alexametrics

Meningkatkan Prestasi Belajar PKn Melalui Model TPSq

Oleh : Slamet Siswanto, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan karakter menekankan pada keteladanan penciptaan lingkungan dan pembiasaan melalui berbagai tugas keilmuan dan kegiatan kondusif. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah salah satu muatan pelajaran yang mencakup kepribadian dan wawasan akan status, hak, dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Serta peningkatan kualitas diri sebagai manusia.

Oleh sebab itu PKn merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting untuk diajarkan pada jenjang sekolah dasar. Menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi tertulis, “Pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.”
Dapat disimpulkan muatan pelajaran PKn dapat membentuk siswa menjadi lebih menghargai sesama dan meningkatkan rasa persatuan dalam berbangsa.

Seorang guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan inovatif menggunakan pendekatan, model, metode, dan strategi yang sesuai karakteristik siswa. Sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan dan prestasi belajar siswa dapat meningkat juga agar potensi yang dimiliki bisa dikembangkan peserta didik.

Baca juga:  Memahami Konsep Tekanan Zat Padat melalui Praktikum Mandiri saat PJJ

Sama halnya yang terjadi di SD Negeri 02 Jatiroyom terutama kelas V pada mata pelajaran PKn. Banyak siswa yang sulit menjelaskan kembali materi-materi yang telah disampaikan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang masih rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut guru mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPSq (tink-pair-square). Model ini merupakan modifikasi dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS (tink-pair-share) yang kemudian dikembangkan Spencer Kagan pada tahun 1933.

Think-pair-square memberikan kesempatan kepada siswa mendiskusikan ide-ide mereka dan memberikan pengertian bagi mereka untuk melihat cara lain dalam menyelesaikan masalah. Jika sepasang siswa tidak dapat menyelesaikan permasalahanya maka sepasang siswa yang lain dapat menjelaskan cara menjawabnya. Jika permasalahan yang diajukan tidak memiliki suatu jawaban benar, maka dua pasang dapat mengombinasikan hasil mereka dan membentuk suatu jawaban yang lebih menyeluruh.

Baca juga:  Kuasai Permainan Bola Besar dengan Metode Part Practice

Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Square digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan mendorong siswa untuk berbagi informasi dengan siswa lain.

Ada perbedaan TPSq (Think-Pair-Square) dengan pendekatan TPS (Think-Pair-Share) yaitu pada proses pengelompokannya. Pada Think-Pair-Share proses pengelompokannya terjadi satu kali sedangkan Think-Pair-Square proses pengelompokannya terjadi dua kali yaitu adanya penggabungan dua kelompok menjadi satu kelompok. Seperti halnya model pembelajaran yang lainya model pembelajaran kooperatif tipe TPSq (Think-Pair-Square) memiliki keunggulan dan kekurangan.

Keunggulan model pembelajaran kooperatif tipe TPSq (Think-Pair-Square) di antaranya optimalisasi partisipisasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dan memberi kesempatan kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada siswa lain.

Siswa dapat meningkatkan motivasi dan mendapatkan rancangan untuk berpikir sehingga mampu mengembangkan kemampuannya dalam menguji ide dan pemahamannya sendiri. Siswa lebih banyak berdiskusi. Baik pada saat berpasangan dalam kelompok berempat maupun dalam diskusi kelas. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa untuk berusaha mengerjakan tugas dengan baik.

Baca juga:  Menganalisis Dinamika Atmosfer dengan Metode Team Assisted Individualization

Sedangkan kelemahannya, guru harus pandai mengatur waktu sehingga setiap tahapan dapat dilalui. Guru juga harus dapat menyosialisasikan setiap tahapan berlangsung lebih baik. Model pembelajaran kooperatif tipe TPSq menekankan pada pembelajaran kooperatif yang melibatkan lebih banyak siswa dalam kelompok-kelompok untuk bekerja sama dan saling membantu dalam memahami materi.

Siswa yang bekerja dalam kelompok secara kooperatif akan lebih cepat dalam menuntaskan materi belajarnya. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, rendah. Penghargaan pada proses pembelajaran kooperatif tipe TPSq lebih diorientasikan pada kelompok daripada individu. Oleh karena itu diharapkan model pembelajaran tipe TPSq dapat meningkatkan peran aktif dan prestasi belajar PKn pada siswa kelas V. (pg2/lis)

Guru SD Negeri 02 Jatiroyom, Bodeh, Pemalang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya