alexametrics

Tingkatkan Pemahaman Operasi Bilangan Pecahan dengan Realistic Mathematics Education

Oleh : Ulinnuha, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Keberhasilan pendidikan tidak pernah terlepas dari kegiatan belajar dan pembelajaran yang merupakan kegiatan inti dari proses pencapaian hasil belajar. Hasil belajar merupakan tolok ukur maksimal yang telah dicapai siswa setelah melakukan belajar selama waktu yang telah ditentukan dan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah melakukan proses pembelajaran. Hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Matematika juga merupakan subjek yang sangat penting dalam sistem pendidikan di seluruh dunia. Pembelajaran matematika di sekolah masih mengikuti kebiasaan dengan urutan diterangkan, diberikan contoh, dan diberikan latihan soal. Artinya guru lebih aktif dari pada siswa.

Proses pembelajaran seharusnya interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Hal ini menunjukkan dalam pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi mengajar sekaligus melibatkan peran aktif siswa dalam proses pembelajarannya.

Baca juga:  Tantangan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Untuk menciptakan pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, pembelajaran matematika khususnya materi penjumlahan dan pengurangan pecahan pada siswa kelas V SDN 16 Mulyoharjo menerapkan metode RME atau Realistic Mathamatics Education.

Menurut Ahmad Susanto (Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, 2013 : 205) RME merupakan salah satu model pembelajaran matematika yang berorientasi pada siswa. Bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa ke pengalaman belajar yang berorientasi pada hal-hal yang real atau nyata.
Model pembelajaran RME adalah pembelajaran matematika di sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran.

Langkah-langkah di dalam proses pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik adalah sebagai berikut: memahami masalah kontekstual. Guru memberikan masalah (soal) kontekstual dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan pecahan, penjumlahan dan pengurangan pecahan dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut.

Baca juga:  Mengenal Sifat-Sifat Bangun Persegi Panjang dengan Susu Kotak

Menjelaskan masalah kontekstual jika situasi siswa macet dalam penyelesaian masalah, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya pada bagian-bagian tertentu yang belum dipahami oleh siswa. Penjelasan hanya sampai siswa mengerti maksud soal. Langkah ini ditempuh saat siswa mengalami kesulitan memahami masalah kontekstual. Pada langkah ini guru memberikan bantuan dengan memberi petunjuk atau pertanyaan seperlunya yang dapat mengarahkan siswa untuk memahami masalah.

Menyelesaikan masalah kontekstual pada tahap ini siswa didorong menyelesaikan masalah kontekstual secara individu berdasar kemampuannya dengan memanfaatkan petunjuk-petunjuk yang telah disediakan. Siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal dengan tingkat kesulitan yang berbeda.

Baca juga:  WAG Sarana Memahami Distribusi Peluang Binomial dan Fungsi Peluang Binomial

Dengan pembelajaran di atas, siswa mencoba berbagai alternatif pemecahan masalah dengan kemampuan yang dimiliki serta referensi yang dipunyai. Pemahaman terhadap permasalahan untuk masing-masing peserta didik beragam, sehingga cara menyelesaikannya juga menjadi beragam.

Setelah siswa mempresentasikan penyelesaian masalah yang diberikan, guru bersama-sama siswa membahas keragaman tersebut untuk diarahkan kepada penyelesaian yang benar tanpa memaksakan terhadap satu cara penyelesaian masalah. Sehingga dapat dijadikan referensi siswa di saat menghadapi permasalahan yang sama atau soal yang sama.

Metode ini sangat bermanfaat bagi siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru saat evaluasi. Matode ini terbukti sangat membantu siswa dalam memahami cara menyesaikan permasalahan dengan soal cerita dan menemukan berbagai alternatif dalam menjawab pertanyaan tersebut. (agu2/lis)

Guru SDN 16 Mulyoharjo Pemalang.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya