alexametrics

Asyiknya Belajar Menulis Aksara Jawa dengan Estafet Writing

Oleh: S. Rawuh Triyugowati, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MENULIS merupakan keterampilan berbahasa yang mempunyai peran yang sangat penting dan mendasar. Kemampuan menulis aksara Jawa adalah kemampuan yang dimiliki para siswa dalam mengorganisasi gagasan yang berupa aksara Jawa secara sistematik, sehingga pembaca dapat memahaminya. Menurut Kaswanto(2008:15) dalam menulis aksara Jawa dibutuhkan adanya pemahaman, ketelitian, dan keterampilan-keterampilan khusus supaya bisa menulis aksara Jawa dengan baik dan benar. Salah satu materi pokok Bahasa Jawa yang dipelajari oleh siswa kelas X adalah menulis aksara jawa. Materi ini mencakup Kompetensi Dasar (KD) 3.5 yaitu Mengidentifikasi kaidah penulisan aksara Jawa dalam dua paragraf yang menggunakan aksara angka, dan Kompetensi Dasar (KD) 4.5 yaitu Menulis dan menyajikan dua paragraf berhuruf Jawa yang menggunakan aksara angka.

Berbagai masalah dihadapi siswa kelas X dalam aktivitas pembelajaran menulis aksara jawa di SMKN 1 Tegal yang dapat mempengaruhi peningkatan prestasi belajar. Kurangnya keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab, dan memberikan tanggapan dalam kegiatan pembelajaran menjadikan aktifitas yang berlangsung terkesan hanya searah (teacher center). Siswa cenderung merasa jenuh dan bosan sehingga Hasil nilai rata rata pembelajaran Bahasa Jawa yang diperoleh siswa masih tergolong rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dibutuhkan media belajar menarik yang mampu meningkatkan aktifitas kelas dan ketuntasan dalam pembelajaran Bahasa Jawa.

Baca juga:  Membiasakan Berbahasa Jawa Tingkatkan Motivasi Peserta Didik

Menurut Cahyono (2011:51) penerapan metode Estafet Writing (menulis berantai) akan lebih efektif untuk pembelajaran menulis karena peserta didik akan lebih termotivasi dengan belajar secara kelompok dibanding belajar secara individu. Metode estafet writing termasuk salah satu metode active learning atau learning by doing yang bertujuan agar peserta didik mengasosiasikan belajar sebagai sebuah kegiatan yang menyenangkan. Penerapan metode estafet writing merupakan salah satu sarana untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Hal ini dapat terjadi karena dengan penerapan metode yang tepat, memungkinkan proses pembelajaran tidak hanya berjalan satu arah atau hanya didominasi oleh guru dengan metode ceramah.

Berdasarkan pendapat Masruroh (2014:12), pembelajaran menggunakan metode pembelajaran estafet writing adalah siswa bekerja di dalam kelompok. Setiap anggota kelompok menuangkan perasaannya ke dalam satu teks dengan tema dan judul yang sama. Metode pembelajaran estafet writing menerapkan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, siswa bekerja secara berkelompok diminta menentukan sebuah tema yang akan dikembangkan menjadi sebuah paragraf berhuruf Jawa yang menggunakan aksara angka. Kedua, Setelah siswa menyelesaikan penggalan karangan tersebut, mereka diminta untuk menyerahkan kertas yang berisi penggalan paragraph dengan tulisan aksara jawa tersebut kepada guru kemudian guru membagikannya kembali secara acak. Ketiga, bagi siswa yang menerima kertas yang berisi karangan diminta membaca hasil tulisan yang telah diacak dan kemudian setiap siswa diminta meneruskan (menyambung) Paragraf berhuruf Jawa dengan menggunakan aksara angka. Keempat, Setelah kegiatan tulis berantai selesai, setiap siswa diminta mengumpulkan kertas tersebut kepada guru. Diakhir sesi, guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran.

Baca juga:  Belajar Mudah Aksara Angka dengan Media Denah Rumah

Keberhasilan suatu proses pembelajaran ditunjukkan oleh hasil belajar siswa. Dari hasil pembelajaran Bahasa Jawa pada KD.3.5 dan 4.5 tentang Menulis Aksara Jawa di SMK Negeri 1 Tegal dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan Metode Estafet Writing. Hal ini ditujukan pada hasil perhitungan persentase rata rata nilai kelas dalam penilaian harian yang bisa mencapai angka ketuntasan hingga 87,5 %. Selain itu aktifitas pembelajaran Bahasa Jawa di kelas pun menjadi aktif karena seluruh siswa ikut berpartisipasi dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran Bahasa Jawa lebih terasa menyenangkan. (gb1/zal)

Guru SMKN 1 Tegal

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya