alexametrics

Merancang Novel dengan Three Act Story Structure

Oleh : Wahyu Budi Nugroho, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran di masa pandemi Covid-19 memunculkan tantangan tersendiri bagi guru dan peserta didik. Demikian pula pada pembelajaran bahasa Indonesia di jenjang SMA. Salah satu tantangan yang dihadapi guru ketika pembelajaran jarak jauh adalah adanya keterbatasan. Selaras dengan hal tersebut, menurut Nusantari, dkk (2020:212) keterbatasan yang dihadapi guru adalah keterbatasan untuk berinteraksi dengan siswa dan dalam menggunakan media pembelajaran yang memanfaatkan jaringan internet. Pada kondisi ini, seorang guru dituntut untuk kreatif dan inovatif agar pembelajaran jarak jauh berjalan dengan baik.

Salah satu materi yang harus dipelajari peserta didik pada jenjang SMA kelas XII adalah merancang novel atau novelet dengan memerhatikan isi dan kebahasaan baik secara lisan maupun tertulis. Pada materi ini peserta didik diharapkan mampu membuat rancangan sebuah novel atau novelet. Novel merupakan suatu karya atau cerita yang memiliki alur tidak terlalu panjang atau pendek yang menceritakan tentang manusia atau tokoh dan bersifat imajinatif (Nurjaman dan Utami, 2021:27).

Baca juga:  SPJ di Indonesia Menyenangkan dengan Mading dan Kartu Berkarakter

Dalam kegiatan merancang novel, beberapa kesulitan yang dihadapi peserta didik antara lain, mengembangkan alur cerita, menentukan jumlah bagian atau bab dalam novel yang akan dirancang, dan membuat rancangan cerita yang menarik. Selama ini kegiatan pembelajaran merancang novel di SMA Negeri 1 Bobotsari memanfaatkan teknik kerangka karangan. Tetapi ternyata teknik ini belum sepenuhnya memecahkan kesulitan yang dihadapi peserta didik. Sehingga, guru berkreasi dengan menerapkan teknik three act story structure. Menurut Magdalena (2016:9-10) three act story structure merupakan struktur cerita yang membagi cerita menjadi tiga bagian yang membangun cerita utuh.

Proses merancang novel dengan menerapkan teknik ini adalah peserta didik membagi struktur cerita menjadi tiga yaitu pemanasan, konfontrasi, dan resolusi. Pada bagian pemanasan, peserta didik membuat pengenalan karakter dan hal-hal lain yang diperlukan dalam cerita sampai pada pemicu munculnya konflik. Sementara pada bagian konfrontasi, peserta didik mulai merancang menuju puncak konflik, munculnya gesekan antarkarakter, dan munculnya pilihan-pilihan sulit. Sedangkan pada bagian resolusi dikembangkan konflik cerita sampai pada penyelesaian konflik.

Baca juga:  Replika dari Botol Plastik Pelajari Respirasi Jadi Menarik

Untuk pembagian jumlah rancangan bab, digunakan pembagian sebagai berikut. Misalkan, dari masing-masing bagian, pemanasan, konfontrasi, dan resolusi, dikembangkan dalam tiga bagian, maka akan didapatkan sembilan bab cerita. Tetapi, peserta didik masih dapat mengembangkan bagian-bagian itu menjadi bagian yang lebih kompleks lagi sehingga diperoleh bab yang lebih banyak lagi.

Walaupun dengan pembelajaran jarak jauh berbantuan WhatsApp grup, peserta didik mendapatkan bimbingan guru untuk merancang novel dengan baik. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik pun dapat diatasi dengan baik. Pembelajaran makin seru ketika peserta didik saling menukar rancangan novelnya dan mendapat masukan dari peserta didik lain. Dengan pemanfaatan teknik three act story structure, peserta didik mampu merancang sebuah novel yang memiliki alur cerita menarik dan beberapa rancangan bahkan memiliki kejutan-kejutan dalam ceritanya. (pm1/lis)

Baca juga:  Tingkatkan Aktivitas Belajar Bahasa Indonesia dengan Model Jigsaw

Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Bobotsari, Kabupaten Purbalingga.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya