengan kelompok kecil dan tetap menjaga protocol kesehatan dengan baik, Selanjutnya untuk mata pelajaran PPkn dan beberapa mata pelajan normatif ,adaptip memang lebih banyak secara daring, disinilah dituntut peran guru sebagai pendidik untuk bisa membuat strategi pembelajaran yang menarik. Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir segera, sehingga membuat guru dan peserta didik masih harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis daring. Guru ditantang untuk dapat mencari metode pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Baca juga:  Trainer Transmisi Tingkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Gear Ratio

Tak dapat dipungkiri bahwa guru adalah roh dan spirit untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena pendidikan tidak hanya sekedar transfer of knowledge tetapi juga transfer of values yakni nilai-nilai moral. Bahwa guru harus mengupayakan cara yang tepat demi menumbuhkembangkan pendidikan karakter. Ini tentu bukan hal yang mudah, mengingat guru tidak bisa mengawasi secara langsung perkembangan karakter anak seperti pada saat pembelajaran tatap muka di sekolah. Sampai hari ini ruang kelas masih dipandang sebagai pendidikan yang sesungguhnya oleh sebagian besar guru. Masyarakat masih memandang bahwa ruang kelas adalah sekolah yang sesungguhnya dan kelas online itu kurang bisa efektif. Masyarakat belum menganggap kelas online dapat membantu dalam pendidikan anak meskipun, Kita menganggap bahwa penutupan ruang kelas berdampak terhadap guru, siswa, dan orang tua di mana pun.

Jika sebelumnya ada banyak sekali sekolah yang sudah menggunakan teknologi dalam pembelajaran, maka dalam kondisi yang tidak biasa ini, semua sekolah di Indonesia dipaksa untuk menerapkan teknologi dalam proses belajar mengajar. Padahal teknologi tidak sepenuhnya dapat membantu proses belajar dari jarak jauh menjadi lebih mudah untuk diterapkan. Pembelajaran PPKn secara daring di SMKN 3 Salatiga, pada peserta didik kelas X semester gasal dan sampai dengan semester genap Tahun pelajaran 2020/2021 menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh, bahkan ada yang sejak mengajar pertama kali pada awal tahun pelajaran, guru belum pernah sekalipun ketemu secara tatap muka.

Baca juga:  Blended Learning Aktifkan Pembelajaran Masa Pandemi

Menilai karakter peserta didik dapat dicermati oleh guru selama proses pembelajaran daring berlangsung. Pertama sikap ramah dan responsive, dapat dilihat pada saat guru menyapa dan menshare info terkait pembelajaran PPKn di sekolah digital atau grup Kelas PPKn. Beberapa kelas tertentu, saat ada info dari guru, sebagian peserta didik dengan cepat merespon/menanggapi secara positif dan langsung mengerjakan tugas. Namun, ada juga sebagian anak yang cenderung jarang sekali merespon segala info yang disampaikan guru di pembelajaran secara daring ada kelas dan bersikap pasif. Kedua sikap jujur, dapat dicermati pada saat peserta didik mengerjakan dan menyelesaikan tugas atau ulangan. Untuk sikap jujur ini cenderung sulit untuk diukur. Tak dapat dipungkiri akan maraknya plagiarism yang dilakukan anak-anak, terutama dalam mengerjakan tugas maupun ulangan. Mereka dengan mudah mencari jawaban lewat searching internet. Maka guru hendaklah mengupayakan bisa membuat soal yang berbasis higher order thinking skill (HOTS). Hal ini bisa membuat peserta didik kesulitan untuk mencari kunci jawaban di internet, selain itu juga menantang peserta didik untuk berpikir secara kritis dan kompleks. Ketiga, sikap disiplin dan bertanggung jawab, dapat dilakukan pada saat awal, selama, dan pada akhir proses pembelajaran daring. Sesaat setelah guru mengupload materi ataupun tugas di sekolah digital, maka sebagian anak sudah siap dan langsung memulai dengan mengisi daftar hadir serta mengikuti proses pembelajaran, mengerjakan tugas dan menyerahkan tugas lebih cepat sebelum deadline. Namun ada pula sebagian anak yang menyerahkan tugas mendekati waktu deadline, bahkan melebihi deadline hingga terlambat, ada yang terlambat dalam hitungan jam maupun hitungan hari.

Baca juga:  Belajar IPA Menyenangkan dengan Animasi

Dari berbagai karakter peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran tersebut, menjadikan guru harus membuat format penilaian secara tepat dan bijak dengan cara menghadirkan semacam kontrak komitmen di awal pertemuan. Contohnya dalam hal pengumpulan tugas, bila melebihi batas waktu yg ditentukan, maka hanya akan mendapat nilai sesuai batas KKM atau bahkan harus melakukan perbaikan terlebih dahulu. Dengan demikian, upaya guru dalam pembinaan sikap karakter peserta didik dapat terkelola lebih baik. Pendidikan karakter bangsa juga harus gencar dicanangkan agar dapat menata kompetensi moral siswa. Karena dengan moral dan perilaku yang baik, maka dapat menciptakan insan-insan luhur yang pantas menjadi penerus generasi bangsa di masa yang akan datang. (lbs1/zal)

Guru PPKn SMKN 3 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya